Tumpahan Minyak Dapat Mengganggu dan Membunuh Organisme
DARILAUT.ID | 03/09/2021 07:05
Tumpahan Minyak Dapat Mengganggu dan Membunuh Organisme
Ada Lapisan Tumpahan Minyak Di Lepas Pantai Aceh

Darilaut – Dosen Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University Dr Taryono, mengatakan tumpahan minyak (oil spill) dapat mengganggu hingga membunuh organisme yang dampaknya dapat merusak ekosistem pantai (coastal ecosystem). Selain itu, mengkontaminasi wilayah pantai, terumbu karang, dan mangrove.

Minyak yang menjadi pencemar di laut dapat mengganggu fotosintesis plankton, dissolved oxygen content (DOC), temperatur dan kekeruhan.

“Menariknya, keberadaan minyak dapat meningkatkan konsentrasi klorofil-a sehingga menyebabkan pertumbuhan berlebihan plankton yang memperebutkan oksigen satu sama lain,” ujar Taryono dalam dalam acara Eco’s Time Vol. 2: Oil Spill, Senin (23/8), seperti dikutip dari Ipb.ac.id.

Kegiatan ini digelar Himpunan Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan (Himasper), IPB University yang membahas pencemaran lingkungan akibat oil spill.

Dari sisi ekonomi, kata Taryono, menghitung dari seluruh kasus oil spill, sebanyak 495 juta liter minyak yang tumpah ke laut.

Sehingga dampak ekonomi yang disebabkan adalah hilangnya 25.000 pekerjaan, kerugian perusahaan biaya yang diperlukan untuk pengendalian dan mitigasi oleh perusahaan tersebut mencapai 64,4 triliun rupiah.

Corporate Secretary Subholding Refining & Petrochemical PT Pertamina Kilang Internasional, Ifki Soekarya yang hadir dalam acara ini, mengatakan, proses bisnis PT Pertamina yang dimulai dari mencari potensi dan produksi migas (upstream). Kemudian mengolah minyak mentah dan gas menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM), LPG, petrokimia (midstream), distribusi dan pemasaran produk (downstream).

Menurut Ifki dalam produksi dan pengolahannya, terdapat potensi pertumpahan minyak yang disebabkan oleh aktivitas perusahaan. Yakni saat dilakukan blow up (pengeboran), kebocoran pipa di bawah laut, saat pembuangan air ballast, dan juga kapal karam.

Sehingga banyak mitigasi yang dilakukan perusahan untuk mencegah potensi tumpahnya minyak yang dapat mencemari lingkungan.

Ifki mengatakan tindakan pencegahan selalu dilakukan untuk menghindari tumpahan minyak yang berdampak pada lingkungan seperti pencemaran perairan dan kerusakan ekosistem dan habitat.

Terdapat beberapa kasus tumpahan minyak yang dijelaskannya sehingga dapat dijadikan pembelajaran. Misalnya, tumpahnya minyak di Teluk Balikpapan merupakan salah satu kasus tumpahan minyak yang disebabkan oleh patahnya pipa penyalur minyak mentah di bawah laut akibat kaitan jangkar kapal MV Ever. Ada 44 ribu barel minyak tumpah ke perairan dalam kejadian ini.

Oleh karena itu, kata Ifki, dibutuhkan organisasi penanggulangan tumpahan minyak untuk menangani permasalahan tersebut. Organisasi tersebut adalah Incident Management Team (IMT) yang dimiliki oleh Pertamina yang didukung oleh teknologi, koordinasi, dan komunikasi yang baik.

Berdasarkan kasus tersebut, dibutuhkan risk management dengan menginventarisasi risiko yang akan berdampak pada lingkungan, pekerja, dan masyarakat sehingga dampak tersebut dapat diminimalisir.

Ifki mengatakan ada tiga kategori keadaan darurat. Kategori pertama dimana perusahaan mampu menanganinya. Kategori kedua adalah kondisi di mana perusahaan tidak bisa menanganginya sehingga membutuhkan bantuan dari pemerintah dan perusahaan lain. Apabila membutuhkan bantuan negara lain maka kategori tersebut masuk pada kategori ketiga.

Langkah yang perlu dilakukan untuk menanggulangi tumpahan minyak adalah kenali masalah dan lakukan rencana penanggulangan seperti persiapan peralatan, materi, strategi, serta monitoring sehingga dapat membantu menutup sumber kebocoran.

Oil boom, kapal supporting, skimmer “Giant octopus” merupakan alat yang dibutuhkan untuk mendukung salah satu strategi dengan tujuh lapis penjagaan tumpahan minyak. Apabila strategi berhasil dilakukan, diperlukan tahapan pembersihan tumpahan minyak yang dibantu oleh monitoring udara.

Selain itu, tambahnya, Pertamina juga memiliki inovasi baru penanggulangan minyak dengan memasang fishing net di kawasan ekosistem mangrove untuk menjerat minyak. Komunikasi dan koordinasi terhadap masyarakat dan stakeholder setempat juga terus dilakukan guna membangun komunikasi sehingga terbangun kepercayaan satu sama lain.

darilaut.id


BERITA TERKAIT