Normal Baru, Bundesliga Jerman, Liga Primer Inggris, dan Koperasi
TEMPO.CO | 25/05/2020 17:35
Pemain Arsenal, Pierre-Emerick Aubameyang saat mengikuti sesi latihan. Liga Primer Inggris rencananya akan dimainkan lagi pada Juni 2020. Namun tanggal pastinya belum diputuskan. arsenal.com
Pemain Arsenal, Pierre-Emerick Aubameyang saat mengikuti sesi latihan. Liga Primer Inggris rencananya akan dimainkan lagi pada Juni 2020. Namun tanggal pastinya belum diputuskan. arsenal.com

TEMPO.CO, Jakarta - Setelah tumbuh berkembang menjadi industri sepak bola terbesar di dunia, Liga Primer Inggris kini harus mengevaluasi keberadaan dirinya di tengah situasi kehidupan normal yang baru dalam masa pandemi virus corona.

Pertandingan di stadion-stadion yang kosong karena penonton/suporter dilarang hadir demi mencegah virus corona, mengurangi sebagian besar pendapatan utama dari mitra perusahaan penyiaran televisi berbayar, terutama di klub-klub besar atau papan atas.

Di klub-klub papan bawah, kerugian akan lebih terasa karena kerja sama soal hak siar yang mereka dapatkan tidak sebesar klub-klub papan atas.

Di sisi lain, tidak semua penonton/suporter tidak memiliki akses yang berlebih untuk mendapatkan siaran-siaran eksklusif dari para perusahaan stasiun televisi berbayar.

Di tengah penyelesaian kontrak dengan para pemegang hak siar televisi untuk musim 2019-2020 yang rumit dan bernilai sampai triliunan rupiah itu, pemerintah Inggris sudah merancang adanya tayangan televisi yang bisa diakses secara gratis untuk semua pertandingan tersisa pada saluran stasiun televisi.

Liverpool, Manchester United, Chelsea, Manchester City, Arsenal, dan klub-klub yang selama ini memiliki daya jual tinggi di kalangan perusahaan penyiaran televisi tidak akan ada artinya jika rekan-rekannya di papan bawah rontok sehingga akan mengancam keberadaan Liga Primer Inggris, sebuah revitalisasi divisi tertinggi di Liga Inggris yang dibangun pada 1992.

Pada dasarnya, 20 klub di Liga Primer Inggris dibayangi-bayangi kerugian besar karena pandemi virus corona. Karena itu, situasi kehidupan normal yang baru mengharuskan mereka lebih meningkatkan kerja sama untuk saling tolong-menolong dalam iklim kompetisi yang tetap kompetitif.

Sistem koperasi itu sudah lama dikembangkan di Bundesliga Jerman dan Nurdin Halid ketika masih menjadi ketua umum PSSI –lepas dari segala sisi kontroversinya- pernah mengungkapkan keinginannya Liga Indonesia meniru Bundesliga Jerman dalam percakapan dengan sejumlah wartawan pada periode 2000-an.  

Bayern Munich, yang disebut raksasa Bavarian dan rajanya Bundesliga Jerman, Borussia Dortmund, dan sejumlah klub lainnya di sana punya kerja sama dengan klub-klub papan bawah. Ketika masa pandemi virus corona, para klub papan atas Bundeliga tersebut juga melakukan sejumlah pemotongan, termasuk soal gaji, untuk bisa menyumbangkan sebagian uangnya buat klub-klub yang tidak memiliki nama besar menjual seperti mereka. Tujuanya agar Bundesliga tidak ambruk.

Kini kita melihat Bundesliga, juga berkat kesigapan pemerintah Jerman mengantisipasi merebaknya virus corona, menjadi pelopor dari dimulainya kembali pertandingan liga di Eropa.

Setelah melalui perdebatan sengit dan rumit, Liga Primer Inggris kini bertekad mengikuti jejak Bundesliga Jerman karena harus ada kapal besar yang diselamatkan bernama sebuah kompetisi meski harus dijalani dengan “berdarah-darah” untuk menyelesaikan kewajiban kontrak yang sudah ditandatangani dengan para perusahaan raksasa penyiaran televisi.

    

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT