Studi: Menghadapi Skenario Terburuk Bumi pada 2050
BETAHITA.ID | 19/05/2021 08:01
Studi: Menghadapi Skenario Terburuk Bumi pada 2050
Pemandangan gletser Stein di Swiss pada 2015. Dalam satu dekade terakhir peneliti dan fotografer mengawasi perubahan yang terjadi pada gletser di seluruh dunia, dimana mengalami penurunan akibat pemanasan global. (Matthew Kennedy/Earth Vision Institute via AP)

BETAHITA.ID - 2050 datang menjelang. Krisis iklim seiring waktu akan semakin mambahayakan kehidupan semua makhluk hidup, termasuk manusia. Wajah Bumi yang digambarkan para peneliti cukup menyeramkan pada sekitar 3 dekade mendatang.

Menurut mereka, dalam buku berjudul "The Future We Choose: The Stubborn Optimist’s Guide to the Climate Crisis”, yang ditulis Christiana Figueres dan Tom Rivett-Carnac mengatakan bahwa .

Udara akan sangat tercemar, membuat semua manusia mengalami gangguan pernafasan batuk. Manusia pada masa mendatang harus repot memeriksa kualitas udara terlebih dahulu sebelum membuka jendela.

Saking tercemarnya udara setiap mata akan berair dan manusia harus memakai masker setiap hari. Jika hari sedang buruk, manusia harus memakai masker berteknologi tinggi, itu pun jika mampu membelinya.


Suhu udara sangat tergantung tempat tinggal, temperatur bisa mencapai 60 derajat Celcius selama lebih dari sebulan setiap tahun. Air menjadi satu komoditas paling mahal di dunia.

Pada saat itu, akan banyak orang mengutuk para leluhur atau orang tua mereka (yang hidup pada saat ini) lantaran lalai menjaga kelestarian bumi.

Skenario kasus terburuk ini adalah bagaimana kehidupan akan terjadi jika tidak ada kemajuan yang dibuat dalam memperlambat efek rumah kaca untuk mengurangi perubahan iklim.

Untuk menghindari masa depan seperti itu, Figueres dan Rivett-Carnac, dua arsitek utama Perjanjian Paris, mengatakan dunia harus memangkas setengah emisi gas rumah kaca setiap 10 tahun.

"Jika kita dapat mendekarbonisasi ekonomi kita dengan cepat, mendekati nol pada pertengahan abad, kita dapat memelihara planet yang layak huni dan ekonomi yang dinamis pada saat yang sama," ujar Michael E. Mann, profesor ilmu atmosfer di Penn State.

Di masa depan, tulis Figueres dan Rivett-Carnac, jalan-jalan kota akan memiliki lebih banyak pohon dan lebih sedikit mobil.

Dibandingkan menggunakan bahan bakar fosil, banyak negara akan mengandalkan energi terbarukan, seperti angin, matahari, panas bumi, dan hidro. Sementara kecerdasan buatan dalam mesin dan peralatan akan membuatnya lebih hemat energi.

"Udara akan menjadi lebih bersih daripada sebelum Revolusi Industri," tulis rekan penulis.

Orang-orang di masa depan juga tidak akan makan daging atau susu. Bahkan, generasi mendatang tidak akan percaya bahwa generasi sebelumnya biasa membunuh hewan untuk dimakan.

Manusia akan makan produk yang bersumber secara lokal dari pertanian daripada berbelanja di toko grosir besar. "Di mana semuanya harus dikirim dari tempat yang jauh untuk sampai ke toko," tulis Figueres dan Rivett-Carnac.

betahita.id


BERITA TERKAIT