Sejumlah Faskes Kehabisan Kuota, Layanan GeNose Diserbu Peserta UTBK
KRJOGJA.COM | 14/04/2021 14:45
Sejumlah Faskes Kehabisan Kuota, Layanan GeNose Diserbu Peserta UTBK
Seorang wanita meniup kantong plastik saat mengambil sampel udaranya untuk tes Covid-19 menggunakan GeNose C19 di sebuah stasiun kereta di Jakarta, Rabu, 3 Februari 2021. Alat buatan Indonesia ini mulai digunakan untuk screening penumpang kereta jarak jauh. REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana

YOGYA (KR) – Keluarnya aturan harus melampirkan surat bebas Covid-19, membuat layanan GeNose yang berbiaya murah diserbu para calon peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), Selasa (13/4). Tak sedikit dari mereka gigit jari, sehingga mengalihkan ke layanan tes Swab Antigen yang lebih mahal. Jika biaya tes GeNose hanya berkisar antara Rp 30.000-50.000, maka tes Swab Antigen berkisar antara Rp 200.000-250.000,-.

“Demi bisa meraih impian, bisa ikut tes UTBK, saya ambil Swab Antigen saja. Kalau mencari GeNose, antri panjang. Dan belum tentu mendapat kesempatan, karena kuota terbatas,” ujar salah satu peserta UTBK, M Wicak.

Dari pantauan KR, sejumlah fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan GeNose, menempelkan pengumuman bahwa kuota sudah habis, seperti di PMI DIY dan GMC UGM. Sehingga calon peserta harus datang lebih awal untuk mendapatkan kesempatan test bebas Covid-19.
Sedangkan di RS UAD, melalui kontak telpon di pusat layanan menyampaikan bahkan untuk bulan ini sudah tidak melayani. Baru bisa melayani untuk bulan depan, Mei. Demikian dengan RSA UGM, juga menyatakan terbatas kuotanya.

Membludaknya permintaan tes GeNose juga dirasakan RS Bethesda membludak. Namun karena setiap harinya maksimal hanya bisa melayani 200-an pax pemeriksaan GeNose. Sehingga sebagian terpaksa ditolak.
“Terbatas karena kemampuan mesin terbatas, juga jam operasionalnya,” tutur Kepala Bagian Humas dan Marketing RS Bethesda Adhiyatno Priambodo SH MHKes kepada KR, Selasa (13/4).

Adhi menyebutkan untuk mendapatkan hasil positif atau negatif Covid-19, mesin GeNose membutuhkan waktu pemeriksaan per orang 3-4 menit, belum ditambah proses pendaftaran, dan pemeriksaan/persiapan pra GeNose dengan meniup udara dan lainnya. “Bethesda mempunyai 2 Mesin GeNose yang baru saja operasional sejak awal April 2021 dan permintaan langsung tinggi apalagi bersamaan dengan syarat UTBK saat ini,” ungkap Adhi.

Diakui Adhi, mesin GeNose tidak memungkinkan untuk diforsir, terbatas cycle-nya, harus diberi waktu istirahat supaya tidak rusak dan hasil pemeriksaan valid. “Syarat UTBK sebenarnya bisa juga dipenuhi dengan Swab Antigen atau PCR tetapi biayanya lebih mahal sehingga banyak yang memilih dengan GeNose karena tarifnya paling murah hanya Rp 40.000,” terangnya.

Memudahkan masyarakat, lanjut Adhi, untuk pendaftaran GeNose di RS Bethesda bisa menggunakan link ini https://rs.bethesda.or.id/gnose/?png=501. “Daftar dengan link ini bisa ketahuan hari tersebut quota sudah penuh atau belum,” ujarnya.

Sementara itu, pelaksanaan hari kedua UTBK, Rektor UGM Prof Ir Panut Mulyono MEng DEng IPU ASEAN Eng meninjau langsung pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di sejumlah ruang ujian di kampus UGM, Selasa (13/4).

“Bersyukur pelaksanaan UTBK selama dua hari ini berlangsung tertib dan lancar, meski kemarin sempat ada kendala jaringan di salah satu lokasi ujian namun bisa segera diatasi,” kata Rektor kepada wartawan usai meninjau pelaksanaan UTBK di Perpustakaan UGM.

Dalam pelaksanaan UTBK, UGM menerapkan protokol kesehatan Covid-19. UGM menyediakan sejumlah fasilitas untuk mendukung penerapan protokol kesehatan di seluruh lokasi ujian. Beberapa di antaranya tepat cuci tangan, hand sanitizer, dan alat pengukur suhu. Selain itu menyediakan drop zone dan ruang tunggu yang memadahi syarat physical distancing. UGM juga menyiapkan tim satgas Covid-19 yang bertugas untuk memantau kesehatan para peserta dan panitia ujian UTBK.

Ketua Satgas Covid-19 UGM, Dr dr Rustamadji MKes menambahkan, tim satgas Covid-19 UGM terus memantau kesehatan peserta dan panitia ujian selama berlangsungnya UTBK dengan melibatkan mahasiswa dari UKM Unit Kesehatan Mahasiswa (Ukesma).

Ia mengungkapkan selama dua hari pelaksanaan ujian terdapat beberapa peserta yang tidak membawa surat keterangan hasil negatif/nonreaktif dari salah satu pemeriksaan Swab Antigen/GeNose/PCR yang masih berlaku (3 hari). Sementara surat keterangan tersebut menjadi salah satu persyaratan wajib mengikuti UTBK.

“Kemarin ada 12 peserta dan hari ini 7 peserta yang tidak membawa surat keterangan atau membawa tetapi masa berlakunya sudah habis. Lalu kita bantu tes GeNose di tempat ujian,” katanya

Sebelumnya, peneliti GeNose C19, dr Dian Kesumapramudya SpA MSc PhD menjelaskan, GeNose C19 masih dapat digunakan untuk skrining Covid-19 saat puasa. Namun begitu, ada beberapa hal khusus yang perlu diperhatikan agar pembacaan hasil genose bisa akurat. “Diupayakan pemeriksaan GeNose dilakukan saat pagi hari,” kata Dian.

Dian menjelaskan pemeriksaan GeNose dianjurkan saat pagi hari maksimal 6 jam setelah sahur. Sebab jika tes dilakukan lebih dari 6 jam usai sahur dikhawatirkan ada peningkatan asam lambung. Kondisi itu dapat memengaruhi hasil pembacaan GeNose.
“Terkait peningkatan asam lambung ini sebenarnya bisa diakali dengan berkumur, tetapi tetap lebih baik jangan lebih dari 6 jam sesudah sahur pemeriksaan GeNose-nya” terangnya.

Anggota peneliti GeNose C19 lainnya dr Mohamad Saifuddin Hakim MSc PhD menambahkan waktu yang dianjurkan untuk pemeriksaan GeNose adalah setelah berbuka puasa. “Selain pagi, tes GeNose sebaiknya dilakukan 1 jam setelah berbuka puasa,” imbuhnya.

Pada hari-hari biasa, untuk skrining adanya infeksi virus SARS Cov-2 lewat embusan napas ini pengguna diminta untuk tidak makan/minum yang berbau khas. Selain itu juga tidak merokok sekitar 30 menit hingga 60 menit sebelum pemeriksaan. Dengan begitu meminimalisir terjadinya positif palsu hasil pembacaan GeNose C19.

krjogja.com


BERITA TERKAIT