Ini Kata Guru Besar Statistik Soal Mudik dan Puncak COVID-19
TEMPO.CO | 26/04/2020 08:54
Calon penumpang KA Serayu tujuan Purwokerto mengantre masuk ke dalam Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Kamis 30 Mei 2019. Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kemenhub memprediksi pemudik yang menggunakan  jasa angkutan kereta api mengalami peningkatan pada 29
Calon penumpang KA Serayu tujuan Purwokerto mengantre masuk ke dalam Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Kamis 30 Mei 2019. Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kemenhub memprediksi pemudik yang menggunakan jasa angkutan kereta api mengalami peningkatan pada 29 Mei hingga 4 Juni dengan puncak arus mudik pada Jumat, 31 Mei. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

TEMPO.CO, Yogyakarta - Gelombang pulang kampung atau mudik harus dihindari karena dapat memicu akhir pandemi COVID-19 mundur lagi dari perkiraan. Awalnya, pandemi diperkirakan sudah akan berakhir di Indonesia pada akhir Mei nanti, tapi kemudian diperbarui menjadi  akhir Juli.

Peringatan itu disampaikan Guru Besar Statistika Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Dedi Rosadi. Menurutnya, fenomena mudik pada Mei 2020 secara massif atau bentuk migrasi lain dari daerah pusat penyebaran, khususnya daerah zona merah, sangat berpotensi ditunggangi virus.

"Bisa menyebabkan perkiraan laju tambahan jumlah kasus di setiap wilayah akan berbeda-beda yang akan mempengaruhi time line dan nilai akhir total prediksi nasional," kata Dedi melalui keterangan tertulis di Yogyakarta, Sabtu 25 April 2020.

Larangan kegiatan mudik khusus untuk Lebaran tahun ini oleh pemerintah, kata Dedi, sudah sejalan dengan upaya pengendalian risiko wabah virus corona 2019. Bila ditaati, dia menambahkan, akan menghambat tumbuhnya klaster-klaster penyebaran baru di seluruh Indonesia.

"Tumbuhnya klaster-klaster baru perlu dicegah agar wabah tidak mundur lebih lama ke belakang yang berakibat akhir wabah di setiap wilayah akan berbeda-beda," kata Dedi.

Sebelumnya, berdasarkan data pemerintah sampai 26 Maret 2020, Dedi dan tim telah merilis prediksi sementara akhir pandemi terjadi pada akhir Mei 2020 dengan total penderita positif COVID-19 mencapai 6.174 kasus. Namun, mengacu ke data publikasi terbaru pemerintah hingga 23 April 2020, persebaran COVID-19 di Indonesia diprediksi mencapai puncaknya pada Mei 2020 dan kemudian mereda pada akhir Juli 2020 dengan perkiraan proyeksi total penderita positif COVID-19 di angka 31 ribuan kasus.

 

Kendaraan pemudik terjebak macet di Tol Cikampek, Jawa Barat, Jumat, 7 Juni 2019. Pada H+2 lebaran, Tol Cikampek mulai dipadati kendaraan pemudik yang akan kembali ke Jakarta. ANTARA/Rivan Awal Lingga

 

Dedi menerangkan, prediksi itu menggunakan pemodelan probabilistik dengan dasar data nyata atau probabilistik data-driven model (PDDM), dengan asumsi waktu puncak tunggal. "Prediksi tersebut bersifat sementara dan diperbarui berkala sesuai data yang ada untuk prediksi jangka panjang," katanya.

Dedi memaparkan ada hal selain aktivitas mudik yang harus diwaspadai dalam beberapa waktu ke depan yang berpotensi mengubah time line persebaran virus corona COVID-19 menjadi lebih cepat atau lebih lambat dari yang diprediksikan. Hal lain itu adalah berkaitan usaha mengubah kecepatan penularan melalui pengendalian yang efektif terhadap episentrum penyebaran virus yang telah ada, khususnya kelompok provinsi-provinsi zona merah.

"Jika pengendalian tidak berhasil dilakukan maka time line wabah akan mundur dan jumlah penderita yang lebih besar dari prediksi sementara masih mungkin terjadi," kata dia.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT