Vaksin Covid-19 Pertama dari Rusia Disebut Sebagian Ahli Sembrono dan Berbahaya
TEMPO.CO | 12/08/2020 07:50
Ilustrasi vaksin COVID-19 atau virus corona. REUTERS/Dado Ruvic
Ilustrasi vaksin COVID-19 atau virus corona. REUTERS/Dado Ruvic

TEMPO.CO, Jakarta - Pengumuman dari Rusia yang akan menyetujui vaksin Covid-19 setelah kurang dari dua bulan pengujian pada manusia memicu kekhawatiran di antara para ahli kesehatan global. Mereka mengatakan bahwa tanpa data uji coba lengkap, vaksin tersebut sulit dipercaya.

Rusia bermaksud untuk menjadi yang pertama dalam perlombaan global dalam mengembangkan vaksin melawan pandemi Covid-19. Namun caranya dinilai sembrono. Rusia dituding belum melakukan uji coba skala besar dari suntikan untuk menghasilkan data apakah itu akan berhasil atau tidak. 

Francois Balloux dari UCL Genetics Institute, London, Inggris, yang termasuk  mengatakan itu adalah keputusan yang sembrono dan bodoh. Menurut Balloux, kampanye vaksinasi Rusia itu akan menjadi bencana baik melalui efek negatif pada kesehatan dan bisa menghambat penerimaan vaksin di masyarakat.

"Vaksinasi massal dengan vaksin yang diuji secara tidak tepat adalah tidak etis," ujar dia seperti dikutip Fox News, 11 Agustus 2020.

Danny Altmann, profesor Imunologi di Imperial College London, menambahkan, kerusakan tambahan dari penyebaran vaksin apa pun yang belum diketahui aman dan efektif justru akan memperburuk masalah.

Baca juga:
Raksasa Farmasi Dunia Rancang Harga Vaksin Covid-19, Simak Perbandingannya

Persetujuan vaksin Covid-19 oleh Kementerian Kesehatan dilakukan sebelum uji coba yang biasanya melibatkan ribuan peserta, umumnya dikenal sebagai uji klinis Fase III. Uji itu biasanya dianggap sebagai prekursor penting bagi sebuah vaksin untuk mendapatkan perizinannya.

Peter Kremsner dari University of Tuebingen Faculty of Medicine, Jerman, yang sedang mengerjakan uji klinis kandidat vaksin dari CureVac juga mengatakan langkah Rusia itu sembrono. Menurutnya, negara seharusnya mensyaratkan banyak orang untuk diuji sebelum menyetujui suatu vaksin. "Saya pikir itu sembrono untuk melakukan itu jika banyak orang belum pernah diuji," katanya menegaskan.



Para ahli mengatakan kurangnya data yang dipublikasikan tentang vaksin Rusia-- termasuk bagaimana pembuatan dan rincian keamanan, respons kekebalan dan apakah dapat mencegah infeksi Covid-19--membuat para ilmuwan, otoritas kesehatan, dan masyarakat tidak tahu apa-apa.

"Tidak mungkin mengetahui apakah vaksin Rusia telah terbukti efektif tanpa menyerahkan makalah ilmiah untuk dianalisis," kata Keith Neal, ahli epidemiologi penyakit menular di University Nottingham, Inggris.

Ayfer Ali, spesialis dalam penelitian obat-obatan di Warwick Business School, Inggris, tak percaya riset vaksin di Rusia tak sampai melakukan uji klinis tahap tiga. Dia menduga mengatakan Rusia pada dasarnya melakukan percobaan pada tingkat populasi yang besar namun potensi efek merugikan dari vaksin tidak terdeteksi. "Ini, meski mungkin jarang, bisa serius," ujar Ali memperingatkan. 

Sebelumnya, Kepala Direct Investment Fund Rusia, Kirill Dmitriev, yang mensponsori pengembangan vaksin Gamaleya Research Institute, mengatakan bahwa vaksinasi dapat disetujui hanya dalam beberapa hari, sebelum para ilmuwan menyelesaikan studi tiga fase.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan vaksin yang dikembangkan oleh Institut Gamaleya Moskow itu aman dan telah diberikan atau disuntikkan di antaranya kepada putrinya. "Saya tahu ini bekerja cukup efektif, membentuk kekebalan yang kuat, dan saya ulangi, ia telah melewati semua pemeriksaan yang diperlukan," kata Putin di televisi pemerintah.

Putin mengungkap itu saat lebih dari setengah lusin pembuat obat di seluruh dunia sedang dalam proses melakukan uji coba manusia tingkat lanjut berskala besar terhadap potensi vaksin Covid-19 mereka. Masing-masing melakukan uji dengan puluhan ribu sukarelawan. Beberapa pelopor vaksin itu, termasuk Moderna, Pfizer, dan AstraZeneca, yang mengatakan bahwa mereka berharap untuk mengetahui apakah vaksin mereka berhasil dan aman pada akhir tahun ini. 

REUTERS | NBC NEWS


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT