Banjir New York: Peringatan Perubahan Iklim Semakin Parah
BETAHITA.ID | 05/09/2021 08:00
Banjir New York: Peringatan Perubahan Iklim Semakin Parah
Banjir New York: Peringatan Perubahan Iklim Semakin Parah

BETAHITA.ID -  Hujan deras yang membanjiri New York, New Jersey, Pennsylvania dan Connecticut pada Rabu (1/9) lalu, ternyata merenggut 41 jiwa. Ilmuwan iklim mengatakan hujan membawa peringatan keras tentang perubahan: ketika bumi semakin panas, badai dengan hujan yang lebih lebat, mengancam akan kehancuran kota-kota yang tidak siap.

Para peneliti iklim telah lama meramalkan bahwa pemanasan global membuat beberapa wilayah akan lebih basah, sebagian karena atmosfer yang lebih hangat dapat menahan lebih banyak kelembaban. Tetapi hanya dengan melihat rata-rata global dapat menghilangkan kenyataan yang lebih penting: sekarang badai hujan lebat lebih intens dan dapat menghasil lebih banyak air hujan dengan waktu yang singkat. Kejadian-kejadian ekstrim itulah yang mendorong terjadinya banjir hebat, “Intensitas badai meningkat jauh lebih cepat daripada rata-rata perubahan curah hujan,” jelas Aiguo Dai, seorang profesor ilmu atmosfer di Universitas di Albany, SUNY. “Dan intensitas yang benar-benar penting, karena itulah yang kami rancang untuk ditangani oleh infrastruktur kami.”

Ketika sisa dari Badai Ida menyapu kota New York, Central Park menerima hujan 3.25 inci dalam satu jam pada Rabu malam, memecahkan rekor sebelumnya sebesar 1.94 inci pada 21 Agustus selama Badai Tropis Henri. Semburan hujan yang tiba-tiba melumpuhkan kota, dengan aliran air mengalir ke stasiun kereta bawah tanah dan mematikan sebagian besar sistem selama berjam-jam. Di sepanjang benua Amerika Serikat, hujan lebat menjadi lebih sering dan parah dalam beberapa dekade terakhir menurut pemerintahan federal Penilaian Iklim Nasional (National Climate Assessment).

Di Timur Laut, 1 persen badai terkuat sekarang menghasilkan 55 persen lebih banyak curah hujan daripada yang terjadi pada pertengahan abad ke-20. “Ada banyak fluktuasi dari tahun ke tahun, tetapi dalam jangka waktu yang lebih lama, trennya menjadi semakin jelas,” jelas Dr. Dai. “Ini persis seperti yang diprediksi oleh teori dan model iklim.”

Pada Juli, hujan lebat yang luar biasa mengguyur Jerman dan Belgia menyebabkan sungai meluap, menghanyutkan bangunan dan menewaskan lebih dari 220 korban jiwa. Pada bulan yang sama, hujan deras berhari-hari di Zhengzhou, Cina, menenggelamkan sistem kereta bawah tanah kota dan menyebabkan sedikitnya 300 kematian di wilayah tersebut. Sementara para ilmuwan tidak dapat selalu memprediksi dengan tepat kapan dan di mana badai hujan seperti ini akan terjadi, mereka memahami bagaimana pemanasan global membuat badai tersebut semakin kuat.

Saat suhu naik, akan lebih banyak air menguap ke udara dari lautan dan daratan. Dan, untuk setiap 1 derajat celcius dalam pemanasan global, atmosfer dapat menampung sekitar 7 persen lebih banyak uap air.  Artinya, ketika pembentukan badai hujan di langit, akan ada lebih banyak air yang turun ke bumi, terkadang hanya dalam kurun waktu yang singkat. Studi terbaru memprediksi akan adanya peningkatan curah hujan ekstrem setiap jamnya di beberapa bagian Amerika Serikat, Eropa, Australia, dan Asia. Jika bumi terus memanas, ancaman curah hujan lebih tinggi akan semakin memungkinkan.

Bumi telah menghangat sekitar 1.1 derajat celcius sejak zaman pra industri yang didorong oleh emisi gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil dan penggundulan hutan. Tanpa tindakan cepat untuk mengurangi emisi tersebut, dari laporan Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) memperingatkan, planet ini dapat memanas dua kali lipat lipat atau lebih. Laporan tersebut mengeksplorasi konsekuensi dari peristiwa hujan lebat. Jika mempertimbangkan dari badai hujan lebat yang pernah ada di masa lalu, mungkin terjadi rata-rata hanya sekali dalam satu dekade.

Hari ini, kemungkinan 30 persen badai hujan lebat lebih sering terjadi dan menghasilkan curah hujan 6,7 persen lebih banyak. Jika pemanasan global mencapai 2 derajat celcius, badai yang sama akan menghasilkan curah hujan 14 pesen lebih banyak. Laporan tersebut memperkirakan hujan lebat dan banjir akan lebih sering terjadi di Amerika Utara, Eropa, Afrika, dan Asia seiring dengan kenaikan suhu global. Curah hujan yang tinggi dapat menjadi berkah untuk persediaan air minum dan pertanian, seperti di Amerika Barat yang sedang bergulat dengan kekeringan.

Namun, jika turun dengan lebat sekaligus juga dapat menjadi bencana. Di Tennessee bulan lalu, badai petir hebat menyebabkan sungai dan anak sungai meluap dengan cepat, membanjiri rumah dan menewaskan setidaknya 22 orang. Sementara, jalan tol Highway 1 di California runtuh ke Samudera Pasifik di awal tahun ini setelah hujan lebat yang mengeluarkan semburan lumpur dan puing-puing. Pada 2019, hujan tidak tidak henti-hentinya di Midwest, menghabiskan seluruh tanah sehingan petani terpaksan menunda penanaman mereka.

Apakah selalu ada banjir besar setelah hujan lebat? Tergantung dari kombinasi faktor: jumlah curah hujan, aliran air dan daya tampung dalam tanah serta bagaimana air dikelola. Seiring dengan waktu, penelitian menemukan, Amerika Serikat dan negara-negara lain telah berhasil mengupayakan penanggulangan terhadap berbagai jenis banjir yang berbahaya dengan membangun bendungan, tanggul, dan tindakan perlindungan lainnya. Namun, masih banyak risiko yang tersisa. Kota-kota seperti New York lebih rentan berpotensi banjir karena area penyerapan air yang sedikit. Di Houston, para peneliti telah menemukan pembangunan infrastruktur seperti membuka lahan parkir beraspal dan bangunan perumahan membantu memperburuk banjit setelah Badai Harvey, 2017.


BERITA TERKAIT