Hari Ini Hari Tanpa Bayangan di Jakarta dan Serang
TEMPO.CO | 08/10/2020 05:22
Saat matahari tetap di atas katulistiwa pada 21-23 Maret 2017, benda di bawah matahari tidak akan mempunyai bayangan. (pontianakkota.go.id)
Saat matahari tetap di atas katulistiwa pada 21-23 Maret 2017, benda di bawah matahari tidak akan mempunyai bayangan. (pontianakkota.go.id)

TEMPO.CO, Jakarta - Fenomena hari tanpa bayangan sedang bergulir di wilayah Indonesia untuk kedua kalinya pada tahun ini, dimulai sejak 7 September lalu hingga pertengahan Oktober ini. Hari ini, Kamis 8 Oktober 2020, pukul 11.40.96 WIB, diperhitungkan akan terjadi di Jakarta dan akan dirayakan di antaranya dengan pengamatan pergerakan bayangan Tugu Monas oleh Planetarium dan Observatorium Jakarta.

Ini adalah fenomena yang berkaitan dengan posisi astronomis Indonesia, yakni saat kulminasi matahari berada tepat di titik atas titik pengamat (zenith). Hari ini, Jakarta dan Serang yang mengalaminya, hanya Serang terjadi pukul 11.42.52 WIB. Besok, misalnya, giliran Kota Bogor dengan jam yang tertentu pula.

"Ketika Matahari berada di atas Indonesia, tidak ada bayangan yang terbentuk oleh benda tegak tidak berongga ketika tengah hari, sehingga fenomena ini dapat disebut sebagai Hari Tanpa Bayangan," tulis Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dalam akun media sosialnya.

Hari Tanpa Bayangan terjadi dua kali setahun untuk beberapa kota yang terletak di antara Garis Balik Utara dan Selatan. Garis Balik Utara dengan posisi 23,4 derajat Lintang Utara, sedangkan Garis Balik Selatan di 23,4 derajat Lintang Selatan.

Wilayah yang berada tepat di Garis Balik Utara dan Selatan hanya satu kali mengalami Hari Tanpa Bayangan dalam setahun. Fenomena ini terjadi saat Solstis Juni pada 21-22 Juni dan Solstis Desember pada 21-22 Desember. Solstis adalah peristiwa pergerakan semu matahari akibat rotasi bumi yang miring.

Selain wilayah yang terletak di antara atau tepat di Garis Balik Utara dan Selatan, matahari tidak berada di posisi zenit ketika tengah hari. Artinya, wilayah tersebut tidak mengalami fenomena Hari Tanpa Bayangan sepanjang tahun.

Dalam keterangan yang pernah dibagikannya saat fenomena yang sama, Februari-Maret lalu, komunitas astronomi Langit Selatan Bandung mengungkapkan kalau hari tanpa bayangan juga bisa digunakan untuk mengukur keliling bumi yang sejauh 40 ribu kilometer. Alat untuk mengukurnya pun sangat sederhana yaitu hanya sebatang tongkat yang ditancapkan ke tanah.

Baca juga:
Gelar Festival Iklim 2020, KLHK Diajak Lindungi Masyarakat Adat

Beberapa asumsi dalam melakukan pengukuran ini adalah bentuk Bumi seperti bola yang sempurna. Kemudian sinar matahari yang datang ke dua kota arah sinarnya sama-sama sejajar, serta jarak dua kota berada pada satu garis bujur yang sama.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT