Platform Data Paus dan Lumba-lumba Untuk Kelangsungan Mamalia Laut
DARILAUT.ID | 09/07/2021 09:00
Platform Data Paus dan Lumba-lumba Untuk Kelangsungan Mamalia Laut
Rekor Baru, Paus Berenang Kelilingi Nyaris Separuh Permukaan Bumi

Darilaut – Perairan di Somalia selatan tampaknya menjadi habitat penting bagi mamalia laut yang terancam punah yang jumlahnya terus berkurang.

Padahal, selama bertahun-tahun, hanya sedikit yang didokumentasikan tentang paus bungkuk atau spesies lumba-lumba yang berbeda di perairan pesisir Kenya atau paus pembunuh.

Melansir Theeastafrican.co.ke, pada tahun 2011, beberapa lembaga non-pemerintah dan pemerintah bersatu untuk mengubah ini dan membentuk Kenya Marine Mammal Network (KMMN) — Jaringan Mamalia Laut Kenya — untuk menyediakan platform dan mengumpulkan data mamalia laut di sepanjang pantai Kenya. Kemudian, mengidentifikasi area utama untuk konservasi lumba-lumba dan paus.

Salah satu prioritas KMMN adalah menetapkan hotspot lumba-lumba, paus, dan dugong (sedikitnya lima yang tersisa di Kenya) untuk dilakukan akreditasi Area Mamalia Laut Penting (Important Marine Mammal Areas, IMMAs) di Kenya.

Kegiatan ini dalam lingkup International Union for Conservation of Nature’s (IUCN) World Commission on Protected Areas, sebuah inisiatif yang dibuat pada tahun 2013.

Apa yang dikerjakan KMMN telah ditampilkan dalam jurnal ilmiah peer-review, termasuk Frontiers in Marine Science.

Sebagai contoh, artikel dengan judul “Cetacean Research and Citizen Science in Kenya” yang diterbitkan dalam jurnal edisi 16 Juni. Tulisan ini mengulas data tentang penampakan atau kemunculan dan cetacea kecil yang terdampar, terutama lumba-lumba.

Fokus artikel ini pada spesies yang dipelajari dengan baik yang populasinya terancam dan mengalami penurunan yang signifikan. Dalam beberapa kasus, kepunahan terjadi karena ancaman antropogenik seperti polusi yang terbawa air, interaksi perikanan, pembangunan pesisir dan pelayaran maritim dan kebisingan industri.

Data Mamalia Laut

Data KMMN yang dipublikasikan dalam International Whaling Commission Technical Report 2020 menunjukkan bahwa dari 2011 hingga 2018, terdapat 1.406 catatan 24 spesies lumba-lumba dan paus di Kenya.

Ini termasuk spesies pantai yang paling sering terlihat seperti lumba-lumba hidung botol (bottlenose dolphin) Indo-Pasifik dan lumba-lumba punggung bungkuk (humpback dolphin) di Samudera Hindia yang jarang terlihat. Spesies lepas pantai termasuk paus orca, paus pemandu sirip pendek (short-finned pilot whales), lumba-lumba pemintal (spinner dolphins) dan mamalia terbesar di Bumi, paus biru (blue whale).

Dari jumlah tersebut, spesies yang kurang dikenal seperti paus sperma kerdil (pygmy sperm whale), paus kepala melon (melon headed whale), lumba-lumba belang (striped dolphin) dan lumba-lumba Risso (Risso’s dolphin) dicatat melalui laporan kasus yang terdampar. Berarti yang tercatat ditemukan saat terdampar, dalam keadaan mati atau hidup di pantai.

Sementara banyak hal yang telah dibahas dalam pengumpulan informasi, publikasi KMMN menunjukkan berapa banyak lagi data yang dibutuhkan dari daerah yang kurang dipelajari seperti di Teluk Ungwana dan kepulauan Lamu.

Karya KMMN juga ditampilkan pada pertemuan ilmiah dan konservasi yang diselenggarakan oleh International Whaling Commission dan Konferensi Mamalia Laut Dunia, untuk meningkatkan status dan visibilitas dalam skala global.

Data ini telah digunakan untuk mendukung daftar tiga Kawasan Mamalia Laut Penting IUCN di Kawasan Konservasi Laut Watamu-Malindi dan Tepian Watamu, Kisite-Mpunguti dan lepas pantai Lamu.

Keberadaan paus biru yang terancam punah dilaporkan oleh Pengamat Mamalia Laut minyak dan gas yang menyertai kapal seismik sebagaimana diwajibkan oleh undang-undang untuk mengumpulkan data dan memastikan operasi tidak mengganggu hewan selama survei. Data paus biru tercatat pada 2014 dan 2015 dari atas kapal.

Habitat Penting

Perairan Kenya utara dan Somalia selatan kemungkinan merupakan habitat penting bagi paus biru di Samudra Hindia selama periode Monsun Tenggara.

Sejak 2016, Satuan Tugas Kawasan Perlindungan Mamalia Laut IUCN telah mengidentifikasi IMMA dengan menggunakan kriteria standar di enam wilayah laut, melalui lokakarya ahli regional.

Area Mamalia Laut Penting didefinisikan sebagai habitat penting bagi spesies mamalia laut yang memiliki potensi untuk dilindungi dan dikelola untuk konservasi.

Alasan pengembangan area tersebut mencakup fakta bahwa mamalia laut telah diabaikan oleh banyak upaya nasional, namun mereka merupakan indikator kesehatan ekosistem laut.

Mamalia laut bermigrasi melalui jarak laut yang luas melintasi batas-batas internasional seperti paus bungkuk seberat 30 ton (setara dengan enam gajah dewasa). Paus raksasa ini bermigrasi setiap tahun dari Antartika ke ujung utara Afrika, melewati pantai Kenya dan kembali lagi.

Asosiasi Kelautan Watamu dan koordinator proyek Penelitian dan Konservasi Mamalia Laut Kenya, Michael Mwang’ombe, mengatakan, IMMA datang pada waktu yang tepat. Kenya telah memetakan wilayah laut yang akan membantu mengidentifikasi ancaman yang mempengaruhi mamalia laut.

“Lumba-lumba dan paus membutuhkan lebih banyak penelitian untuk memfasilitasi perencanaan konservasi dan penetapan kawasan lindung laut. Kami berkolaborasi dengan lembaga pemerintah dan pemangku kepentingan lokal dalam penelitian mamalia laut di IMMA yang ditunjuk,” katanya.

Sumber:

https://www.theeastafrican.co.ke/tea/science-health/data-on-whales-dolphins-is-critical-to-their-survival-3462740


BERITA TERKAIT