Indonesia Genggam Komitmen 300-an Juta Dosis Vaksin Covid-19, Cukupkah?
TEMPO.CO | 12/09/2020 11:13
Sejumlah vaksin virus corona buatan Sinovac Biotech Ltd yang dipamerkan dalam acara China International Fair for Trade in Services (CIFTIS) 2020 di Beijing, Cina, 5 September 2020. Vaksin ini merupakan kandidat vaksin Covid-19 yang diproduksi perusahaan S
Sejumlah vaksin virus corona buatan Sinovac Biotech Ltd yang dipamerkan dalam acara China International Fair for Trade in Services (CIFTIS) 2020 di Beijing, Cina, 5 September 2020. Vaksin ini merupakan kandidat vaksin Covid-19 yang diproduksi perusahaan Sinovac Biotech dan Sinopharm. REUTERS/Tingshu Wang

TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, mengungkapkan kalau sejauh ini Indonesia masih kekurangan vaksin Covid-19. Kerja sama dengan beberapa produsen ditaksir baru menghasilkan komitmen 330-340 juta dosis vaksin.

“Bukan berarti semua sudah secure untuk rakyat Indonesia. Ini karena perlu dua suntikan (per orang) dan jumlah itu berarti baru untuk 175 juta rakyat Indonesia,” katanya dalam orasi ilmiah jarak jauh di acara puncak peringatan Dies Natalis 63 Tahun Universitas Padjadjaran (Unpad), Jumat 11 September 2020.

Baca juga:
Bio Farma Target Vaksin Merah Putih Rampung 2022

Erick mengatakan, kalau kerja sama dengan Sinovac Biotech dari Cina terus berjalan baik maka Indonesia akan mendapatkan komitmen untuk 25 juta dosis vaksin. Kemudian pada 2021 sebanyak 250 juta dosis lagi.

“Tidak stop di situ, kita juga galang kerja sama dengan Uni Emirat Arab dengan Kimia Farma, komitmennya 10 juta dosis vaksin,” ujar Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional itu. Kerja sama itu juga diharapkan bisa berbuah 50 juta dosis vaksin pada kuartal pertama 2021.

Hitungan Erick, pada akhir tahun ini bisa diperoleh sekitar 30 juta dosis vaksin Covid-19 dan 300 juta dosis pada 2021. Pemerintah, kata dia, masih berupaya menjalin kerja sama dengan WHO dan beberapa produsen vaksin lain seperti CanSino, Pfizer, dan AstraZeneca.

“Kalau sampai 70 persen (populasi penduduk Indonesia) bisa ter-cover, sampai 2022 yang 30 persen itu bisa didapatkan,” ujarnya.

Erick menambahkan, Indonesia tidak mungkin bergantung dengan vaksin buatan luar negeri. Itu sebabnya, dia menuturkan, Vaksin Merah Putih buatan dalam negeri  akan jadi prioritas. “Uji klinis fase 1, 2, dan 3 akan berjalan tahun depan sehingga pada 2022 bisa produksi Vaksin Merah Putih,” katanya.  

Sedang untuk vaksinasi massal nantinya telah dirancang pelibatan tentara dan polisi serta kementerian terkait. Selain itu 40 ribu calon perawat dan 12 ribu orang calon dokter termasuk yang disiapkan untuk membantu vaksinasi.

Baca juga:
Studi: Bicara Pelan Bisa Kurangi Penularan Virus Corona Covid-19 

Skema vaksinasi massal itu ada dua yaitu gratis dari program pemerintah berbasis data BPJS Kesehatan dengan angka 93 juta orang. Cara kedua yaitu mandiri atau berbayar. “Kami juga mengharapkan masyarakat yang punya uang bisa bantu keuangan negara, tidak gratis,” kata Erick.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT