UNICEF: Satu Miliar Anak Dikepung Bahaya Krisis Iklim
BETAHITA.ID | 20/08/2021 19:11
UNICEF: Satu Miliar Anak Dikepung Bahaya Krisis Iklim
UNICEF: Satu Miliar Anak Dikepung Bahaya Krisis Iklim

BETAHITA.ID - Laporan UNICEF menyatakan hampir setengah dari 2,2 miliar anak di dunia sudah berada dalam "risiko sangat tinggi" dari dampak krisis iklim dan polusi. Bahkan badan PBB urusan anak itu mengkategorikan situasinya dengan kalimat “sangat mengerikan”.

Studi mengatakan hampir setiap anak di seluruh dunia berisiko dari setidaknya satu dari dampak krisis iklim hari ini: gelombang panas, banjir, angin topan, penyakit, kekeringan, dan polusi udara. Namun di beberapa wilayah, ada juga anak-anak yang langsung mengalami keseluruhan dampak. Mereka adalah anak-anak yang tinggal di negara seperti India, Nigeria dan Filipina, dan sebagian besar Afrika sub-Sahara.

Laporan ini adalah studi pertama yang menggabungkan peta resolusi tinggi dari dampak iklim dan lingkungan dengan peta kerentanan anak, seperti kemiskinan dan akses ke air bersih, perawatan kesehatan dan pendidikan. “Ini pada dasarnya menunjukkan kemungkinan kemampuan anak untuk bertahan dari perubahan iklim,” kata Nick Rees, salah satu penulis laporan tersebut. Laporan UNICEF ini diluncurkan bertepatan dengan peringatan tahunan aksi mogok sekolah demi penanggulangan krisis iklim yang dimotori oleh Greta Thunberg, bocah aktivis asal Swedia.

Henrietta Fore, Direktur Eksekutif UNICEF, mengatakan, untuk pertama kalinya ada laporan yang memberikan gambaran lengkap tentang di mana dan bagaimana anak-anak rentan terhadap perubahan iklim. “Gambaran itu sebelumnya hampir tak terbayangkan mengerikan. Hampir tidak ada kehidupan anak yang tidak terpengaruh,” ujarnya. “Anak-anak secara unik rentan terhadap bahaya iklim,” kata Fore. “Dibandingkan dengan orang dewasa, anak-anak membutuhkan lebih banyak makanan dan air per unit berat badan dan kurang mampu bertahan dari peristiwa cuaca ekstrem.”

Tuntutan Penyertaan Kaum Muda dalah Keputusan Iklim Laporan tersebut menyerukan penyertaan kaum muda dalam semua negosiasi dan keputusan iklim, termasuk pada KTT Cop26 PBB di Glasgow pada bulan November. “Keputusan akan menentukan masa depan mereka,” kata Fore. “Anak-anak dan remaja perlu diakui sebagai pewaris sah planet yang kita semua miliki ini.”

Menanggapi studi ini, Greta Thunberg berkata, anak bukan hanya korban, anak-anak juga memimpin pertarungan melawan krisis, sebab di masa depan anak-anak hari inilah yang akan menerima dampak. “Dunia hari ini maasih saja berpura-pura dengan melakukan greenwashing, laporan ini akan memobilisasi kaum muda ke arah yang benar,” ujarnya.

Nkosilathi Nyathi, seorang aktivis iklim dari Zimbabwe mengatakan perubahan iklim sangat pribadi baginya. Apa pasalnya? Dia mengatakan gelombang panas dan banjir telah mengganggu sekolahnya dan para petani di desanya berjuang menghadapi cuaca yang tidak dapat diprediksi. Banyak kesusahan yang harus ditanggung akibat krisis iklim. “Saya bersemangat tentang inklusi kaum muda dalam platform pengambilan keputusan – kaum muda adalah sumber daya alam yang paling berharga di dunia.”

Laporan Unicef ​​mengatakan dampak krisis iklim “sangat tidak adil” dan sangat mungkin menjadi lebih buruk, sebab, 10 negara teratas yang berisiko sangat tinggi hanya bertanggung jawab atas 0,5% emisi global. Artinya ada pembiaran yang terjadi d negara-negara berisiko krisis iklim. Kajian tersebut menemukan 920 juta anak sangat rentan terhadap kelangkaan air, 820 juta terhadap gelombang panas, dan 600 juta terhadap penyakit yang ditularkan melalui vektor seperti malaria dan demam berdarah, yang kemungkinan akan bertambah buruk karena kondisi iklim yang sesuai untuk penyebaran nyamuk dan patogen.