Peningkatan Karbon Dioksida di Udara Dapat Merusak Terumbu Karang
DARILAUT.ID | 27/01/2022 09:06
Peningkatan Karbon Dioksida di Udara Dapat Merusak Terumbu Karang
Seorang pria menyelam di dekat taman terumbu karang di perairan Pulau Lady Elliot, Great Barrier Reef, Australia, 11 Juni 2015. REUTERS

Darilaut – Pemanasan global dan peningkatan jumlah karbon dioksida di udara dalam beberapa dekade terakhir telah merusak terumbu karang dunia.

Atmosfer yang lebih hangat meningkatkan suhu air dan karbon dioksida (CO2). Hal ini membuat air laut lebih asam.

Para peneliti telah menemukan bahwa ada ancaman lain terhadap terumbu karang. Karena itu, melindungi konektivitas terumbu karang sangat penting untuk upaya konservasi.

Mengutip dari Phys.org, sebuah tim peneliti yang berafiliasi dengan beberapa entitas di Australia telah menemukan bahwa untuk menyelamatkan terumbu karang dunia, para konservasionis harus melindungi koridor yang menghubungkan mereka.

Dalam makalah yang diterbitkan di jurnal Science, kelompok tersebut menjelaskan studi tentang sumber dan tempat tenggelamnya larva ikan, karang serta koridor penyebaran yang mempromosikan kesehatan dan keragaman di terumbu karang.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa meskipun ada jarak yang sangat jauh antara terumbu karang, masih ada hubungan di antara mereka. Koridor aliran air membawa karang dan larva ikan dari satu terumbu ke terumbu lainnya.

Tidak semua terumbu terhubung secara merata. Untuk lebih memahami hubungan antara konservasi terumbu karang dan koridor laut, para peneliti membagi koridor yang diketahui ke dalam kategori yang berbeda berdasarkan tenggelam dan sumber larva.

Dalam melihat contoh di dunia nyata, para peneliti menemukan bahwa larva yang sangat terhubung (tempat mereka berakhir setelah bepergian) memiliki sekitar dua kali lebih banyak biomassa dari sumbernya.

Mereka juga menemukan bahwa ketika dilindungi, akan lebih mampu menahan gangguan manusia.

Para peneliti menyarankan temuan ini menunjukkan bahwa upaya untuk melestarikan terumbu karang harus mencakup perlindungan koridor, jika terumbu karang ingin bertahan.

Penelitian lanjutan perlu dilakukan untuk lebih memahami dampak pemanasan global (dan peningkatan kadar karbon dioksida) pada konektivitas terumbu karang.

Melalui penelitian ini dapat diketahui apakah terumbu dapat diselamatkan karena planet ini terus menghangat.

Mengutip Oseana (1988), karbon dioksida adalah senyawa kimia yang terbentuk dari 1 atom karbon dan 2 atom oksigen (CO2), yang mudah larut dalam air dingin, tidak berbau dan tidak berwarna.

Karbon dioksida termasuk gas yang reaktif dan banyak terdapat dalam air laut. Karbondioksida yang terdapat dalam air laut umumnya berasal dari udara melalui proses difusi. terbawa oleh air hujan, hasil proses respirasi mikroorganisme dan dari hasil penguraian zat-zat organik oleh mikroorganisme.

Dalam air laut, senyawa karbon dioksida terdapat dalam bentuk ion dan bentuk molekul. Dalam bentuk ion adalah ion bikarbonat (HCO3) dan karbonat (CO3) sedangkan dalam bentuk molekul adalah molekul karbon dioksida bebas (CO2) dan asam karbonat H2CO3).

Secara fisis CO2 berperan penting terhadap kestabilan biosfir, karena CO2 membentuk selimut isolasi di sekeliling bumi walaupun kadarnya rendah.

Penambahan kadar CO2 di atmosfir dapat mengubah suhu menjadi lebih tinggi sehingga iklim berubah, dan akhirnya dapat berpengaruh terhadap makhluk hidup.

darilaut.id


BERITA TERKAIT