Januari – Juni Terjadi 1.499 Bencana Alam di Indonesia
DARILAUT.ID | 06/07/2021 12:24
Januari – Juni Terjadi 1.499 Bencana Alam di Indonesia
Peserta mendayung perahu karet mengamati titik longsor di Ruas Sungai Ciliwung, Depok, Jawa Barat, Jumat 23 Oktober 2020. Kegiatan tersebut sebagai pelatihan penanggulangan bencana longsor dan banjir di ruas Sungai Ciliwung. ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha

Darilaut – Sejak 1 Januari hingga 30 Juni telah terjadi sebanyak 1.499 bencana alam di Indonesia. Bencana hidrometeorologi, seperti banjir, angin puting beliung dan tanah longsor mendominasi kejadian sepanjang tahun 2021.

Berdasarkan catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, sejak Januari hingga Juni bencana alam gempa bumi terjadi 20 kali, Karhutla 114 dan kekeringan 2. Kemudian bencana banjir 616, tanah longsor 309, puting beliung 417, serta gelombang pasang dan abrasi 21.

Bencana alam ini paling banyak terjadi di Pulau Jawa, Sumatera, dan Nusa Tenggara Barat. Jumlah korban yang meninggal dunia sebanyak 495, hilang 68, luka-luka 12.862, yang menderita dan mengungsi sebanyak 5.391.502.

Sementara itu, di bulan Juni 2021 terjadi sebanyak 137 kejadian bencana alam. Bencana hidrometeorologi, seperti angin puting beliung, banjir dan tanah longsor, mendominasi kejadian sepanjang Juni.

BNPB mencatat bencana hidrometeorologi masih mendominasi kejadian bencana alam di Tanah Air. Jumlah kejadian tertinggi yaitu bencana angin puting beliung sebanyak 50 kejadian, disusul tanah longsor 39 dan banjir 33.

Di samping bencana tersebut, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga berlangsung sebanyak 12 kejadian dan gelombang pasang atau abrasi 1. Sedangkan bencana geologi, BNPB mencatat sebanyak 2 kali.

Sepanjang bulan lalu, sebanyak 2 warga meninggal dunia akibat bencana, yang disebabkan oleh angin puting beliung dan tanah longsor. Dari sisi korban luka, jumlah korban meninggal berjumlah 32 warga, yang disebabkan bencana hidrometeorologi.

Bencana juga mengakibatkan kerusakan material, antara lain tempat tinggal warga. Total rumah warga rusak mencapai 1.205 unit dengan rincian rusak ringan 777 unit, rusak sedang 248 dan rusak berat 163, sedangkan 17 unit masih menunggu verifikasi dari BPBD saat gempa M5,1 terjadi di wilayah Yogyakarta pada 28 Juni 2021 lalu. Pada bahaya banjir, lebih dari 15.000 rumah terendam.

Kerusakan rumah warga lebih disebabkan bencana hidrometeorologi dibandingkan geologi. BNPB mencatat gempa menyebabkan 250 unit rumah warga mengalami kerusakan, sedangkan sisanya diakibatkan bencana seperti banjir, angin puting beliung dan tanah longsor.

Memasuki bulan Juli 2021, masyarakat masih dihadapkan pada potensi bahaya hidrometeorologi, seperti angin kencang dan banjir.

BNPB selalu mengimbau masyarakat untuk selalu waspada dan siap siaga terhadap potensi bahaya bencana alam yang terjadi. Apalagi saat ini masih terjadi penyebaran Covid-19, pandemi ini perlu mendapatkan perhatian serius masyarakat, khususnya mereka yang juga terdampak pada bencana alam.

darilaut.id


BERITA TERKAIT