Asia Tenggara Rumah Bagi Sepertiga Hutan Mangrove
DARILAUT.ID | 28/07/2021 06:09
Asia Tenggara Rumah Bagi Sepertiga Hutan Mangrove
Ilustrasi - Sejumlah wisatawan memanfaatkan liburan dengan perahu mengelilingi hutan mangrove di aliran Sungai Rindu, Sembilangan, Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Minggu (30/12/2018). (ANTARA FOTO)

Darilaut – Kawasan Asia Tenggara sebagai rumah bagi hampir sepertiga dari semua hutan mangrove. Indonesia sendiri mencakup hampir 20% kawasan hutan mangrove tersebut.

Berdasarkan peta global yang dikembangkan tim Global Mangrove Watch (GMW), yang sejak 2019 bekerja sama dengan Global Mangrove Alliance (GMA), telah memberikan wawasan yang bermanfaat untuk luas hutan mangrove itu sendiri.

Peta tersebut menunjukkan bahwa di tahun 2016 terdapat 136.000 km2 hutan mangrove di seluruh dunia.

Peta GMW resolusi tinggi ini juga melacak perubahan dari waktu ke waktu dan menunjukkan bahwa tingkat rata-rata hilangnya hutan mangrove kini melambat di seluruh dunia. Meski demikian, dalam 20 tahun sebelum 2016, menunjukkan kehilangan bersih sekitar 4,3% hutan mangrove.

Di samping kehilangan yang terus-menerus, peta ini juga menunjukkan semakin banyak lokasi di mana hutan mangrove sedang berkembang, mengisi daerah sedimen baru atau area di dalam pulau, termasuk sebagai akibat dari naiknya permukaan air laut.

Mengingat detail yang komprehensif dan cakupan temporalnya, peta GMW telah dipilih sebagai himpunan data hutan mangrove resmi oleh Program Lingkungan PBB untuk pelaporan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG 6.6.1).

Negara-negara yang tidak memiliki sistem pemantauan hutan mangrove nasional sendiri disarankan untuk menggunakan peta ini.

Peta GMW juga mampu menunjukkan perubahan secara tepat dengan resolusi spasial yang tinggi. Sebuah fitur baru dari platform— Peringatan Perubahan—dapat melacak variasi cakupan hutan mangrove hampir secara real time, sehingga memungkinkan mereka yang ada di lapangan merespons ancaman yang muncul dengan cepat.

Ada banyak penyebab terjadinya perubahan, tetapi dampak langsung oleh manusia bertanggung jawab atas 60% lebih hilangnya hutan mangrove. Penyebab-penyebab utama meliputi konversi ke lahan pertanian, budidaya perairan, dan urbanisasi.

Model percontohan baru-baru ini memperkirakan bahwa lebih dari 6.600 km2 area hutan mangrove yang hilang sejak tahun 1996 sangat bisa dipulihkan.

Di tempat lain, upaya juga tengah dilakukan untuk membangun Alat Pelacak Restorasi Hutan Mangrove sebagai sarana untuk berbagi informasi tentang proyek-proyek restorasi yang ada, sehingga membantu mendukung restorasi yang efektif di seluruh dunia.

darilaut.id


BERITA TERKAIT