Epidemiolog: Klaster Penularan Covid-19 di Transportasi Publik Belum Terbukti
TEMPO.CO | 04/08/2020 04:55
Gubernur Jawa Barat sekaligus Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Jawa Barat Ridwan Kamil (kiri) bersama Wali Kota Bogor Bima Arya (kanan) berada di dalam gerbong KRL Commuter Line saat memantau pelaksanaan rapid test massal di Stasiun Bo
Gubernur Jawa Barat sekaligus Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Jawa Barat Ridwan Kamil (kiri) bersama Wali Kota Bogor Bima Arya (kanan) berada di dalam gerbong KRL Commuter Line saat memantau pelaksanaan rapid test massal di Stasiun Bogor, Jawa Barat, Jumat 26 Juni 2020. Ridwan Kamil memantau pelaksanaan rapid test di Stasiun Bogor dan Pondok Pesantren sebagai langkah antisipasi mencegah penyebaran pandemi COVID-19. ANTARA FOTO/Arif Firmansyah

TEMPO.CO, Jakarta - Epidemiolog di Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono mengatakan belum ada laporan di dunia mengenai transportasi publik menjadi klaster penyebaran Covid-19"Saya baru baca di salah satu media massa luar negeri bahwa memang tadinya mereka khawatir klaster subway akan tinggi, namun ternyata tidak," kata dia saat dihubungi di Jakarta, Senin 3 Agustus 2020.

Menurutnya, hal itu tentunya tidak terlepas dari penerapan protokol kesehatan yang benar-benar ditetapkan di transportasi umum. Sehingga meskipun terdapat himpunan tau kerumunan banyak orang, namun tidak menjadi klaster penyebaran virus corona hingga saat ini.

Pandu mengatakan pentingnya penerapan kesehatan hendaknya juga dipahami dan diterapkan dengan sesungguhnya di Indonesia. Termasuk, Pandu menunjuk Jakarta yang mulai Senin kembali menerapkan kebijakan transportasi ganjil genap.

Penerapan kebijakan tersebut tentunya berkaitan dengan bertambahnya orang yang kembali beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum. Perhatian tertuju terutama ke rangkaian kereta rel listrik atau KRL komuter Jabodetabek. 

"Yang paling penting itu adalah penerapan protokol kesehatan, jadi kalau seseorang tidak pakai masker maka jangan izinkan masuk kereta. Bahkan jika kedapatan, diturunkan saja," ujar Pandu.

Ia menyarankan upaya pencegahan penularan di atas kereta dapat dilakukan dengan berbagai cara di antaranya menambah jumlah gerbong, membuka sirkulasi udara di atas kereta serta memperpanjang jam pelayanan.

Kemudian, jarak layanan antara satu kereta dengan kereta lainnya hendaknya menjadi sangat pendek sehingga frekuensinya perjalanan kereta lebih banyak. Selain itu, pengguna transportasi harus tertib menggunakan masker dan tidak berbicara di sepanjang perjalanan.

"Masyarakat juga harus sadar agar tidak memilih jam-jam sibuk untuk menaiki kereta, bisa saja dengan naik lebih awal atau pulang kerja lebih lambat," kata epidemiolog ini.



REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT