Aktivitas Perikanan Tangkap Sumbang Limbah Plastik di Lautan
DARILAUT.ID | 03/03/2021 11:44
Aktivitas Perikanan Tangkap Sumbang Limbah Plastik di Lautan
Sejumlah warga memungut sampah plastik yang berserakan di kawasan Pantai Kedonganan, Badung, Bali, Sabtu (26/1/2019). Sampah plastik kiriman yang terdampar akibat gelombang tinggi dan angin kencang tersebut mengganggu aktivitas warga dan nelayan serta mengurangi kenyamanan wisatawan. (ANTARA FOTO)

Darilaut – Ketua Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan (PSP) IPB University Dr Sugeng Hari Wisudo mengatakan saat ini limbah plastik dari aktivitas perikanan tangkap turut menjadi salah satu penyumbang terbesar sampah laut.

Dengan demikian, kata Sugeng, harus ada tindakan nyata dalam merumuskan material yang ramah lingkungan bagi kebutuhan perikanan tangkap maupun aktivitas di wilayah laut lainnya.

Hal senada disampaikan Dosen Departemen PSP FPIK IPB University Dr Mochammad Riyanto. Marine debris amat berperan besar pada kerusakan di wilayah laut.

Menurut Riyanto sampah dari laut diketahui sebagian besar berasal dari aktivitas perikanan dan pelayaran sehingga kini menjadi isu global.

Debris berupa mikroplastik dan ghost gear sangat berbahaya dan berdampak pada rantai makanan dan keutuhan jenis biota laut dan habitatnya.

Seperti dilansir Ipb.ac.id, Himpunan Alumni Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB bekerja sama dengan Departemen PSP IPB University menggelar webinar gabungan FishTalk dan Voice for Fisheries, pada Sabtu (27/2).

Webinar yang mengambil topik “Limbah Perikanan Tangkap, Dampak dan Strategi Mitigasi” tersebut digelar untuk membahas dan menjawab permasalahan sampah plastik di wilayah perairan laut.

Tidak hanya itu, pencemaran sampah juga berdampak pada perekonomian masyarakat.

Riyanto mengatakan bahaya ghost gear berjenis bottom gillnet ditemukan menjadi faktor utama peningkatan cemaran laut. Penelitian di tahun 2015-2019 menunjukkan bahwa temuan ghost gear cenderung meningkat.

Oleh karena itu, upaya khusus penanggulangan ghost gear harus segera diberlakukan, mulai dari standarisasi gear making dan penerapan teknologi modern untuk meminimalisir terjadinya ghost gear.

Tindakan mitigasi seperti penggunaan biodegradable material untuk mengurangi ghost fishing dan tindakan kuratif berupa pembersihan alat tangkap juga patut diterapkan.

“Kita harus perhatian terhadap permasalahan debris, upaya terstrukur untuk pencegahan dan monitoring perlu dilakukan. Para peneliti juga harus mengambil peran untuk mengatasi permasalahan tersebut,” katanya.

Terkait limbah plastik, Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan Andi Rusandi, mengatakan limbah plastik tersebut telah menjadi tantangan dalam pengelolaan konservasi. Proyeksi timbulan sampah darat di tahun 2025 dikhawatirkan bisa mencapai 71,3 juta ton apabila tidak ada aksi nyata.

darilaut.id


BERITA TERKAIT