Kemenristek Berharap Produksi Massal Vaksin Merah Putih Dimulai Akhir 2021
TEMPO.CO | 15/09/2020 18:06
Peneliti beraktivitas di ruang riset vaksin Merah Putih di kantor Bio Farma, Bandung, Rabu, 12 Agustus 2020. Vaksin COVID-19 buatan Indonesia yang diberi nama vaksin Merah Putih tersebut ditargetkan selesai pada pertengahan tahun 2021. ANTARA/Dhemas Reviy
Peneliti beraktivitas di ruang riset vaksin Merah Putih di kantor Bio Farma, Bandung, Rabu, 12 Agustus 2020. Vaksin COVID-19 buatan Indonesia yang diberi nama vaksin Merah Putih tersebut ditargetkan selesai pada pertengahan tahun 2021. ANTARA/Dhemas Reviyanto

TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) berharap produksi massal vaksin Merah Putih untuk pencegahan penularan Covid-19 dapat dimulai pada akhir 2021.

"Kita berharap di akhir 2021," kata Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) Ali Ghufron Mukti saat dihubungi ANTARA, Jakarta, Selasa, 15 September 2020.

Ghufron menuturkan prototipe vaksin atau bibit vaksin Merah Putih diharapkan dapat diperoleh pada awal 2021.

Ghufron menuturkan Kemenristek optimistis Indonesia mampu mengembangkan vaksin Covid-19. "Kita on the track meskipun kadang-kadang ada tantangan sedikit okelah. Kita optimis kita mampu dan kapasitasnya juga mendukung," ujarnya.

Sejauh ini kemajuan pengembangan bibit vaksin Merah Putih yang dikembangkan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman sudah mencapai 50 persen selesai. Pengembangan vaksin itu berjalan sesuai dengan yang direncanakan.

Vaksin tersebut dikembangkan dengan platform subunit protein rekombinan berdasarkan isolat virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 yang beredar di Indonesia.

Kemenristek mendukung berbagai lembaga atau pihak yang sedang mengembangkan vaksin Merah Putih. "Jadi awal ini yang sudah mulai meneliti kita dukung entah kita fasilitasi, kita biayai," kata ujar Ghufron.

Selain Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, ada empat institusi lain yang juga mengembangkan vaksin Merah Putih, yaitu Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Airlangga.

Universitas Indonesia mengembangkan vaksin dengan tiga platform, yaitu DNA, RNA, dan virus-like particle. ITB dan Universitas Airlangga masing-masing mengembangkan vaksin dengan platform adenovirus. LIPI mengembangkan vaksin dengan platform protein rekombinan.

ANTARA


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT