Guruh Soekarnoputro Desak Pemerintah Selamatkan Kraton Surakarta
KRJOGJA.COM | 03/05/2021 21:40
Guruh Soekarnoputro Desak Pemerintah Selamatkan Kraton Surakarta
Guruh Soekarnoputra, menjawab pertanyaan awak media seusai menjenguk Ketua Umum Partai Gerindra Suhardi yang dirawat karena kanker stadium 4 di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta (26/8). TEMPO/Dhemas Reviyanto

SOLO,KRJOGJA.com – Budayawan, politikus kondang Guruh Soekarnoputro mendesak pemerintah agar merawat dan memfungsikan kembali Museum Art Gallery Kraton Kasunanan Surakarta yang kini kondisinya terbengkalai. Padahal di dalam museum tersimpan benda budaya tiada ternilai koleksi benda-benda pusaka milik Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Benda-benda tersebut diantaranya adalah wayang kulit, topeng, guci, wayang purwa, wayang golek, wayang beber, kesenian topeng serta kereta kencana raja.

“Yang memprihatinkan benda budaya karya unggul, empu anak bangsa itu kondisinya memprihatinkan. Yang bisa merawat ya pemerintah. Saya menghimbau agar pemerintah yang memiliki anggaran dan aparatur negara bidang kebudayaan bertindak cepat untuk menyelamatkan aset budaya yang tidak ternilai itu, ” tutur putra Presiden RI Soekarno yang juga mantan anggota DPR RI itu ketika berkunjung ke Kraton Kasunanan Surakarta.

Selain Museum Art Gallery Kraton Kasunanan Surakarta, aset budaya yang terletak di dalam Kraton Surakarta mendesak untuk diselamatkan adalah Sasana Pustaka.

Perpustakaan yang terletak di dalam kompleks kraton Surakarta menyimpan berbagai koleksi manuskrip kuno tercatat sekitar 1.447 judul dari 696 volume.

Menurut Gusti Moeng panggilan akrab GKR Wandansari karena digembok tidak ada petugas yang ngopeni kondisi manuskrip kuno itu hancur. “Karena banyak talang di gedung Sasono Pustoko yang bocor, airnya masuk membasahi almari tempat menyimpan naskah. Padahal di sana tersimpan naskah-naskah penting yang bisa menjelaskan tentang sejarah kraton yang berkaitan dengan masa lalu bangsa ini. Kita semua sangat prihatin.” paparnya.

Guruh Soekarnoputra diantar Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) GKR Wandansari Koes Moertiyah, putri Paku Buwono XII GKR Retno Dumilah atau Gusti Is, seorang cucu Sinuhun PB XIII dan sejumlah sentana dalem.

Putra bungsu Presiden pertama Dr Ir Soekarno itu menunjukkan mimik muka sedih saat hanya bisa mengintip halaman Pendapa Sasana Sewaka dari celah pintu yang digembok dari dalam.

Guruh yang sempat berkeliling ke Museum Art Gallery Kraton Surakarta yang kini terbengkalai dan sebagian besar koleksi perhiasannya nampak lusuh, kurang terawat. Bahkan budayawan yang sudah punya nama besar di bidang musik, tari dan film nasional itu, hanya bisa geleng-geleng kepala karena kekayaan historis dan budaya suatu bangsa seperti museum dibiarkan tak terurus.

”Saya sulit harus berkata apa?. Tapi, seharusnya ini tidak boleh terjadi. Museum yang menyimpan sejarah masa lalu bangsa, dibiarkan seperti ini. Padahal, semua ini sangat bermanfaat bagi generasi bangsa ini sampai kapanpun. Saya sangat prihatin melihat semua ini. Kelihatan sekali tidak terurus, tampak lusuh. Pemerintah harus segera turun tangan mengatasi ini. Karena, yang punya kemampun untuk saat ini adalah pemerintah,” papar Guruh Soekarnoputra.

Guruh Soekarnoputra mengaku datang di keraton hanya mampir dari sebuah keperluan di Solo, sebelum menuju rumahnya di kawasan Kelurahan Laweyan, Kecamatan Laweyan, Solo. Sebagai sesama budayawan, Guruh mengaku memenuhi undangan Gusti Moeng untuk mampir saat saling kontak lewat telepon di sela-sela acaranya di Kota Bangawan.

Perihal kedatangannya di Keraton Surakarta yang secara khusus berkeliling melihat koleksi seisi museum, menurutnya belum genap dua atau tiga kali dilakukannya.

Karena, kedatangannya terakhir di Kraton Surakarta pada tahun 2016, karena diundang Gusti Moeng untuk menyaksikan tarian sakral Bedaya Ketawang yang digelar pada momentum upacara adat tingalan jumenengan dalem Sinuhun yang jumeneng. Ketika berkeliling di semua gedung dari sisi Timur hingga sisi Barat, Guruh bersama rombongan enam orang yang disebutnya ”Bala GSP” (Guruh Soekarno Putra) itu, dipandu abdidalem pemandu wisata RT Setiadi Setya Budaya. Gusti Moeng selaku Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) yang ikut mengantar tamu sesama budayawan itu, sesekali ikut membantu menjelaskan apa saja koleksi yang ditanyakan Guruh, dan juga anggota rombongannya yang baru sekali itu masuk Museum Art Gallery Keraton Surakarta.

Gusti Moeng yang mengantar rombongan Guruh tidak sendiri, karena tampak sang kakak, GKR Retno Dumilah atau Gusti Is, seorang cucu Sinuhun PB XIII dan sejumlah sentanadalem.

Selain diorama adegan perang Diponegoro, kereta kuda Kiai Groedha juga banyak dijelaskan. Ketika memasuki ruang sisi barat, Guruh melihat papan untuk display topeng tari kisah Panji Kediri karya Sinuhun PB IV, lepas dari pengaitnya, begitu pula beberapa jenis senjata tradisional yang tampak dibiarkan jatuh berkumpul di dalam almari tempatnya mendisplay.

Saat sampai pintu yang menghubungkan antara museum dengan halaman Pendapa Sasana Sewaka, Guruh dan rombongannya hanya bisa mengintip suasana di halaman melalui celah pintu yang digembok dari dalam.

Gusti Moeng menjelaskan, sebelum masa pandemi pernah ditutup rapat selama berbulan-bulan dan tidak boleh untuk konsumsi wisatawan pengunjung. Baru dibuka sebentar, lalu disusul masa pandemi yang kemudian ditutup hingga bulan Maret dibuka kembali dengan sangat terbatas karena harus mengikuti protokol kesehatan.

”Ya seperti itu situasi dan kondisinya. Yang di sini masih mending karena beberapa kali disambangi. Tetapi Sasana Pustaka yang berada di dalam sana, saya yakin sudah hancur. Karena, banyak talang yang bocor, airnya masuk membahasahi almari tempat menyimpan naskah. Padahal di sana tersimpan naskah-naskah penting yang bisa menjelaskan tentang sejarah kraton yang berkaitan dengan masa lalu bangsa ini. Kita semua sangat prihatin. Karena, masyarakat luas ikut dirugikan, terutama kalangan kampus,” ujar Gusti Moeng di depan Guruh yang hanya bisa geleng-geleng kepala, disaksikan semua yang ada di situ.

 krjogja.com


BERITA TERKAIT