Orkes Sinten Remen Tanpa Djaduk Ferianto di Festival Kebudayaan Yogyakarta
TEMPO.CO | 26/09/2020 17:30
Pertunjukan Orkes Musik Keroncong “Ora Obah, Ora Mamah” Sinten Remen bersama penyanyi keroncong Endah Laras secara virtual di ajang Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2020 pada Kamis, 24 September 2020. (Foto: dok .FKY)
Pertunjukan Orkes Musik Keroncong “Ora Obah, Ora Mamah” Sinten Remen bersama penyanyi keroncong Endah Laras secara virtual di ajang Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2020 pada Kamis, 24 September 2020. (Foto: dok .FKY)

TEMPO.CO, Yogyakarta -Grup musik keroncong bentukan almarhum seniman Djaduk Ferianto, Sinten Remen, menjadi salah satu pertunjukkan andalan di perhelatan Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2020. Kelompok musik yang beranggotakan 12 orang ini menggelar pertunjukkan bertajuk Ora Obah, Ora Mamah dengan menggandeng penyanyi keroncong populer Endah Laras pada 24 September 2020.

Pertunjukkan itu ditayangkan secara virtual akibat pandmi Covid-19 dari Gedung Layang-layang, Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK) Yogyakarta. Sejumlah tembang pun digeber kelompok musik keroncong yang sudah menghasilkan sejumlah album, salah satunya adalah OmDo.

Penampilan Sinten Remen dimulai dengan tembang berjudul We Gaan Naar Zandvoort Aan De Zee (Tanjung Perak), disusul lagu-lagu populer seperti Aja Gela dan I yang dibawakan secara enerjik sang penyanyi Sinten Remen, Silir Wangi, bersama Endah Laras.

Kelompok Sinten Remen mengakui, dalam penampilannya kali ini, mereka merasakan sesuatu yang sangat berbeda karena tidak adanya sosok Djaduk Ferianto di sisi mereka lagi. Maklum saja, dalam setiap penampilan Sinten Remen, adik seniman Butet Kartaradjesa itu memang yang kerap tampil sebagai pemimpin juga teman duet sang vokalis di atas panggung.

"Ya kami masih merasa kehilangan Mas Djaduk. Terlebih saat Mbak Endah Laras menyanyikan lagu Syair Kerinduan itu, kan biasanya duet bersama Mas Djaduk, sekarang jadi sedikit hampa," ujar Silir Wangi, Kamis, 24 September 2020 petang.

Baik Endah Laras maupun seluruh anggota Sinten Remen merasakan kerinduan pada sosok Djaduk. Mereka masih meneladani hal-hal baik yang diwariskan almarhum seperti kedisplinan dan kreativitasnya dalam berkarya.Djaduk Ferianto. Foto/Shinta Maharani

Violin Sinten Remen, Fafan Isfandiar mengungkapkan, meskipun sosok Djaduk sudah tidak bersama mereka lagi, mereka saat ini tetap bersemangat untuk terus membuat karya-karya baru. Itu sebagai wujud kecintaan mereka terhadap almarhum dan Sinten Remen. "Seperti halnya judul tema FKY 2020 ini, Akar Hening di Tengah Bising, kami yang berada di tengah keramaian situasi saat ini pun tidak melupakan akar yang sudah menopang kami. Akar itu dalam hal ini adalah Mas Djaduk,” ujar Fafan.

Menurut Fafan, semangat Djaduk, tetap ada di dalam diri para personil Sinten Remen dan mendorong mereka untuk terus melanjutkan karya-karya lainnya dalam jalur musik keroncong. Selama pandemi dan sepi job manggung, Sinten Remen memilih menggunakan waktunya untuk menciptakan sejumlah lagu untuk album baru mereka. Setiap hari Rabu malam dalam program Malam Kamisan, Sinten Remen, Endah Laras, dan seniman musik lainnya juga masih menghibur penggemarnya lewat live instagram.

Penyanyi keroncong Endah Laras menuturkan, ini pertama kalinya ia tampil di panggung FKY. Meskipun hanya dapat menghibur penonton secara virtual, Endah mengaku tetap senang dan semangat menampilkan yang terbaik. "Ini berbeda sekali ya, biasanya ada banyak penonton di depan panggung, sekarang tidak,” ujarnya.

Meski demikian, Endah menuturkan sisi positif dari pertunjukkan virtual itu di tengah pandemi seperti sekarang ini karena dirinya dan Sinten Remen tetap bisa berkarya dan menghibur masyarakat.

Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Adat, Tradisi, Lembaga Budaya dan Seni Dinas Kebudayaan DIY Eny Lestari Rahayu yang turut hadir dalam kesempatan tersebut mengatakan, penyelenggaraan FKY 2020 ini menjadi ajang untuk menunjukkan eksistensi seniman di masa pandemi.

“Berkesenian itu bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun, tidak memandang jarak, waktu, dan cuaca. Terlebih saat masa krisis, aktivitas seni bisa dilakukan untuk menunjukkan eksistensi dan perjuangan seniman di masa pandemi,” ujar Eni.

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT