Shi Zhengli, Bat Woman Terjebak di Pusaran Asal Usul Covid-19
TEMPO.CO | 25/05/2020 17:27
Shi Zhengli. Dailymail.co.uk
Shi Zhengli. Dailymail.co.uk

TEMPO.CO, Jakarta - Beberapa sampel dari pasien dengan penyakit misterius tiba di Institut Virologi Wuhan malam-malam, 30 Desember  2019. Beberapa saat kemudian ponsel Shi Zhengli bergetar. Panggilan tertera berasal dari direktur institut, bos Shi.

Sambungan telepon itu menyebutkan kalau Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Wuhan telah mendeteksi infeksi virus corona tak dikenal pada dua pasien rumah sakit  pengidap penyakit mirip pneumonia. Mereka, sebut sang bos, ingin laboratorium Shi menelitinya.

Jika temuan terkonfirmasi, patogen baru itu disadari bisa memberi ancaman serius bagi kesehatan publik. Alasannya, virus berasal dari keluarga yang sama yang telah menyebabkan sindrom pernapasan akut parah (SARS), sebuah penyakit yang menyebabkan 8.100 orang sakit dan 800 di antaranya meninggal 2002-2003 lalu.

“Tinggalkan apapun yang sedang kamu kerjakan sekarang ini dan tangani kasus ini segera," katanya mengingat instruksi sang direktur. 

Shi, seorang virolog  yang dikenal di antara koleganya sebagai Bat Woman karena ekspedisinya berburu virus ke goa-goa kelelawar selama 16 tahun itu langsung meninggalkan konferensi yang sedang diikutinya di Shanghai. Dia langsung mengejar jadwal kereta kembali ke Wuhan.

 

Laboratorium virologi di Wuhan, Cina . [ZERO HEDGE]

 

Sepanjang perjalanan, Shi mengenang kembali temuannya pada 2015 bahwa virus mirip SARS ternyata berasal dari kelelawar. Temuannya kala itu terkonfirmasi dari susunan genetik yang identik hingga 97 persen antara virus corona pada musang di Guangdong dengan yang ditemukan pada kelelawar tapal kuda dari Goa Shitou. 

Dia berharap temuan infeksi virus mirip SARS di Wuhan itu keliru. Dia menyatakan tidak pernah berharap hal semacam itu bisa terjadi di Wuhan di wilayah pusat Cina.

Itu karena hasil studinya selama ini menunjukkan kalau provinsi subtropis di wilayah selatan seperti Guangdong, Guangxi, dan Yunnan yang berisiko lebih besar dari lompatan virus corona ke manusia dari hewan, terutama kelelawar—inang terkenal untuk virus patogen.

Jika benar virus corona yang berada di balik penyakit misterius di Wuhan, dia ingat pertanyaan ini sudah langsung muncul di benaknya dalam perjalanan menumpang kereta saat itu: Mungkinkah mereka (virus) berasal dari laboratorium kami?

Pertanyaan itu yang kini disuarakan sebagian masyarakat di dunia ketika virus berhasil ke luar dari Cina dan menciptakan pandemi dengan cepat. Per artikel ini dibuat Penyakit Virus Corona 2019 (Covid-19) itu terhitung telah menjangkiti 5,4 juta orang di dunia dan 345 ribu di antaranya meninggal.

Pertanyaan menguat karena Shi dilaporkan sempat menghilang. Hingga 
Pada 2 Februari lalu, Shi muncul di media sosial WeChat, menulis, “Sumpah mati, virus itu tidak ada kaitannya dengan laboratorium.”

Sebulan kemudian muncul kabar Shi membelot, kabur dari Cina, dengan membawa serta hasil riset rahasianya selama bertahun-tahun tentang virus corona dari kelelawar. Isu yang sempat terembus, Shi mencari suaka ke Kedutaan Besar Amerika Serikat di Paris.

Namun Shi kembali muncul di WeChat, membantah rumor itu. “Betapapun sulitnya situasi sekarang bagi saya, (pembelotan) itu tidak akan pernah terjadi,” katanya.

Dia kembali menegaskan bahwa laboratoriumnya tidak melakukan kesalahan apapun. “Dengan keyakinan yang kuat terhadap sains, kami akan melihat hari di mana awan gelap terurai dan matahari kembali bersinar,” tulisnya sambil menyertakan sembilan unggahan foto bukti keberadaannya di Wuhan.

Sebagian lalu bertanya-tanya apakah otoritas Cina yang menyebabkannya menghilang. Dugaan ini mengingatkan kepada perlakuan yang diterima sejumlah dokter saat mengungkap pasien pertama penyakit misterius mirip SARS tersebut pada akhir tahun lalu. Tapi inipun dibantah Shi, juga lewat WeChat. “Semuanya baik-baik saja untuk saya dan keluarga saya,” tulisnya.

Terbaru, Shi mengungkap hasil riset terbarunya yang kembali menegaskan kalau SARS-CoV-2, virus penyebab Covid-19, buah evolusi alami. Dia menyebutkan virus berasal dari kelelawar tapal kuda berdasarkan keragaman genetiknya. Kelelawar jenis itu adalah juga inang dari virus penyebab kematian 25 ribu babi pada 2016-2017 lalu.

SCIENTIFICAMERICAN | WIONEWS


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT