India Surati Bos WhatsApp, Tolak Pembaruan Kebijakan Baru
TEMPO.CO | 20/01/2021 17:35
Logo WhatsApp. (whatsapp.com)
Logo WhatsApp. (whatsapp.com)

TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Elektronik dan Teknologi Informasi (MEITY) India telah menyurati CEO WhatsApp Will Cathcart untuk meminta penarikan usulan perubahan kebijakan privasi bagi pengguna di negaranya.

Baca:
WhatsApp Tunda Kebijakan Baru Soal Privasi, Simak Penuturannya

Surat itu mencakup beberapa poin penting, salah satunya mempertanyakan perlakuan berbeda terhadap Uni Eropa di mana kebijakan privasi tetap tidak berubah. 

Android Police, Selasa, 19 Januari 2021, melaporkan India juga meminta klarifikasi jenis data yang dikumpulkan WhatsApp yang memunculkan kekhawatiran tentang bagaimana berbagi data dengan Facebook bisa menimbulkan risiko keamanan dan kerentanan bagi pengguna. 

“Perubahan yang diusulkan menimbulkan keprihatinan yang serius mengenai implikasi bagi pilihan dan otonomi warga India,” tertulis dalam surat itu.

Dengan lebih dari 400 juta pengguna, India merupakan pasar terbesar untuk WhatsApp. Ini, bersama dengan fakta bahwa ia memainkan peran strategis dalam investasi US$ 5,7 miliar dari Facebook di perusahaan telekomunikasi terbesar di India. Artinya perkembangan ini mungkin memiliki konsekuensi signifikan bagi rencana perusahaan. 

Kebijakan baru WhatsApp juga telah mendapatkan kecaman dari pengguna. Aplikasi pesan berlogo gagang telepon itu juga menunda tenggat waktu dalam implementasinya, yang awalnya berlaku mulai 8 Februari, diundur menjadi 15 Mei 2021. Kebijakan WhatsApp itu membuat banyak penggunanya beralih ke aplikasi pesan lainnya, seperti Telegram dan Signal.

Dalam sebuah pernyataan, WhatsApp mengatakan bahwa perusahaan sedang berupaya mengatasi informasi yang salah dan tetap tersedia untuk menjawab pertanyaan apa pun. WhatsApp menambahkan: "Kami ingin menegaskan bahwa pembaruan ini tidak memperluas kemampuan kami untuk berbagi data dengan Facebook,” seperti dikutip Gizmochina, Rabu, 20 Januari 2021.

ANDROID POLICE | GIZMOCHINA



REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT