Indonesia Kembangkan Teknologi Deteksi Tsunami Berbasis Sensor
DARILAUT.ID | 22/08/2022 11:17
Indonesia Kembangkan Teknologi Deteksi Tsunami Berbasis Sensor
Kondisi porak poranda villa dan penginapan di sepanjang jalan Carita hingga Anyer, Banten, Selasa, 25 Desember 2018. Tiga hari setelah tragedi tsunami Selat Sunda, kondisi sepanjang jalan Carita hingga Anyer seperti kota mati. TEMPO/Subekti.

Darilaut – Telah banyak teknologi yang mendukung sistem peringatan dini tsunami di Indonesia (Indonesia Tsunami Early Warning System). Salah satunya adalah sistem deteksi dengan berbasiskan Kabel Fiber Optik sebagai teknologi terkini pendeteksi tsunami.

Pusat Riset Elektronika – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sedang mengembangkan sebuah riset yang dinamakan Ina-CBT (Indonesia Cable-Based Tsunameter) atau teknologi deteksi tsunami berbasiskan sensor di dasar laut dalam. Sensor ini terhubung dengan landing-station di pantai melalui kabel fiber-optik.

Michael Andreas Purwoadi, peneliti ahli utama dari riset ini menjelaskan bahwa Ina-CBT ini sebagai pendeteksi tsunami dengan mengukur tekanan air yang lewat di atasnya.

Pendeteksi gelombang tsunami dengan menggunakan kabel fiber optik bawah laut merupakan sebuah penyempurnaan dari teknologi pendeteksi tsunami sebelumnya yaitu pendeteksi dengan menggunakan teknologi buoy. 

Kabel fiber optik yang dipasang, memungkinkan peletakan sensor hingga jarak sampai puluhan kilometer bahkan ratusan kilometer dari pantai. Melalui kabel tersebut, tidak hanya mengirimkan data hasil deteksi tetapi juga mengirimkan energi listrik yang dibutuhkan untuk beroperasinya sensor tersebut.

Sistem seperti ini bisa mempunyai lifetime sangat lama karena tidak lagi tergantung pada baterai yang biasanya diletakkan di sensor di dasar laut. Karena menggunakan transmisi optik, data yang dikirimkan bisa lebih banyak dan cepat.

“Perbedaannya dengan teknologi buoy adalah hanya mengganti buoy yang ada di permukaan laut itu dengan stasiun yang ada di daratan/ pantai dan menggunakan kabel serta tidak menggunakan akustik untuk mengirimkan data dari dasar laut,” kata Purwoadi.

Pada tahun 2021, BRIN telah membangun di dua tempat yaitu Nusa Tenggara Timur tepatnya di Labuan Bajo dan Rokatenda.

Tahun-tahun mendatang akan melakukan penyempurnaan di bagian Barat Sumatera dan di dekat Gunung Anak Krakatau.
Kemudian rencananya akan membangun juga di daerah Timur yaitu di Banda Naira, Manado dan di Selat Makassar.

INA-CBT yang dibangun di Labuan Bajo panjangnya adalah 54,5 kilometer dengan dua Ocean Bottom Unit (OBU). Masing-masing OBU mempunyai berbagai sensor yaitu sensor tekanan air laut, sensor temperatur dan sensor accelerometer untuk mengukur gempa yang kemungkinan terjadi mengakibatkan tsunami.

Negara Indonesia mempunyai posisi geografis di dalam Ring of Fire, banyak sesar dan juga diapit 3 lempeng bumi yaitu Lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, serta lempeng Pasifik.

Hal ini menyebabkan Indonesia sangat rawan dilanda peristiwa gempa bumi baik vulkanik maupun tektonik. Efek dari goncangan gempa berpotensi menimbulkan bencana tsunami yang selalu menelan ratusan korban jiwa sering kali berasal dari gempa bumi tektonik bawah laut, maupun tanah longsor bawah laut.

Kesiapsiagaan bencana perlu dipersiapkan dengan sistem yang akurat memberikan data dan efektif mendeteksi adanya gejala gelombang tsunami.

Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengingatkan masyarakat akan ancaman gempa bumi dan tsunami di sepanjang selatan Pulau Jawa. 

Dwikorita meminta pemerintah daerah dan masyarakat untuk terus meningkatkan kesiap-siagaan guna mengantisipasi skenario terburuk.

“Cilacap yang berada di garis Pantai Selatan Jawa menghadap langsung zona tumbukan lempeng antara lempeng Samudera Hindia dengan lempeng Eurasia,” kata Dwikorita, akhir Juli lalu di Cilacap.

“Dari hasil pemodelan tsunami dengan skenario terburuk, dikhawatirkan berpotensi terjadi tsunami dengan ketinggian lebih dari 10 meter di pantai Cilacap, sebagai akibat dari gempabumi dengan kekuatan M = 8,7 pada zona megathrust dalam tumbukan lempeng tersebut.”

Dwikorita mengatakan prakiraan skenario terburuk itu bukanlah ramalan, namun merupakan hasil kajian ahli dan pakar kegempaan.

Namun perihal kapan waktunya terjadi, kata Dwikorita, hal tersebut belum dapat diketahui, mengingat hingga saat ini belum ada satupun teknologi yang mampu memprediksi kapan terjadinya gempa.

Menurut Dwikorita perhitungan skenario terburuk tersebut, menjadi pijakan untuk mempersiapkan langkah-langkah mitigasi. Sehingga, andai kata terjadi gempa bumi dan tsunami sewaktu-waktu, diharapkan pemerintah dan masyarakat sudah siap dan tahu apa-apa saja yang harus dilakukan, termasuk kapan dan ke mana harus berlari menyelamatkan diri secara mandiri atau kelompok.

 

**


BERITA TERKAIT