Segitiga Masalembo: Antara Mitos, Kekayaan Biota dan Gelombang Bawah Laut
DARILAUT.ID | 25/07/2021 23:03
Segitiga Masalembo: Antara Mitos, Kekayaan Biota dan Gelombang Bawah Laut
Sebuah perahu fiber terbalik di perairan Tegalbuleud, tepatnya di Dermaga SBP Desa Buniasih, Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi, Ahad, 25 Juli 2021.

Darilaut – Segitiga Masalembo memiliki kekayaan biota laut dan kawasan yang subur sebagai tempat bertemu beberapa arus. Bila digambarkan, segitiga itu menghubungkan antara Madura, Selat Lombok, dan Makassar.

“Di area perairan antara Pulau Nusa Penida, Bali dan Selat Lombok, memiliki arus yang kencang. Ada gelombang besar di bawah laut yang dapat membahayakan navigasi,” kata peneliti Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Adi Purwandana, seperti dikutip dari Oseanografi.lipi.go.id.

Melalui Talkshow SPADA – Global Radio dengan topik “Menyelami Riset Kelautan” bersama para peneliti LIPI, pada Kamis (22/7), Adi menguraikan mengenai perairan Bali yang mempunyai fenomena unik dan berbahaya di sekitara selat Lombok.

Menurut Adi, banyak yang menyebut di area tersebut dengan nama Segitiga Masalembo. Kalau kita membuat gambaran segitiga, kita bisa hubungkan antara Madura, Selat Lombok, dan Makassar.

Di area tersebut, kata Adi, di masa lampau mitosnya memiliki arus yang berbahaya. Karena pada zaman dahulu teknologi belum secanggih sekarang, seperti belum terlalu paham sistem dan prediksi cuaca.

Adi mengatakan, dengan teknologi yang sudah cukup canggih arus tersebut dapat dilalui. Dibalik mitos tersebut, daerah ini subur karena merupakan tempat bertemunya beberapa arus, sehingga di perairan tersebut mengandung banyak nutrisi yang dapat dimakan oleh biota laut.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki perairan dengan keunikannya tersendiri. Tidak hanya dari segi fenomena kelautan tetapi juga kekayaan biota di dalamnya.

Namun, karena masyarakat kurang mengerti tentang fenomena tersebut, mereka sering mengaitkan dengan mitos.
Adi memberikan tips untuk masyarakat yang gemar dengan aktivitas laut. Pertama, ke depankan hal-hal ilmiah ketika mengamati fenomena alam atau menghindari pandangan mitos.

Kedua, tidak perlu panik ketika melakuakn navigasi melalui pesawat maupun kapal laut. Hal ini karena sistem navigasi kita sudah bagus.

Ketiga, patuhi ketentuan keselamatan dan peringatan tempat wisata tersebut.

Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Selvia Oktaviani, mengatakan, ikan adalah jenis biota yang paling banyak ditemukan di perairan Indonesia.

Menurut Selvia ada 35.000 jenis ikan yang ada di dunia. Sekitar 20% atau sekitar 3600 jenis ikan laut dan ada sekitar 1200 jenis ikan air tawar ada di Indonesia.

Jenis yang paling tinggi adalah jenis ikan terumbu karang, yaitu lebih dari 2000 jenis. Sehingga perairan Indonesia dapat disebut sebagai mega biodiversity.

Kendati demikian, kata Selvia, biota ikan tidak luput dari ancaman seperti pencemaran, pengambilan ikan dengan cara yang kurang bijak seperti menggunakan bom, racun, dan lain-lain, hingga eksploitasi ikan secara berlebih.

Karena itu untuk menjaga kelestariannya, cintai lebih dalam biota laut dan dimanfatakan sebijak mungkin.

Peneliti Balai Bio Industri Laut LIPI, Asep Ridwanudin, mengatakan, peluang industri pakan aquafeed (aquakultur feed) atau pakan yang digunakan untuk menunjang kegiatan budidaya perikanan.

Menurut Asep, peluang industri aquafeed cukup besar, karena pakan dalam industri ini merupakan komponen utama untuk memenuhi nutrisi ikan yang dibudidayakan.

Prinsip yang harus dipegang untuk mengambangkan industri aquafeed adalah, pertama ketahui biota yang akan dibudidaya. Kemudian cara membuat aquafeed, yakni kenali ukuran nutrisi yang baik untuk biota yang dibudidayakan.

Selain itu, kata Asep, budidaya ikan merupakan salah satu solusi menjaga kelestarian biota laut.

“Bagaimana penangkapan tersebut tidak berlebihan, maka biota tersebut kita budidayakan. Selain itu, budidaya perikanan merupakan industri yang potensial di Indonesia karena, kita dapat menyediakan ikan di pasaran untuk memudahkan masyarakat,” katanya.

darilaut.id