Gejala Klinis dan Cara Penanganan Penyakit Demam Babi Afrika
BORNEONEWS.CO.ID | 19/10/2021 16:00
Gejala Klinis dan Cara Penanganan Penyakit Demam Babi Afrika
Seekor babi liar berukuran ekstra besar dan dijuluki Pigzilla berkeliaran dekat sekolah di Hong Kong. Mirror.co.uk

BORNEONEWS, Tamiang Layang - Medik Veteriner Muda Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Barito Timur, Dokter Hewan Akhmad Rizaldi mengatakan, tanda-tanda klinis babi yang terpapar African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika yakni kemerahan di bagian perut, dada dan scrotum.

Selain itu, babi juga mengalami diare berdarah, kemerahan pada telinga, demam 41 derajat celsius, konjungtivitis, anoreksia, ataksia, paresis dan kejang.

Kadang-kadang babi juga mengalami muntah, diare atau sembelit, pendarahan kulit sianosis yang menyebabkan babi menjadi tertekan, telentang, kesulitan bernapas dan tidak mau makan.

"Virus ASF juga sangat tahan hidup di cuaca dingin maupun panas, serta relatif lebih tahan terhadap disinfektan," ujar Rizaldi di Tamiang Layang, Selasa, 19 Oktober 2021.

ASF dapat menyebar melalui kontak langsung serangga, pakaian, peralatan peternakan, kendaraan dan pakan yang terkontaminasi seperti limbah bekas catering yang mengandung daging babi.

"Hingga saat ini belum ditemukan vaksin untuk pencegahan ASF, karena itu peternak harus mewaspadai penyebaran ASF. Penyakit ini penularannya cepat dan dapat menyebabkan kematian pada babi hingga 100 persen, sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi yang sangat besar," lanjut Rizaldi.

Meski demikian, ASF tidak berbahaya bagi manusia dan bukan masalah kesehatan masyarakat. ASF bukan penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia (zoonosis).

Untuk pencegahan, Rizaldi menyarankan peternak tidak memberi pakan dari limbah bekas catering. Selain itu, dia juga melarang peternak mendatangkan babi dari daerah yang memiliki kasus ASF.

"Jika terjadi kasus ASF, maka ternak babi di wilayah itu dimusnahkan dan dikosongkan selama 2 bulan serta dilakukan penyemprotan disinfektan," jelasnya.

Babi yang mati harus segera dikubur dan tidak dibuang ke sungai atau ke tempat sampah. "Kami juga mengimbau peternak maupun PPL agar segera melaporkan ke dinas perikanan dan peternakan maupun ke UPT Puskeswan Tamiang Layang dan Ampah jika menemukan kasus kematian mendadak babi dalam jumlah banyak," pesan Rizaldi.

Data dari Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan atau TPHP Provinsi Kalteng, hingga hari ini 1.286 ekor ternak babi yang dilaporkan mati mendadak. Laporan itu berasal Kabupaten Pulang Pisau, Gunung Mas, Katingan, Murung Raya dan Kota Palangka Raya.

borneonews.co.id


BERITA TERKAIT