Ini Penjelasan BMKG Semarang Terkait Hujan Es di Puncak Gunung Slamet
KRJOGJA.COM | 31/01/2022 13:22
Ini Penjelasan BMKG Semarang Terkait Hujan Es di Puncak Gunung Slamet
Gunung Slamet. ANTARA/Irwansyah Putra

SEMARANG, KRJOGJA.com – Baru-baru ini pendaki asal Kabupaten Banjarnegara menemukan bongkahan es di puncak Gunung Slamet yang memiliki ketinggian 3.428 mdpl. Banyak yang berspekulasi terkait fenomena langka ini. Namun, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) A Yani Semarang punya penjelasan mengapa bisa ada es di puncak Gunung Slamet.

Menurut Prakirawan BMKG A Yani Semarang, Winda Ratri, bongkahan es di puncak Slamet berasal dari hujan es.

“Hujan es memang paling sering terjadi pada periode peralihan musim tapi bukan berati pada musim hujan seperti ini tidak mungkin terjadi,” ujarnya kepada media baru-baru ini.

Melihat waktu kejadian yaitu pada 16 Januari 2022, maka skenario hujan es yang paling mungkin menjelaskan asal-muasal es di puncak Slamet. Sebab, tanggal 16 Januari masuk dalam periode puncak musim hujan di mana cuaca ekstrem sangat berpotensi terjadi.

“Tanggal 16 sampai 20 Januari itu masuk dalam puncak musim penghujan untuk wilayah Jateng yang jatuh antara Januari hingga Februari di mana cuaca ekstrem sangat mungkin terjadi,” kata dia.

Pada cuaca ekstrem inilah hujan es terbentuk. Partikel air dari awan comulonimbus yang berada di freezing level membeku menjadi partikel es.

Pada titik tertentu, partikel es dan air jatuh menjadi hujan. Butiran es yang mencapai permukaan bumi inilah yang menjadi hujan es.

“Awan comulonimbus ini bisa sangat tinggi, bisa melampaui freezing level,” ujar dia.

Hal ini berbeda dengan fenomena embun upas yang kerap dijumpai di dataran tinggi Dieng. Embun upas terjadi pada musim kemarau.

Embun upas terjadi karena suhu udara yang mencapai titik beku. Hal ini membuat butiran embun membeku menjadi butiran es.

“Karena saat ini masuk puncak musim hujan, maka penjelasan yang make sense adalah karena hujan es,” ucapnya.

krjogja.com

 


BERITA TERKAIT