Ratusan Kawanan Burung dari Rusia dan Cina Terbang Bermigrasi ke Yogyakarta
KRJOGJA.COM | 29/11/2018 09:10
Ratusan Kawanan Burung dari Rusia dan Cina Terbang Bermigrasi ke Yogyakarta
Burung layang-layang Asia (Hirundo Rustica).

YOGYA, KRJOGJA.com - Ratusan kawanan burung yang bertengger di kabel-kabel listrik, pohon dan bangunan tua di sepanjang Jalan Mayor Suryotomo Yogya dan sejumlah titik lainnya, merupakan burung dari belahan bumi bagian Utara seperti China, Siberia dan Rusia. Mereka sengaja terbang jauh ke Yogyakarta untuk menghindari musim dingin yang mulai melanda daerah asalnya sebagai upaya bertahan hidup dan mencari makan. 

"Fenomena kawanan burung itu sebenarnya biasa terjadi setiap tahun. Mereka adalah burung layang-layang Asia. Di belahan bumi Utara sedang menghadapi musim dingin, jadi mereka mulai bermigrasi ke daerah hangat, seperti di Yogyakarta ini, meskipun di sini juga sedang musim hujan, tapi relatif lebih hangat," ujar Guru Besar Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Prof Dr Suwarno Hadisusanto SU kepada KR, Selasa 27 November 2018.

BACA JUGA:  100 Hari Lagi Merapi Berpotensi Keluarkan Wedhus Gembel

Ia mengatakan, kawanan burung itu tidak hanya bermigrasi ke Yogyakarta, tetapi juga ke daerah-daerah lain di Jawa seperti Kebumen, Gombong dan Purwokerto.  "Tergantung navigatornya. Burung-burung itu kalau lagi terbang, di depannya ada burung navigator. Kalau beloknya ke Yogyakarta ya rombongan jadi ke Yogyakarta," jelasnya.

Suwarno menekankan, tidak selamanya burung-burung itu akan bertengger di Yogyakarta. Diperkirakan, sekitar Januari hingga Maret, mereka akan kembali ke daerah asal.  "Siklusnya, setelah mereka kembali ke asal, berkembang biak dan mencari makan. Di sekitar bulan Juli, mereka sudah siap-siap ke daerah yang lebih hangat," terang Suwarno.

BACA JUGA: Warga Lereng Gunung Perahu Gelar Karnaval Budaya

Ia juga melarang adanya perburuan burung yang sedang migrasi. Pasalnya, burung dengan nama latin Hirundo rustica itu justru membantu pemberantasan hama. "Mereka tidak menetap dan hanya memakan insekta atau hama. Jadi membantu para petani juga, semacam simbiosis mutualisme. Mereka tidak perlu diusir, tidak lama juga di situ," tandasnya.

Senada, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DIY Junita Parjanti mengimbau untuk tidak menembaki burung migran tersebut, karena dapat merusak ekosistem rantai makanan. (M-1)

KRJOGJA.COM


BERITA TERKAIT