Prosesi “Batuka Tando” di Acara Lamaran Atta Halilintar dan Aurel
LANGGAM.ID | 14/03/2021 09:19
Prosesi “Batuka Tando” di Acara Lamaran Atta Halilintar dan Aurel
Aurelie Hermansyah dan kekasihnya Atta Halilintar menggungah foto prewedding menjelang acara lamaran pada Sabtu, 13 Maret 2021. Berita pernikahan putri sulung Anang Hermansyah dan putra sulung dari keluarga Gen Halilintar ini disambut antusias oleh para penggemarnya. Instagram/@Aurelie.hermansyah

Langgam.id – Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah telah selesai melangsungkan acara lamaran di Hotel Intercontinental, Jakarta, Sabtu (13/3/2021) siang. Konsep acara ini menggabungkan tradisi masing-masing, di mana Atta berasal dari Minang dan Aurel dari Jawa.

Hal ini terlihat ketika prosesi “batuko tando” atau memberikan seserahan.
Saling memberikan benda sebagai tanda ikatan ini sesuai dengan hukum perjanjian pertunangan menurut adat Minangkabau.

“Makna dua keluarga calon pengantin bertukar barang dijadikan barang simbol kesepakatan minang atau khitbah. Kini sudah terikat nggak cuma pengantin tapi keluarga dua belah pihak,” kata pembawa acara lamaran dikutip dari Ikatan Cinta Atta & Aurel Spesial Lamaran RCTI, Sabtu (13/3/2021).

Prosesi batuka tando bukan hanya bermakna kedua calon memperlai yang telah ada keterikatan dan pengesahan, tetapi juga kedua belah pihak keluarga. Jadi tidak bisa lagi memutuskan secara sepihak perjanjian yang telah disepakati.

Sama seperti lamaran pada umumnya, biasanya benda-benda seserahan diletakkan dalam suatu wadah (carano) yang dihias. Biasanya benda-benda yang dibawa berupa sirih pinang lengkap.

Sirih yang dibawa memiliki makna filosofis apabila ada kekurangan atau kejanggalan tidak akan menjadi gunjingan. Selain sirih,, pihak wanita juga membawa kue manis dan buah-buahan. Kue-kue manis tersebut perlambang bahwa hal-hal yang manis selama pertemuan akan melekat dan diingat selamanya.

Selanjutnya, apabila lamaran diterima, kemudian berlanjut dengan “batuka tando”” ikatan masing-masing. Barang-barangg yang ditukarkan biasanya benda pusaka seperti keris, kain adat, atau benda lain yang bernilai historis bagi keluarga.

Jadi, barang yang ditukar dalam prosesi tersebut bukan dinilai dari kebaruan dan haarga, melainkan dari sejarahnya. Nantinya, setelah proses akad selesai barang tersebut dikembalikan lagi dalam suatu acara resmi oleh kedua belah pihak.

Lazimnya, dibawa juga buah tangan berupa kue-kue atau buah-buahan sebagai oleh-oleh. Sebagian masyarakat Bukittinggi saat meminang, mamak dari pihak laki-laki menyiapkan rokok daun anau diisi dengan tembakau yang dibawa dengan kampia (wadah pipih yang dibuat dari daun lontar atau daun anau).(*/Ela)

langgam.id


BERITA TERKAIT