Mahasiswa Papua Terpaksa Keluar dari Jayapura Agar Bisa Kuliah Online
JUBI.CO.ID | 22/06/2021 11:30
Mahasiswa Papua Terpaksa Keluar dari Jayapura Agar Bisa Kuliah Online

Jayapura, Jubi – Sudah sebulan terakhir Grace Edowai, perempuan 27 tahun, setiap hari mengikuti kuliah online dari Manado, Sulawesi Utara. Jadwalnya, pagi pukul 9.00-11.00 WITA dan siang pukul 14.00 – 16.00 WITA.

Edowai mahasiswi semester delapan di Sichuan University – Bachelor of Dental Surgery, Tiongkok. Sejak putusnya kabel laut SMPCS ruas Sarmi – Biak pada 30 April 2021 Edowai tidak bisa mengikuti perkulihan online dari Kota Jayapura karena tidak bisa mengakses internet.

“Gara-gara jaringan internet di Jayapura mati saya akhirnya memutuskan ke Manado,” katanya.

Sebenarnya ia ingin ke lokasi yang lebih dekat seperti Biak, Manokwari, atau Nabire.

“Tapi saya takut di sana juga putus lagi, jadi satu kali langsung ke Manado karena paling dekat,” kata mahasiswa kedokteran gigi tersebut.

Edowai mengetahui jaringan internet terganggu pada 30 April 2021 usai makan malam. Awalnya ia mengira itu hanya gangguan jaringan Wifi Indihome yang dipasang di rumahnya. Ia lalu mencoba mematikan WiFi dan menghidupkan kembali, namun tak kunjung normal.

“Saya coba kasih nyala kasih hidup, tapi tidak bisa sama sekali. Saya kasih nyala jaringan data juga tidak bisa, coba-coba telepon tidak masuk, padahal cuma di sekitar tetangga saja,” ujarnya.

Edowai kemudian menelepon temannya yang berada di Biak untuk memastikan jaringan internet benar-benar terganggu, tapi temannya menjawab jaringan internet di tempatnya baik-baik saja.

Setelah menunggu hingga 3 Mei 2021 dan jaringan tidak kunjung normal, Edowai mengontak temannya satu kampus di Biak untuk menghubungi teman mereka di Tiongkok. Pesannya, agar menyampaikan kepada dosen bahwa jaringan internet di Kota Jayapura lagi terganggu.

“Dosen bilang tidak apa-apa, tapi saya dikasih waktu satu minggu, kalau bisa dalam satu minggu harus kembali ke kelas. Makanya saya usahkan secepatnya untuk bisa dapat tiket,” ujarnya.

Namun tak mudah mendapatkan tiket pesawat. Pesawat penuh dan yang kosong hanya Garuda Indonesia dengan harga tiket Rp6 juta.

“Mau berangkat bagaimana, jadi pergi cek-cek di Pelni, waktu itu ada kapal Sinabung terakhir sebelum ‘lockdown’. Akhirnya saya urus surat jalan untuk ikut berangkat pakai kapal pada 4 Mei 2021, dengan harga tiket Rp600 ribu berlayar empat hari tiga malam baru sampai di Manado,” katanya.

Di Manado ia menginap di rumah famili dari ibunya. Ia lancar mengikuti kelas online sehingga tidak ketinggalan perkuliahan.

Terhitung tiga semester sejak pandemi Covid-19 pada 2020, Edowai mengikuti perkulihan online dari Indonesia. Ia masih menunggu Pemerintah Tiongkok mencabut status ‘lockdown’ dan mengizinkan mahasiswa internasional kembali masuk ke Tiongkok.

“Saya kembali ke Indonesia pada awal 2020 karena liburan. Jadi pas mau kembali ke Cina sudah tidak bisa karena sudah pandemi Covid-19. Karena Indonesia punya kasus Covid-19 masih tinggi Pemerintah Cina belum membuka akses buat mahasiswa internasional, jadi belum tahu sampai kapan kuliah online dari Indonesia, mungkin sampai semester ini habis,” katanya.

Sebelumnya Edowai pernah kuliah hingga Semester 4 di Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih. Hingga 2015 terjadi demonstrasi yang berdampak kepada tidak berjalan aktivitas perkuliahan di Fakultas Kedokteran Uncen selama setahun.

Sambil menunggu aktivitas perkulihan kembali normal Edowai mengikuti seleksi beasiswa dari Pemerintah Provinsi Papua dan berhasil lulus yang memberinya kesempatan untuk menempuh pendidikan di Tiongkok.

Edowai berharap pandemi Covid-19 segera pulih sehingga bisa kembali ke Tiongkok dan mengikuti perkuliahan tatap muka di kelas. Selain itu ia meminta Telkom dapat mempublikasikan hasil perbaikan kabel laut SMPCS yang putus.

“Kuliah online capek karena cuma tatap laptop saja, enaknya ‘offline’ karena langsung tatap muka dengan dosennya. Apalagi di kelasku cuma empat orang saja, mau tidak mau harus fokus karena cuma sedikit orang. Terus kalau bisa Telkom bisa publis perbaikan kabel laut supaya kami bisa sampaikan buktinya ke kampus kalau kabelnya benar-benar putus,” ujarnya.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Provinsi Papua, A.F Rumaropen mengatakan sejak jaringan internet di Kota Jayapura mengalami gangguan segala aktivitas yang menggunakan layanan sarana komunikasi dan informasi untuk pelayanan publik terhambat.

“Kami di sini salah satu menangani mahasiswa, anak-anak sekolah yang ada di dalam maupun luar negeri jadi terganggu,” katanya.

Pihaknya, kata Rumaropen, telah menyarankan siswa maupun mahasiswa untuk berangkat ke tempat-tempat terdekat yang ada akses internet di Papua.

“Misalnya ke Timika, Merauke, ke Biak, ke Manokwari yang terdekat dengan Papua, bahkan ada yang kembali ke tempat asal sekolah, misalnya di Manado, di ITB ada yang di Pelita Harapan Jakarta, ermasuk mereka yang kelas pembelajaran online yang ada di Papua, contoh yang dari Cina, terus dari Amerika ada dua kelas di sini, kita pindahkan mereka ke Jakarta,” katanya.

Ia mengaku sudah mengirimkan surat kepada Telkom, namun tidak bisa melayani tanpa alasan.

“Jadi kita berharap secepat mungkin dari penyedia layanan komunikasi PT Telkom dan mereka punya kompetensi di bidang itu segera memperbaiki jaringan internet,” ujarnya.

jubi.co.id


BERITA TERKAIT