Studi Ini Kuatkan Pengaruh Plastik Belokkan Gender pada Bayi Laki-laki
TEMPO.CO | 13/02/2021 10:51
Ilustrasi bayi minum susu botol. Getty Images
Ilustrasi bayi minum susu botol. Getty Images

TEMPO.CO, Jakarta - Dalam studinya dua tahun lalu, Patricia Hunt dari Washington State University, mengungkap kalau manusia terpapar bahan kimia plastik, yang bisa menganggu kerja hormon, lebih besar daripada yang diperkirakan sebelumnya. Beberapa dampak dari paparan itu adalah penyakit kanker dan pembelokan gender.

Khusus studi bahan kimia plastik yang bisa membelokkan gender pernah dilakukan hampir 15 tahun lalu. Saat itu, dimuat dalam jurnal Environmental Health Perspectives, studi dianggap memberi bukti pertama dampak bahan kimia plastik yang digunakan sehari-hari ke manusia.

Bahan kimia yang dimaksud adalah ftalat (phthalates), senyawa kimia ester yang membuat plastik-plastik lebih lentur dan dapat ditemukan pada produk kosmetik, cat, selain mainan anak dan botol susu bayi. Parahnya, ftalat bisa bocor ke lingkungan seperti air dan juga makanan.

Seluruh studi sebelumnya menduga bahan kimia itu menumpulkan pengaruh hormon testosteron pada hewan jantan. "Penelitian-penelitian ini menggarisbawahi kebutuhan pengendalian lebih keras terhadap senyawa kimia gender-bending. Kalau tidak, alam habitat liar dan bayi-bayi laki-laki yang akan menjadi korbannya," kata Gwynne Lyons, penasihat bidang sampah beracun untuk WWF Inggris.

Studi yang memberi bukti pertama itu dilakukan terhadap 85 bayi laki-laki yang lahir dari para perempuan yang semasa kehamilannya diketahui terpapar penggunaan ftlalat. Studi dilakukan Shanna Swan dari Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Gigi, University of Rochester, Amerika Serikat, bersama sejumlah koleganya.

Sebagai indeks feminisasi, Swan mengukur 'jarak anogenital' (AGD) antara anus dan pangkal penis. Dia juga mengukur volume penis setiap dari 85 bayi laki-laki itu. Studi-studi sebelumnya telah menyatakan AGD pada anak laki-laki dua kali anak perempuan, terutama karena pada anak laki-laki hormon testosteron memperpanjang perinerium yang memisahkan anus dari testikel."

Studi pada hewan menunjukkan, besar AGD berkurang karena ftalat– yang berlaku bak estrogen--mencegah testosteron berlaku normal. Pada dosis paparan konsentrasi ftalat yang lebih tinggi, hewan jantan mengembangkan abnormalitas lebih serius seperti testikel yang tidak tenggelam dan salah bukaan uretra ke penis – kelompok gejala yang disebut 'phthalate syndrome' pada hewan.

Baca juga:
Ilmuwan AS: Virus Corona Bisa Hidup 3 Hari di Plastik

Ketika Swan dan timnya mengukur konsentrasi sembilan metabolit ftalat dalam urine dari sekelompok perempuan hamil, mereka menemukan empat terkait dengan pemendekan AGD pada bayi laki-laki yang lahir dari perempuan terpapar plastik ber-ftalat konsentrasi tinggi.

Meski tidak ada bayi itu yang mengembangkan genital abnormal, seperempat dari para ibu yang terpapar konsentrasi tertinggi paling mungkin memiliki bayi laki-laki dengan AGD pendek dibandingkan dengan seperempat ibu pemilik kadar paparan ftalat atau plastik terendah.

Meski seluruh bayi laki memiliki genital yang tergolong normal, 21 persen anak laki-laki dengan AGD pendek memiliki testikel yang tak tenggelam sempurna dibandingkan 8 persen anak laki lainnya. "Dan rata-rata, semakin pendek AGD, semakin kecil penis," kata Swan di konferensi internasional Endocrine Disrupting Chemicals di San Diego, AS.

Swan meyakini kalau pada paparan lebih tinggi, anak laki-laki bakal menderita testicular dysgenesis syndrome yang masih berasal dari 'phthalate syndrome'. Apa yang sudah ditemukannya memang belum menjadi sindrom tersebut namun klaster gejala yang ada dianggapnya konsisten mengarah ke sana.

"Jika Anda melihat itu terjadi, Anda kemungkinan besar melihat setiap aspek lain dari maskulinisasi telah berubah pula," kata Fred vom Saal, profesor biologi reproduktif di University of Missouri-Columbia, AS.

Termasuk, kata Vom Saal, perubahan perilaku seperti yang juga sudah terlihat dalam studi pada hewan. "Yakni menjadi sangat tidak suka permainan yang 'keras' dan berkurangnya agresivitas," kata dia.

Kalangan pembela lingkungan mengatakan hasil studi terbaru yang bakal dipublikasi Swan dkk dalam jurnal Environmental Health Perspectives menguatkan larangan atau pembatasan beberapa jenis ftalat dalam produk mainan bayi. Larangan itu telah diusulkan di Eropa dan California, AS.

Menanggapi hasil studi itu, kalangan produsen ftalat tetap pada argumennya bahwa senyawa kimia itu telah teruji dan aman. David Cadogan dari European Council for Plasticisers and Intermediates justru mengkritik beberapa aspek studi Swan dkk. Menurutnya, hanya satu sampel urin yang diambil dari setiap perempuan hamil dalam studi itu tidak mewakili variasi yang menunjukkan perubahan signifikan sepanjang periode paparan.

Baca juga:
Ide Plastik Ramah Lingkungan untuk Jenazah Covid-19 Juara

Juga, Cadogan menuntut pengukuran seluruh AGD pada bayi berusia sama, bukan bervariasi 3-24 bulan seperti yang ada dalam studi Swan tentang dampak buruk penggunaan plastik itu. Dia mengatakan, disparitas pada usia, juga berat badan, berarti harus ada analisis matematika yang kompleks. 

NEWSCIENTIST | DAILY MAIL


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT