Data Kualitas Udara Cina Dimanipulasi, Analisis Statistik Temukan Buktinya
TEMPO.CO | 25/04/2021 04:08
Sebuah mesin bekerja untuk mengurangi polusi dipasang di sekitar area konstruksi saat polusi udara menyelimuti wilayah Beijing, Cina, 18 Desember 2016. REUTERS/Stringer
Sebuah mesin bekerja untuk mengurangi polusi dipasang di sekitar area konstruksi saat polusi udara menyelimuti wilayah Beijing, Cina, 18 Desember 2016. REUTERS/Stringer

TEMPO.CO, Jakarta - Statistik telah menunjukkan bukti adanya manipulasi data pemantauan kualitas udara di Cina. Ini terungkap ketika data itu dibandingkan dengan data dari hasil pengukuran di kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat di kota yang sama.

Pemerintah Cina pernah memberi sanksi para pejabat lokal yang terlibat manipulasi data kualitas udara. Tapi, hasil analisis statistik independen yang terbaru ini menunjukkan luasnya dugaan manipulasi itu.

Jesse Turiel dari Harvard University dan Robert Kaufmann dari Boston University mempelajari data dari stasiun-stasiun pemantauan kualitas udara di Cina di lima kota: Beijing, Shenyang, Shanghai, Guangzhou dan Chengdu. Mereka kemudian membandingkannya dengan data yang dikumpulkan dari kantor-kantor perwakilan AS di lima kota itu.

Hasilnya, mereka menemukan pola yang sangat berbeda di antara dua kelompok data itu pada parameter kualitas udara dengan polutan PM2.5, partikel debu yang terbukti berelasi dengan kanker paru. Data yang dipelajari berasal dari periode 2015-2017.

Turiel dan Kaufmann mengamati data statistik yang berbeda atas jumlah hari di mana kualitas udara berada di bawah ambang batas kebijakan Langit Biru. Kebijakan itu menciptakan indeks polusi yang dianggap 'terlalu tinggi' jika angkanya 100 atau lebih dan indeks 'bisa ditoleransi' jika kurang dari 100.

Keduanya menemukan banyak pada data tersebut hari-hari dengan indeks polusi udara yang tipis di bawah angka 100 dan beberapa yang dituliskan tepat pada angka 100. "Hari-hari yang sebenarnya tergolong polusi terlalu tinggi kemungkinan dituliskan dengan indeks 99, 98, 97," kata Turiel.

Analisis statistik yang dihasilkan mengeluarkan perbedaan di antara kedua data itu yang 40 persen lebih besar daripada yang diharapkan terjadi, dan 63 persen di antaranya memperlihatkan angka hasil pengukuran oleh stasiun-stasiun Cina lebih rendah daripada dari stasiun Amerika.

Seperti yang dipublikasikan dalam jurnal Plos One terbit 21 April 2021, Turiel dan Kaufmann juga menyatakan menemukan cukup banyak kesalahan pelaporan pada hari-hari di mana terjadi polusi udara terburuk. Ini artinya manipulasi terjadi terutama saat kualitas udara faktual terukur buruk.

Temuan itu kontras dengan hasil studi sebelumnya yang menyatakan manipulasi data kualitas udara Cina berakhir pada 2012 ketika Beijing menerapkan serangkaian reformasi kebijakan. "Temuan kami memberi bukti kalau manipulasi oleh pemerintahan lokal tidak terhenti pada 2012, tapi berlanjut dalam perilaku yang berbeda," bunyi sebagian isi laporan di jurnal.

Kementerian Lingkungan Cina mengumumkan pada 2017 telah menginvestigasi sebanyak 1.140 pejabatnya untuk sangkaan pelanggaran aturan polusi pascainspeksi tahun sebelumnya. Pada awal 2018, kementerian itu menyatakan menjaring sejumlah pejabat dari tujuh kota yang memanipulasi data.

Turiel tak tahu apakah pengungkapan terbaru telah menghentikan masalah manipulasi data tersebut. Dia juga mengatakan kalau data pembanding dari kantor kedutaan AS juga telah tak tersedia.

Meski begitu, Turiel juga mengatakan ada bukti kalau kualitas udara di kota-kota di Cina secara umum membaik selama periode studi yang dilakukannya. Data versi Amerika menunjukkan konsentrasi PM2,5 tahunan turun lebih dari 25 persen antara 2013 dan 2017.

Turiel dan Kaufmann meyakini kalau pendekatan statistik mereka dapat digunakan oleh pemerintahan negara-negara untuk mencari bukti manipulasi data kualitas udara oleh pemerintah daerahnya, dan mengantar kepada penegakan hukum.

NEW SCIENTIST | JOURNALS.PLOS

Baca juga:
Drone Perahu 5G Pantau Kualitas Lingkungan Taman di Cina


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT