Direktur Eijkman Bicara Vaksin Covid-19 Ideal, dari Imunitas Sampai Halal
TEMPO.CO | 09/08/2020 09:15
Sejumlah petugas kesehatan menunggu relawan saat simulasi uji klinis vaksin Covid-19 di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung, Kamis, 6 Agustus 2020. ANTARA/M Agung Rajasa
Sejumlah petugas kesehatan menunggu relawan saat simulasi uji klinis vaksin Covid-19 di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung, Kamis, 6 Agustus 2020. ANTARA/M Agung Rajasa

TEMPO.CO, Jakarta Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio bicara vaksin Covid-19 yang ideal di Indonesia. Menurutnya ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam pengembangan vaksin itu mulai dari imunitasnya sampai soal halal.

"Sebagai gambaran umum bagaimana situasi yang harus kita hadapi bersama terkait dengan pengembangan vaksin di Indonesia, antara lain dari sudut imunitasnya kalau bisa sekali suntik," kata Amin dalam webinar bertema Ilmuwan Merespons Pandemi, Jakarta, Sabtu 8 Agustus 2020.

Selain bisa sekali suntik atau antibodinya bisa bertahan seumur hidup, vaksin juga diharapkan efektif untuk semua umur. "Ini kita harapkan dari bayi sampai orang tua, idealnya begitu. Tapi tidak selalu bisa berhasil," kata dia.

Sebagai catatan atas harapan vaksin untuk segala umur ini, uji klinis yang akan dilakukan atas vaksin Sinovac Biotech di Bandung pun dibatasi untuk relawan dewasa berusia 18-59 tahun.

Syarat ideal lain yang diungkap pakar mikrobiologi klinis itu adalah satu kali penyuntikan yang berarti pula tak perlu ada booster. Vaksin jenis ini biasanya untuk melapis efisiensi vaksin yang lain. "Enggak perlu ada booster dua kali, tiga kali dan sebagainya," kata dia.

Dari sudut imunologi juga, kata Amin, sedapat mungkin vaksin Covid-19 nanti tidak menyebabkan auto-imunity atau reaksi hipersensitivitas. Persyaratan berikutnya dalam pengembangan vaksin adalah harus aman, efektif dan terjangkau.

Terutama untuk negara-negara berkembang seperti Indonesia, Amin menuturkan, harga menjadi pertimbangan utama. Tapi soal ini pun Amin ragu bisa terwujud.

"Kalau kita bandingkan misalkan berita-berita di koran bagaimana pemerintah di Amerika menggelontorkan banyak sekali dana untuk perusahaan vaksin mereka. Tapi itu tidak terjadi di Indonesia," ujarnya.

Kemudian, menurut Amin, di tengah pandemi yang sampai saat ini belum berakhir, kecepatan produksi juga harus lebih cepat dan sedapat mungkin tidak terlalu kompleks. Lalu, yang terpenting dalam tahapan pengembangan vaksin adalah selain perlunya persetujuan cepat dari pemerintah, masyarakat juga diharapkan bisa menerima kehadiran vaksin tersebut.

"Salah satu mungkin yang akan menjadi pertanyaan adalah masalah halal dan sebagainya," katanya.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT