Ini Keunikan Ikan Capungan Banggai, Species Endemik di Sulteng
DARILAUT.ID | 23/09/2022 10:51
Ini Keunikan Ikan Capungan Banggai, Species Endemik di Sulteng

Darilaut – Biasanya pada spesies hewan induk betina yang mengerami telur. Tidak begitu dengan ikan capungan banggai.

Ikan jantan capungan banggai yang mengerami telur di dalam rongga mulutnya.

Menurut peneliti dari Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (sekarang Badan Riset dan Inovasi Nasional, BRIN) Ucu Yanu Arbi, ikan capungan Banggai dapat menjadi spesies endemik disebabkan oleh berbagai faktor, baik dari faktor internal maupun eksternal.

Faktor-faktor yang telah terbukti sebagai pembatas yang memungkinkan ikan ini menjadi endemik seperti pergerakannya yang lambat.

Pergerakan lambat yang menjadikan distribusi habitat yang tidak terlalu luas. Ikan capungan banggai berasosiasi dengan biota lain di ekosistem terumbu karang dan dekat dengan pertumbuhan lamun.

Ikan capungan banggai juga dapat ditemukan di kawasan mangrove yang berenang di antara akar-akar mangrove.

Segregasi ikan capungan banggai terjadi pada area yang sempit, pada kedalaman yang relatif sama dan tidak terkait dengan perubahan kebiasaan makan maupun persaingan intraspesifik.

Ikan ini memiliki pergerakan yang lambat dan kebiasaan menetap, sehingga mengakibatkan kapasitas penyebaran yang sangat terbatas dan membuat distribusi habitat yang tidak terlalu luas.

ini menjadikan ikan capungan Banggai sangat rentan terhadap kepunahan. Sampai saat ini, setidaknya dua subpopulasi ikan capungan Banggai telah mengalami penurunan populasi yang sangat drastis dan punah dalam kisaran asli spesies.

Habitat perairan dangkal biasanya menjadi sasaran ancaman dari aktivitas manusia secara intensif yang mengakibatkan degradasi lingkungan, seperti alih fungsi lahan pesisir dan tekanan lingkungan dari sumber polutan.

Kemudian, ikan capungan banggai memiliki sifat paternal mouthbrooder sehingga tidak memiliki fase larva.

Jenis ikan dalam family Apogonidae umumnya bersifat paternal mouthbrooder, yaitu induk jantan mengerami telur di dalam rongga mulutnya hingga menetas menjadi larva.

Keunikan lain, fekunditas sangat rendah, perkembangan embrio panjang, pembalikan peran jenis kelamin, tidak adanya periode larva, dan perawatan lanjutan dari embrio oleh induk pasca menetas.

Individu betina ikan capungan banggai dapat memijah dengan rentang waktu sekitar 30 hari, sedangkan individu jantan memerlukan rentang waktu yang lebih lama karena harus mengerami telur.

Sebelum sel telur dan sperma dikeluarkan, individu jantan dan betina akan melakukan beberapa gerakan yang unik yang dikenal dengan “mating dance”. Individu jantan akan bergerak berputar mengelilingi betina dan sebaliknya.

Setelah itu, ikan betina akan mengeluarkan sel telur yang diikuti oleh ikan jantan mengeluarkan sel sperma.

Setelah sel telur dibuahi, individu jantan akan menangkap sel-sel telur tersebut dan dimasukkan ke dalam mulutnya untuk dierami.

Embrio membutuhkan waktu 18 – 20 hari sebelum menetas, dan setelah menetas tetap tinggal di dalam mulut individu jantan selama sekitar 5 hari.

Selanjutnya, postlarvae dikeluarkan secara bertahap dari mulut individu jantan, langsung mulai memakan makanan dari sumber yang berasal dari luar (exogenous).

Hal ini menjadikan ikan capungan banggai tidak memiliki fase pelagis berupa larva planktonik, sebagai bentuk strategi paternal care yang disebut direct development.

Fase post-larvae dilepaskan dari mulut induk jantan sekitar 7 – 10 hari setelah menetas. Pada fase ini ikan memiliki risiko besar sebagai mangsa, baik oleh spesies lain maupun kanibalisme oleh induk.

Dengan kondisi seperti ini, maka apabila terjadi kepunahan lokal (ekstirpasi), pemulihan alami hampir tidak mungkin ataupun mustahil terjadi.

 

**