Liga Primer Inggris: Dilanjutkan Tanpa Penonton dan Skenario Lain
TEMPO.CO | 16/04/2020 20:36
Pemain West Ham United Pablo Fornals, melakukan selebrasi setelah mencetak gol ke gawang Liverpool dalam pertandingan Liga Inggris di Anfield, Liverpool, 25 Februari 2020. REUTERS
Pemain West Ham United Pablo Fornals, melakukan selebrasi setelah mencetak gol ke gawang Liverpool dalam pertandingan Liga Inggris di Anfield, Liverpool, 25 Februari 2020. REUTERS

TEMPO.CO, Jakarta - Pengelola Liga Primer Inggris dan pengurus 20 klub mereka akan mengadakan rapat melalui video Jumat ini, 17 April 2020, untuk membahas sisa musim ini yang rata-rata untuk setiap klub tinggal menyisakan sembilan atau 10 pertandingan lagi.

Pada keadaan normal biasanya kompetisi berakhir Mei-Juni. Juli pramusim dan Agustus memasuki awal kompetisi baru. Tapi, pandemi virus cona membuat liga dihentikan pada 12 Maret dan untuk saaat ini tak ada yang bisa memastikan kapan tepatnya pertandingan bisa dilanjutkan lagi.

Sejak Kamis, 16 April 2020, di sejumlah media di Inggris, sudah terungkap ada diskusi informal di antara beberapa klub bawa akan diusulkan liga musim ini harus diselesaikan selambat-lambatnya 30 Juni.

Sebelum melangkan lebih jauh, hampir pasti Liga Primer Inggris, jika bisa dilanjutkan, akan berlangsung secara tertutup. Penonton dilarang datang ke stadion.

Tak ada kompromi sekalipun sudah lama terpaku sebuah prinsip bahwa sepak bola tanpa penonton dan suporter adalah bukan sepak bola yang sebenarnya.

Bahkan lebih dari itu, sudah usulan bahwa kalaupun Liga Primer Inggris, seluruh pemain dari 20 tim, manajer, wasit, dan perangkat pertandingan harus menjalani tes virus corona terlebih dulu.

Protokol kesehatan akan dijalan secara ketat mengikuti kaidah-kaidah yang diterapkan dalam menghadapi virus corona. Dan, bukan berlebihan, kalau seluruh fasiltas stadion mungkin akan dibersihkan dengan disinfektan.

Mengingat kondisi darurat, di beberapa media di Inggris juga berkembang gagasan bahwa penyelesaian Liga Primer Inggris 2019-2020 tak bisa diselesaikan secara ideal sebagaimana layaknya, yaitu kompetisi penuh dengan sistem kandang dan tandang.

Karena itu, hanya beberapa stadion yang digunakan, dan tim-tim yang bertanding dilokalisir atau dipusatkan di satu atau beberapa tempat, tidak menyebar seperti biasanya.

Hal ini mengingatkan model turnamen Liga Champins atau pada era Kompetisi Persikatan PSSI tempo dulu. Ada babak delapan besar, perempat final, dan seterusnya.

Bedanya ini adalah menyiasati bagaimana menyelesaikan sembilan sampai 10 pertandingan yang mesti dimainkan masing-masing dari 20 tim. Kemungkinan ada perampingan dan modifikasi. Intinya kompetisi, meminjam kata-kata Claudio Ranieri yang kini melatih Sampdoria di Seri A Liga Italia, tak akan berjalan ideal lagi dan pasti menimbulkan kontroversi.

Usulan lain untuk memindahkan lanjutan Liga Primer Inggris 2019-20 ini di Cina juga tak muncul lagi. Mungkin, karena Cina juga belum benar-benar bebas dari virus corona.

Tapi, jika Liga Primer Inggris dan 20 klubnya berkeras menyelesaikan sisa laga secara normal secara tertutup patut ditunggu realisasinya. Yang jelas badan sepak bola Eropa, UEFA, sudah menegaskan mereka memprioritaskan liga-liga domestik, seperti Liga Primer Inggris ini menyelesaikan urusannya. Setelah itu baru dipikirkan soal Liga Champions dan Liga Europa.   

 

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT