Indonesia Rawan Bencana Gempa, Sesar Aktif Minim Diteliti
DARILAUT.ID | 31/07/2021 12:37
Indonesia Rawan Bencana Gempa, Sesar Aktif Minim Diteliti
Ilustrasi gempa. abcnews.com

Darilaut – Hampir semua wilayah Indonesia rawan terhadap bencana gempa. Namun kontras dengan kondisi alam tersebut, data sesar aktif dan gempa masih kurang atau belum banyak diteliti.

Pengetahuan gempa umumnya masih belum cukup detail untuk diimplementasikan dalam mitigasi bencana.

“Dibutuhkan pengetahuan yang cukup tentang sesar aktif dan potensi gempa di seluruh wilayah Indonesia,” kata Profesor Riset Danny Hilman Natawidjaja, seperti dikutip dari Lipi.go.id.

Danny adalah peneliti dari Pusat Penelitian Geoteknologi (Geotek) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang memberikan orasi ilmiah dalam pengukuhan Profesor Riset LIPI bidang kebumian. Profesor Riset di lingkungan LIPI ini dilantik pada Selasa (27/7).

Rangkaian gempa besar yang terjadi di Indonesia sejak tahun 2000 adalah bukti nyata bahwa Indonesia adalah wilayah dengan potensi bencana gempa yang sangat tinggi.

Indonesia mempunyai tingkat aktivitas seismik yang sangat tinggi karena terletak di wilayah batas pertemuan empat lempeng utama, yaitu lempeng India-Australia, Eurasia, Pasifik, dan Karolina-Filipina.

Akibat pergerakan empat lempeng itu Kepulauan Indonesia terpecah belah menjadi bagian-bagian kecil yang dibatasi oleh banyak jalur sesar aktif.

Sejak gempa-tsunami Aceh pada 26 Desember 2004, wilayah barat Indonesia seperti tidak henti-hentinya digoncang gempa. Hanya tiga bulan setelah Aceh, pada tanggal 28 Maret 2005, gempa megathrust (sesar naik di batas lempeng subduksi dangkal) berkekuatan Mw 8,7 menghentak wilayah Nias dan Simeuleu.

Danny mengawali risetnya mengenai sesar aktif pada Tahun 1993 topiknya Sesar Sumatera di wilayah Kota Liwa; satu tahun sebelum terjadi Gempa Liwa. Pada saat itu riset sesar aktif nyaris belum dikenal di Indonesia.

Danny lalu bertemu Professor Kerry Sieh tahun 1994 dan berlanjut dengan mengambil program PhD. Di Amerika Serikat hingga kembali ke tanah air pada 2004.

Danny termasuk peneliti yang giat mempropagandakan ancaman bahaya gempa dan tsunami di wilayah Sumatra, hanya beberapa bulan sebelum tsunami Aceh terjadi.

“Tanpa mengetahui dan memahami sumber gempanya dengan baik, maka usaha mitigasi, termasuk sistem peringatan dini, akan tidak tepat sasaran,” kata Danny.

Bagi Danny, Indonesia merupakan laboratorium alam yang luar biasa untuk riset terkait sesar aktif dan kegempaan sekaligus tantangan besar bagi upaya mitigasi bahaya dan risiko gempa.

Danny mengingatkan sumber gempa adalah sesar yang aktif. Sesar atau patahan disebut aktif apabila masih bergerak dalam kurun 125 ribu tahun terakhir/memotong lapisan Holosen/Pleistosen akhir.

“Indonesia adalah The Crown dari Ring of Fire,” ujar Danny.

Apakah gempa bumi bisa diprediksi? Menurut Danny, beberapa hal terkait gempa bisa diperhitungkan, diprediksi, atau dipetakan.

Seperti lokasi, besaran gempa, dan risiko kerusakan. Satu-satunya hal yang nyaris mustahil diketahui adalah kapan terjadinya gempa.

Tujuan mitigasi bencana adalah meminimalkan efek merusak dari berbagai bahaya yang sudah diperkirakan atau diperhitungkan.

“Mitigasi gempa harus menjadi budaya masyarakat dan bagian terpadu pengembangan wilayah dan pembangunan infrastruktur,” katanya.

Danny juga pernah terlibat dalam proyek-proyek pemetaan jalur sesar aktif dan karakterisasinya.

Selain itu, terlibat dalam revisi Peta Seismic Hazard Indonesia. Peta Seismic Hazard merupakan peta yang dipakai dalam standarisasi kode bangunan tahan gempa sesuai dengan zonasinya.

Danny juga berperan dalam peta pembuatan bahaya tsunami di Indonesia. Peta bahaya tsunami pertama yang dibuat adalah Kota Padang.

“Waktu itu saya dan tim LIPI-Caltech adalah pelopor utama dalam propaganda mitigasi bahaya tsunami di Padang,” ujarnya.

Menurut Danny ada tiga mitigasi bencana gempa berbasis sains: mitigasi deformasi besar, mitigasi guncangan gempa, dan mitigasi bahaya ikutan.

Ada pula mitigasi bahaya tsunami yang meliputi pembuatan peta (tinggi/genangan) tsunami, rencana tata ruang aman tsunami, jalur evakuasi & rencana darurat, pendidikan dan Latihan masyarakat, serta sistem peringatan dini.

“Sistem peringatan dini harus didesain spesifik sesuai dengan kondisi geologi dan masyarakatnya,” katanya.

darilaut.id


BERITA TERKAIT