Bukan Faktor Ekonomi, 1.000 Anak di Sleman Putus Sekolah
KRJOGJA.COM | 07/05/2021 23:51
Bukan Faktor Ekonomi, 1.000 Anak di Sleman Putus Sekolah
Pelajar membenahi masker adiknya pada hari pertama sekolah tatap muka di SD Negeri 42, Banda Aceh, Aceh, Senin, 4 Januari 2021. Mayoritas lembaga pendidikan tingkat SD, SMP, dan SMA di provinsi Aceh mulai melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan sistim bergiliran dan menerapkan protokol kesehatan secara ketat untuk mencegah penularan COVID-19. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra

SLEMAN, KRJOGJA.com – Berdasarkan data Tahun 2019, sebanyak 1.000 anak usia 7-18 tahun putus sekolah. Hal itu bukan karena faktor ekonomi, namun lebih banyak anak yang tidak ingin sekolah, bekerja dan disabilitas. Untuk mengatasi itu, Pemerintah Daerah akan memfasilitasi sekolah kejar paket maupun pelatihan.


Kepala Dinas Pendidikan Sleman Drs Ery Widaryana MM mengatakan, pendataan itu dilakukan terhadap anak yang berusia sekolah pada tahun 2019. Dari hasil pendataan, ternyata masih ada sekitar 1.000 anak tidak sekolah yang tersebar di Kabupaten Sleman.

“Putus sekolah ini bukan karena faktor ekonomi. Tapi lebih pada faktor lingkungan atau pergaulan. Hal itu menyebabkan anak tak ingin sekolah atau justru memilih bekerja,” kata Ery di kantornya.

Menurutnya, jika masalah ekonomi sebenarnya dapat difasilitasi melalui beasiswa dari pemerintah daerah. Bahkan bagi warga kurang mampu rentan miskin, Pemkab Sleman telah menganggarkan Jaminan Pembiayaan Pendidikan Daerah (JPPD).

“Pemerintah akan memberikan JPPD bagi warga miskin maupun rentan miskin yang ingin sekolah sampai tingkat SMA/SMK. Tujuannya agar anak usia sekolah tidak putus sekolah,” ujarnya.

Mengenai anak putus sekolah, Ery memberikan beberapa alternatif. Bagi anak yang ingin tetap melanjutkan di sekolah formal dengan syarat usianya masih memenuhi syarat, akan dibantu masuk. Namun jika tidak ingin sekolah formal, akan ditawari untuk sekolah kejar paket A, B dan C.

“Kalau memang usianya masih bisa masuk SD, SMP atau SMA, akan fasilitasi masuk sekolah formal. Tapi usianya sudah lebih atau tak ingin sekolah formal, bisa melanjutkan ke sekolah informal seperti Paket A, B dan C,” kata Ery.

Sedangkan bagi anak yang ingin berusaha, nanti akan difasilitasi oleh Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Sleman untuk diberikan pelatihan. Harapannya anak-anak tersebut memiliki ketrampilan dan dapat membuka usaha.

“Ketika ada anak yang ingin berwirausaha, kami akan koordinasikan dengan Disnaker untuk diberikan ketrampilan. Ketika sudah selesai, mereka bisa membuka usaha atau bahkan melamar kerja karena sudah memiliki keterampilan,” pungkasnya.

krjogja.com

 


BERITA TERKAIT