Risiko Kematian Pasien Covid-19 Berlipat 2-3 Kali Karena Penyakit Ini
TEMPO.CO | 19/10/2020 21:30
Tenaga medis dengan alat dan pakaian pelindung bersiap memindahkan pasien positif COVID-19 dari ruang ICU menuju ruang operasi di Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta, Rabu, 13 Mei 2020. REUTERS/Willy Kurniawan
Tenaga medis dengan alat dan pakaian pelindung bersiap memindahkan pasien positif COVID-19 dari ruang ICU menuju ruang operasi di Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta, Rabu, 13 Mei 2020. REUTERS/Willy Kurniawan

TEMPO.CO, Jakarta - Sebuah studi internasional yang melibatkan sejumlah besar pasien Covid-19 dari berbagai negara mengkonfirmasi kalau penyakit kardiovaskular dan sederet penyakit lain dapat meningkatkan risiko kematian si pasien akibat infeksi virus itu. Penyakit kardiovaskuler bisa meningkatkan risiko kematian dua kali lipat, tapi penyakit yang lain bisa 1,5 sampai 3 kali lipat.

Hasil studi itu diharapkan bisa menolong otoritas kesehatan publik memperbaiki cara merawat pasien Covid-19. Termasuk mengembangkan intervensi paling baik untuk menyelamatkan kelompok populasi dengan risiko tingkat kematian paling tinggi.

“Dari studi ini kita tahu kondisi kronis bukan hanya jamak pada pasien Covid-19, tapi kehadiran mereka adalah peringatan akan sebuah risiko kematian yang lebih tinggi," kata ketua tim penelitinya, Paddy Ssentongo, mahasiswa doktoral epidemiologi di College of Medicine dan asisten profesor di Department of Engineering Science and Mechanics, Pennsylvania State College of Medicine, Amerika Serikat.

Ssentongo dan timnya memaparkan hasil studinya itu dalam jurnal PLOS ONE yang terbit 26 Agustus 2020. Total, mereka mengeksplorasi 11 macam penyakit penyerta yang membawa kepada risiko gejala penyakit lebih parah dan bahkan kematian di antara para pasien Covid-19. Selain kardiovaskular, sepuluh penyakit lainnya: hipertensi, diabetes, gagal jantung, gagal ginjal kronis, stroke, kanker, paru obstruktif kronis, asma, penyakit hati kronis, dan HIV/AIDS.

Studi dilakukan dengan mengkaji secara sistematis dan meta-analisis studi-studi yang telah dipublikasikan dari Desember 2019 hingga Juli 2020. Ssentongo dan koleganya menganalisis data lebih dari 65 ribu pasien dari 25 studi di seluruh dunia. Pasien dalam studi terpilih diketahui memiliki usia rata-rata 61 tahun.

Hasilnya, mereka menemukan kondisi kesehatan pre-eksisting yang tertentu mempengaruhi angka bertahan hidup lebih besar daripada yang lain. Ketika dibandingkan dengan pasien Covid-19 di rumah sakit yang tanpa kondisi pre-eksisting, para peneliti mendapati pasien dengan penyakit penyerta diabetes dan kanker, misalnya, berisiko meninggal 1,5 kali lebih besar.

Sedang penyakit kardiovaskular bersama hipertensi dan gagal jantung membawa peningkatan risiko kematian dua kali lipat. Pasien Covid-19 dengan komorbid gagal ginjal kronis adalah yang paling besar risiko kematiannya yakni 3 kali lipat dbandingkan pasien tanpa komorbid.

Sekalipun telah diketahui umum tentang dampak komorbiditas pada pasien Covid-19, para peneliti di studi ini mengklaim menyediakan data kuantifikasinya yang paling komprehensif. Penelitian serupa yang ada sebelumnya disebut memiliki keterbatasan jumlah asal negara pasien, jumlah hasil studi, dan jumlah kondisi pre-eksisting.

"Sedang kami mengambil seluruh pendekatan global yang inklusif dengan memeriksa 11 kondisi kronis dan termasuk pasien dari empat benua: Asia, Eropa, Amerika Utara, dan Afrika," kata Ssentongo.

Baca juga:
Beberapa Relawan Uji Klinis Vaksin Covid-19 Sinovac Dilaporkan Sakit

Hasil studi bisa digunakan untuk menentukan skala prioritas siapa saja yang harus segera mendapatkan vaksinasi jika vaksin telah tersedia nanti dan bila SARS-CoV-2 terbukti bisa mewabah musiman. "Seiring dengan pandemi Covid-19 yang terus berlanjut sepanjang tahun ini dan mungkin sampai 2021, kami berharap peneliti lain bisa memanfaatkan hasil studi kami ini," kata Vernon Chinchilli, profesor ilmu kesehatan masyarakat dan anggota tim peneliti. 

SCITECH DAILY | PLOS


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT