Penjelasan LIPI Terkait Ribuan Teripang Terdampar di Pantai Sambas
DARILAUT.ID | 20/07/2021 10:40
Penjelasan LIPI Terkait Ribuan Teripang Terdampar di Pantai Sambas

Darilaut – Ribuan teripang terdampar di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, pada Rabu (14/7). Persitiwa menghebohkan ini terjadi di sisi utara pantai Sambas.

Setelah dianalisis, teripang atau timun laut yang terdampar dalam jumlah banyak ini tidak bernilai ekonomis di Indonesia.

Terkait fenomena tersebut, Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menduga peristiwa ini terjadi karena pergerakan massa air dalam ke permukaan atau disebut dengan upwelling, akibat gelombang tinggi dan arus kuat pada Selasa (13/7) malam. Pada saat terjadi upwelling tersebut, bersamaan dengan perilaku timun laut yang sedang aktif keluar dari liangnya.


Penjelasan ini disampaikan Tim Teripang Pusat Penelitian Oseanografi LIPI (Bioekologi, Penginderaan Jauh dan Oseanografi Fisika) yang dikoordinir oleh Ana Setyastuti, Ismiliana Wirawati dan Muhammad Hafizt melalui laman Oseanografi.lipi.go.id.

Menurut Tim Peneliti Teripang, jenis timun laut belum dapat dipastikan, karena hanya berdasarkan rekaman video yang beredar. Dengan keterbatasan itu analisis sementara jenis teripang termasuk kelompok Caudinidae.

Habitat Substrat Berpasir

Teripang ini dengan ukuran panjang tubuh 2 sampai 5 cm saat hidup. Habitat berada di substrat berpasir.

Kedalaman habitat bervariasi lebih dari 25 m dan di lokasi tertentu mencapai 5000 m.

Teripang ini hanya aktif di malam hari. Hidup dengan cara membenamkan diri di dalam sedimen pasir.
Timun laut ini hanya keluar dari liang di malam hari untuk mencari makan.

Suhu dan Kandungan Klorofil

Tim Peneliti juga melakukan pengecekan kondisi perairan khususnya terkait dengan suhu dan kandungan klorofil secara cepat melalui https://worldview.earthdata.nasa.gov/.

Namun, tim peneliti tidak mendapatkan banyak informasi karena tutupan awan yang tinggi pada saat kejadian pada 13 Juli 2021. Kondisi suhu permukaan perairan sekitar pesisir pantai Sambas berkisar 29-30°C atau normal.

Sebagai perbandingan tim melakukan validasi suhu permukaan laut (SPL) melalui data stasiun pengamatan NOAA di sekitar perairan Laut Cina Selatan (https://coralreefwatch.noaa.gov/product/vs/map.php).

Hasil menunjukkan bahwa SPL hanya mengalami anomali suhu sebesar 0.6 °C dari rata rata suhu bulanan, namun masih pada kisaran normal, yaitu tidak melebihi 30°C.

Kondisi kandungan klorofil-a di sekitar perairan barat Kalimantan yang paling dekat dengan Sambas, khususnya pada area muara sungai, pada tanggal 13 Juli memiliki nilai tertinggi mencapai 3,9 mg/m3. Nilai tersebut masih berada dalam kisaran normal.

Kondisi Gelombang

Hasil pengecekan Tim Peneliti menyangkut kondisi gelombang dan arus, berdasarkan data dari https://earth.nullschool.net/ pada 13 Juli 2021 menunjukkan nilai 2500 @ 3.3 s dan 3000 @ 0.67 m/s. Angka tersebut sudah masuk dalam kategori gelombang tinggi dan arus kuat.

Data ini juga diperkuat dengan pernyataan dari narasumber perekam video, Ramli dalam berita insidepontianak.com, dan Dosen FMIPA di Universitas Tanjungpura Antony Aritonang selaku. Pada Selasa 13 Juli malam, sebelum kemunculan teripang, terjadi cuaca buruk dan ombak besar.

Menurut Antony timun laut yang terdampar masih dalam keadaan hidup (karena masih terlihat berkontraksi/menggeliat), terdapat juga pecahan arang, ikan dan hewan bentik lainnya tapi jumlahnya tidak banyak.

Peristiwa timun laut terdampar juga sempat terjadi pada tahun 2019 di pesisir Lumukutan, Kalimantan Utara (Malaysia). Tetapi jumlah timun laut yang terdampar tidak sebanyak yang sekarang dan jenisnya Holothuria atra.

Selain itu, di sekitar Sambas, hampir setiap tahun saat gelombang tinggi (2-5 meter) juga sering ditemukan beberapa anakan hiu terdampar dalam keadaan lemas atau sudah menjadi bangkai.

Upwelling

Dengan data yang terkumpul seperti tersebut di atas, dugaan sementara Tim Peneliti terkait peristiwa ini adalah terjadi pergerakan massa air dalam ke permukaan atau disebut dengan upwelling. Hal ini akibat gelombang tinggi dan arus kuat di malam tanggal 13 Juli, dan pada saat terjadi upwelling tersebut bersamaan dengan perilaku timun laut yang sedang aktif keluar dari liangnya.

Timun laut kelompok Caudinidae yang ditemukan di sini adalah kelompok yang memang memiliki ukuran tubuh dewasa relatif kecil. Di samping itu, timun laut memang memiliki pergerakan yang lambat, termasuk kelompok Caudinidae ini.

Saat malam hari sedang keluar dari liang untuk mencari makan, terjadi pergerakan arus naik. Dengan mudah timun laut akan terangkat ke atas, kemudian terhempas hingga ke pinggir pantai.

Pertanyaan yang mungkin muncul, peristiwa upwelling bisa terjadi secara periodik di perairan Indonesia, akan tetapi kenapa baru kali ini mengangkat timun laut ke permukaan?

Kemungkinan besar hal tersebut karena kekuatan arusnya yang cukup kuat. Saat ini sedang musim Timur di mana arus kuat bergerak dari Laut Jawa ke arah Laut Cina Selatan, dan terjadi di malam hari bertepatan dengan timun laut keluar dari liang untuk mencari makan.

Namun untuk dapat memastikannya, tim peneliti perlu melakukan identifikasi sampel timun laut hingga tingkat spesies untuk mengetahui spesifikasi habitatnya. Kemudian melakukan pengamatan geomorfogi dasar laut, pergerakan arus, gelombang, dan suhu permukaan dalam beberapa waktu sebelum peristiwa ini terjadi.
Pertanyaan lain yang mungkin juga muncul, apakah mungkin karena heatshock dari arus lautnya?

Bisa saja, namun kemungkinannya kecil karena kondisi timun laut yang terdampar di pantai sebagian besar masih dalam keadaan hidup dan utuh. Beberapa penelitian terkait perubahan suhu yang drastis dapat menyebabkan kematian langsung pada timun laut.

darilaut.id


BERITA TERKAIT