Aktivis Sarankan Kawasan Ekosistem Esensial untuk Atasi Konflik Gajah di Aceh
TEMPO.CO | 18/01/2021 07:13
Tim BKSDA dan FKL memasang alat pelacak posisi pada seekor gajah di i Ranto Peureulak, Aceh Timur, Jumat, 11 September 2020. Kredit: Antara Aceh/HO
Tim BKSDA dan FKL memasang alat pelacak posisi pada seekor gajah di i Ranto Peureulak, Aceh Timur, Jumat, 11 September 2020. Kredit: Antara Aceh/HO

TEMPO.CO, Banda Aceh - Kalangan aktivis lingkungan hidup menyarankan pembentukan kawasan ekosistem esensial untuk mengatasi persoalan konflik gajah dengan manusia di Provinsi Aceh.

Baca:
Gajah Sumatera Mati di Kawasan Konservasi Aceh Utara

"Konflik gajah dengan manusia terus terjadi di Aceh karena pembukaan hutan yang merupakan koridor gajah. Solusi konflik ini dengan membuat kawasan esensial untuk koridor gajah," kata TM Zulfikar, aktivis lingkungan hidup di Banda Aceh, Minggu, 17 Januari 2021.

Kawasan ekosistem esensial merupakan ekosistem di luar kawasan hutan konservasi. Kawasan esensial berperan penting mendukung perlindungan keanekaragaman hayati baik flora maupun fauna.

Mantan Direktur Eksekutif Walhi Aceh itu mengatakan konflik gajah paling dominan terjadi di Aceh. Di beberapa daerah di Aceh sering terjadi konflik gajah dengan manusia, seperti di Kabupaten Bener Meriah, Kabupaten Aceh Timur, Kabupaten Pidie, Kabupaten Aceh Jaya, dan Kabupaten Aceh Selatan.

Konflik gajah tersebut terjadi karena pembukaan kawanan hutan untuk ladang maupun kebun masyarakat yang sebelumnya merupakan lintasan gajah. Seharusnya itu tidak terjadi kalau masyarakat diberi pemahaman.

"Parahnya lagi, kawasan hutan yang dijadikan ladang tersebut ditanami dengan tanaman disukai atau makanan gajah, sehingga gangguan satwa dilindungi tersebut tidak terelakkan," kata TM Zulfikar.

Oleh karena itu, TM Zulfikar menyarankan pemerintah bersama pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten kota, menetapkan kawasan esensial di wilayah-wilayah yang menjadi koridor gajah maupun satwa dilindungi lainnya.

"Tujuannya agar lintasan gajah mencari makan tidak terganggu oleh aktivitas masyarakat yang berkebun atau berladang, di samping upaya-upaya lainnya mencegah konflik gajah dengan manusia," kata TM Zulfikar.

ANTARA


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT