Dengan Foto, Milky Seas Samudra Hindia di Selatan Pulau Jawa Mulai Terungkap
DARILAUT.ID | 29/07/2022 13:39
Dengan Foto, Milky Seas Samudra Hindia di Selatan Pulau Jawa Mulai Terungkap

Darilaut – Sebuah foto di malam hari yang diambil dari perahu layar di Samudra Hindia, dekat (selatan) pulau Jawa, telah memvalidasi citra satelit “Milky Seas” raksasa yang bersinar di lautan.

Selama berabad-abad, para pelaut telah menceritakan kisah-kisah tentang berlayar di malam hari dan melihat “lautan seperti susu”— petak-petak lautan yang terus-menerus bercahaya yang membuat permukaan air tampak hijau atau putih, terkadang membentang dari cakrawala ke cakrawala.

Para ilmuwan pun telah lama tertarik dengan bioluminescence yang tidak biasa tersebut, diduga dihasilkan oleh bakteri. Tapi belum ada bukti foto di lokasi tersebut. 

Mengutip Scientificamerican.com (20/7/2022) Steven Miller, seorang ilmuwan atmosfer di Colorado State University, baru saja menerbitkan sebuah makalah yang memuat foto pertama Milky Seas (lautan susu) ini.

Foto itu diambil oleh awak kapal yang berlayar di dekat pulau Jawa pada musim panas 2019.

Dengan harapan dapat mendeteksi lautan susu dari kejauhan, Miller telah menganalisis selama hampir satu dekade data tersebut siang-malam. Sensor spektrum cahaya rendah yang dibawa oleh satelit tersebut menempuh jarak lebih dari 500 mil di permukaan bumi.

Miller mengidentifikasi selusin peristiwa di seluruh dunia sebagai kemungkinan Milky Seas, termasuk satu di selatan Jawa yang tampaknya telah berlangsung selama 45 malam pada tahun 2019.

Meskipun Miller cukup yakin dengan metodenya, namun tidak memiliki cara untuk memverifikasi apakah pola data tersebut benar-benar mewakili lautan susu.

Setelah mempublikasikan analisisnya bersama rekan pada tahun 2021, Miller menerima email tak terduga dari Naomi McKinnon.

Naomi adalah seorang mahasiswa kedokteran Australia yang pernah menjadi kru kapal pesiar yang berlayar pada 2019.

Setelah menyaksikan matahari terbenam pada 2 Agustus 2019, McKinnon melaporkan, bersama rekan-rekannya menyadari lautan di sekitarnya bersinar.

“Mengapa semuanya terlihat begitu mengagumkan?” kata McKinnon, menuliskan pengalamannya.

“Airnya berwarna seperti bintang yang bersinar dalam gelap.”

Laporan Miller tentang apa yang disaksikan McKinnon diterbitkan dalam Prosiding National Academy of Sciences USA

Data ini mencakup dua bidikan yang diambil oleh kru: satu diambil dengan smartphone, dan yang lainnya dengan kamera GoPro.

Gambar-gambar tersebut memberikan pandangan sekilas tentang fenomena yang sulit dipahami.

Mereka juga mengkonfirmasi keakuratan metode pendeteksian satelit Miller—meningkatkan harapan bahwa para peneliti dapat menggunakan data satelit untuk mendeteksi Milky Seas saat terbentuk dan pergi ke lokasi untuk mempelajarinya secara langsung.

Sebelumnya, sejumlah peneliti mengungkap suatu cahaya misterius yang selalu muncul di lautan dengan jarak yang begitu luas di selatan Jawa, Samudra Hindia.

Analisis multi-parameter milky seas di Jawa pada 2 Agustus 2019. GAMBAR: MILLER DKK (2021)/NATURE.COM

Lautan bercahaya itu terkadang berukuran melebihi 100.000 km2 dan tampak berhari-hari hingga berminggu-minggu. Melayang di tengah-tengah arus permukaan laut.

Lautan cahaya itu paling luas di Selatan Jawa Samudera Hindia dan Benua Maritim (Indian Ocean dan Maritime Continent).

Kajian ini telah dipublikasi di Jurnal Nature.com (2021) 11:15443 dengan judul “Honing in on bioluminescent milky seas from space.”

Penyelidikan ilmiah milky seas ini ditulis Steven D. Miller dan rekan. Untuk memecahkan misteri ini peneliti mengungkap rahasia cahaya di lautan ini dari luar angkasa.

Peneliti menunjukkan “lautan susu” yang terdeteksi berdasarkan pencarian tahun 2012–2021.

Dengan adanya temuan ini, aset di antariksa dapat membantu memandu kapal penelitian menuju milky sea untuk dipelajari lebih lanjut.

Mengutip Engr.source.colostate.edu, para peneliti di Colorado State University selama hampir satu dekade menggunakan data untuk mengungkap “lautan susu” dengan cara yang belum pernah dilihat sebelumnya.

Sebuah fenomena bioluminescence samudra yang langka dan menarik yang terdeteksi oleh sensor cahaya rendah antariksa yang sangat sensitif.

Lautan susu adalah tampilan yang sulit dipahami dan langka di lautan Bumi, dan bentuk terbesar yang diketahui di planet kita.

Tampilan ini berbeda dari buih bergejolak. Lautan susu mencapai cahaya yang panjang, tersebar luas, dan seragam di permukaan lautan yang dapat bertahan selama beberapa malam, dan membentang lebih dari 100.000 kilometer persegi (hampir 39.000 mil persegi) – sekitar ukuran negara bagian Kentucky.

Sejak lautan susu tersebut terbentuk, ini yang masih menjadi misteri ilmiah modern. Kondisi luar biasa ini hanya ada di daerah terpencil di dunia—terutama di barat laut Samudera Hindia di lepas pantai Horn of Africa dan di perairan sekitar Indonesia.

Dari 200 lebih penampakan yang tercatat sejak abad ke-19, hanya sekali, pada tahun 1985, kapal penelitian berlayar melalui lautan susu tersebut.

Sampel air yang dikumpulkan pada saat itu menunjukkan strain bakteri bercahaya, yang menjajah ganggang di permukaan air, dan ini yang menciptakan cahaya.

Beberapa fitur lautan susu, bagaimanapun, tidak cukup hanya dijelaskan oleh hipotesis ini – terutama dalam menghadapi laporan saksi mata.

Didukung oleh pengamatan baru dari luar angkasa, para peneliti sekarang memahami lebih banyak tentang fenomena yang menarik ini.

 

**


BERITA TERKAIT