International Noise Awareness Day: Ilmuwan Ingatkan Kebisingan dan Polusi Suara di Laut
DARILAUT.ID | 27/04/2022 11:05
International Noise Awareness Day: Ilmuwan Ingatkan Kebisingan dan Polusi Suara di Laut
Kepulauan Togean merupakan satu-satunya tempat di Indonesia yang memiliki tiga lingkungan karang yang berbeda yaitu karang atol, karang barier dan karang pantai. Tempo/Ratih Purnama

Darilaut – Lautan yang dalam dan gelap sering dianggap sebagai dunia yang damai dan sunyi. Padahal di kedalaman laut yang gelap itu ada orkestra suara. Seperti suara keras udang, klik lumba-lumba dan nyanyian paus.

Ilmu pengetahuan baru menunjukkan bahwa di banyak tempat, aktivitas manusia mungkin meredam suara-suara itu — dan memiliki dampak yang membingungkan dan merusak pada hewan laut.

“Para ilmuwan telah memperingatkan tentang ini sejak lama,” kata Heidrun Frisch-Nwakanma, yang memimpin pekerjaan kebisingan bawah air di Convention on the Conservation of Migratory Species of Wild Animals (CMS) atau Konvensi Konservasi Spesies Migrasi Satwa Liar.

“Hampir semua yang dilakukan manusia di lingkungan pesisir atau laut menimbulkan kebisingan, dan aktivitas semacam itu meningkat,” kata Frisch-Nwakanma, mengutip Story Unep.org (25/4).

Peringatan ini disampaikan sebelum Hari Kesadaran Kebisingan Internasional (International Noise Awareness Day), yang jatuh pada 27 April 2022.

International Noise Awareness Day kali ini menyoroti efek berbahaya dari suara keras.

Makhluk laut mungkin sangat rentan terhadap suara-suara itu. Banyak yang menggunakan ekolokasi—yang bergantung pada suara yang dipantulkan untuk menentukan objek—untuk menemukan mangsa, berkomunikasi, menemukan pasangan dan keturunan, dan menavigasi lautan yang luas dan saling berhubungan.

Misalnya, dolphins (lumba-lumba) dan porpoises yang menggunakan resolusi tinggi, frekuensi tinggi, biosonar bawah air untuk menargetkan mangsa dan menavigasi.

Sementara paus balin berkembang biak dan berkomunikasi dengan menggunakan lagu yang kompleks dan ditransmisikan pada frekuensi rendah melalui jarak yang cukup jauh.

Semakin Keras

Sejak Revolusi Industri, lautan telah dibanjiri kebisingan dari pelayaran komersial, survei geofisika, pesawat terbang rendah, pengeboran minyak, turbin angin lepas pantai, penangkapan ikan dengan alat peledak yang sangat kuat (dinamit).

Kemudian, kapal selam, pengerukan, latihan militer, penghancuran artileri yang tidak meledak, penambangan dasar laut, pembangunan infrastruktur, dan sistem navigasi sonar.

Beberapa ahli telah memberikan alarm (tanda bahaya) tentang konsekuensi yang mengganggu kebisingan bawah air, seperti pada invertebrata, penyu, hiu, lumba-lumba dan paus. 

Studi tahun 2021 yang diterbitkan dalam jurnal Science menunjukkan bahwa pengiriman (shipping) telah berkontribusi pada peningkatan 32 kali lipat dalam kebisingan frekuensi rendah di sepanjang rute pelayaran utama dalam 50 tahun terakhir. Selain itu, kebisingan dari sonar telah dikaitkan dengan terdamparnya paus di darat.

“Meskipun kami memiliki beberapa bukti tentang efek merugikan dari polusi suara, seperti banyak ilmu pengetahuan yang terkait dengan pemahaman kehidupan di bawah air, kami tahu terlalu sedikit untuk mendorong perubahan dalam kebijakan dan praktik secara memadai,” kata Leticia Carvalho, Head of the United Nations Environment Programme’s (UNEP) Marine and Freshwater Branch.

“Kita perlu segera membangun pemahaman tentang bagaimana memulihkan laut yang sehat dari ancaman yang terlihat, seperti sampah laut, dan ancaman yang tidak terlihat, termasuk polusi suara.”

Meningkatkan Kesadaran

Selama dekade terakhir, lebih banyak perhatian telah diberikan pada polusi suara laut dalam kerangka kerja internasional seperti CMS, Konvensi Laut Regional, Konvensi Keanekaragaman Hayati, Organisasi Maritim Internasional, dan bahkan Majelis Umum PBB.

Kelompok kerja khusus sedang mengembangkan solusi untuk mengurangi kebisingan dari aktivitas manusia. Beberapa strategi termasuk memelihara kapal lebih baik, mengoptimalkan desain baling-baling dan menurunkan kecepatan kapal.

Lainnya fokus pada pengeboran minyak bawah air, penangkapan ikan dengan alat peledak, pengerukan, dan latihan militer.
Para ahli mengatakan bahwa alam dapat pulih relatif cepat di daerah-daerah di mana kebisingan berkurang.

“Di tingkat nasional, langkah pertama adalah mendapatkan gambaran realistis tentang potensi dampak kebisingan dari setiap kegiatan atau proyek,” kata Frisch-Nwakanma, yang merupakan bagian dari tim di balik pengembangan pedoman global untuk mengelola kebisingan laut.

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan CMS, perjanjian lingkungan di bawah naungan UNEP, dapat membantu proses itu, katanya.

Mereka merinci data mana yang diperlukan untuk mengukur dampak polusi suara bawah air. Penilaian tersebut seringkali membutuhkan kerja sama internasional, terutama di laut lepas. 

Krisis Iklim

Perubahan iklim dapat memperburuk polusi suara di laut, kata Frisch-Nwakanma. Misalnya, pencairan es laut membuka wilayah yang sebelumnya tidak dapat diakses untuk pengiriman, pengeboran, dan aktivitas manusia lainnya.

Penelitian juga menunjukkan bahwa perubahan iklim dan tekanan manusia lainnya juga telah menyebabkan kerusakan habitat, seperti terumbu karang, padang lamun meadows dan beds, membungkam suara karakteristik yang memandu larva ikan dan hewan lain untuk menemukan habitatnya. 

Terumbu karang yang sehat—penuh dengan berbagai ikan dan organisme lain—mirip dengan suara penggorengan makanan.

Polusi suara tidak terbatas pada lautan. Edisi terbaru dari laporan UNEP Frontiers report, Noise, Blazes and Mismatches: Emerging Issues of Environmental Concern, menunjukkan bahwa ini adalah bahaya yang semakin besar bagi kesehatan masyarakat dan satwa liar di kota-kota.

Suara yang tidak diinginkan, berkepanjangan, dan tingkat tinggi dari mobil dan kereta api diketahui mengganggu komunikasi burung, serangga, dan amfibi.

Tahun lalu, menandai peluncuran UN Decade of Ocean Science for Sustainable Development. Berjalan hingga 2030, Dekade ini adalah kesempatan ideal bagi negara-negara untuk mencurahkan lebih banyak sumber daya untuk memahami dampak polusi suara di laut, kata Carvalho.

 

 

darilaut.id


BERITA TERKAIT