Gempa Darat Susulan Masih Terjadi di Tapanuli Utara
DARILAUT.ID | 07/10/2022 13:40
Gempa Darat Susulan Masih Terjadi di Tapanuli Utara
Lokasi pusat gempa magnitudo 3,3 yang mengguncang Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Minggu malam, 22 November 2020. (ANTARA/HO)

Darilaut – Gempa bumi darat susulan masih terus terjadi di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatra Utara. Hingga Jumat (7/10) pagi gempa berkekuatan Magnitudo 5.0 terjadi pada pukul 03.00 WIB.

Gempa tersebut berada pada lokasi 2.02 LU – 99.01 BT, dengan jarak 5 km Timur Laut Tapanuli Utara. Gempa berada di kedalaman 10 km.


Menurut Koordinator Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono melalui akun Twitter @DaryonoBMKG, gempa dirasakan di Kecamatan Tarutung IV MMI (Modified Mercalli Intensity) dan di Kecamatan Sipoholon III MMI.

Sehari sebelumnya, pada Kamis (6/10) gempa susulan berkekuatan M 4.5 terjadi pada pukul 15.30 WIB. Lokasi 2.09 LU – 98.92 BT. 

Gempa berada pada kedalaman 2 km dan dirasakan IV MMI di Tarutung, III MMI di Sibolga, Silangit, Sipahutar, Siborong-borong, II MMI di Humbanghasundutan dan Toba.

Hasil analisis geologi, kejadian gempa bumi merusak di Kabupaten Tapanuli Utara pada Sabtu (1/10) berdasarkan posisi lokasi pusat gempa bumi, kedalaman dan data mekanisme sumber (focal mechanism) dari BMKG dan GFZ Jerman, kejadian gempa bumi ini diakibatkan oleh aktivitas sesar Sumatra pada Segmen Renun dengan mekanisme sesar mendatar menganan (dextral strike-slip) berarah barat laut – tenggara dengan kedudukan N 143 E, dip 76 dan slip 166.

Morfologi daerah sekitar pusat gempabumi merupakan perbukitan bergelombang hingga perbukitan terjal dan lembah.

Data Badan Geologi – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, sebaran permukiman penduduk yang terlanda guncangan gempabumi terletak pada Kawasan Rawan Bencana (KRB) gempabumi menengah hingga tinggi.

Menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, melalui laman vsi.esdm.go.id, kejadian gempabumi ini tidak menyebabkan tsunami karena pusat gempabumi berada di darat.

Daerah Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara tergolong rawan gempa bumi karena terletak dekat dengan sumber gempa bumi yaitu Sesar Sumatra.

Badan Geologi mencatat bahwa wilayah tersebut pernah mengalami bencana gempa bumi pada tahun 1984, 1987 dan 2011.

Wilayah ini secara umum tersusun oleh batuan berumur Pra Tersier berupa batuan metamorf dan meta sedimen, batuan berumur Tersier berupa batuan rombakan gunung api dan batuan sedimen, serta endapan Kuarter berupa batuan rombakan gunung api muda dan endapan aluvial sungai.

Sebagian batuan berumur Pra Tersier dan Tersier tersebut telah mengalami pelapukan. Endapan Kuarter, batuan berumur Pra Tersier dan Tersier yang telah mengalami pelapukan bersifat lunak, lepas, belum kompak (unconsolidated) dan memperkuat efek guncangan, sehingga rawan gempa bumi.

Selain itu, pada morfologi perbukitan bergelombang hingga terjal yang tersusun oleh batuan yang telah mengalami pelapukan berpotensi terjadi gerakan tanah yang dapat dipicu oleh guncangan gempabumi kuat dan curah hujan tinggi.

Informasi BMKG guncangan gempa bumi dirasakan di Tarutung dengan intensitas guncangan sebesar VI MMI di Sipahutar sebesar V MMI, di Singkil sebesar IV MMI dan di Gunung Sitoli serta Tapaktuan sebesar III MMI. 

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi – Badan Geologi merekomendasikan masyarakat diimbau untuk tetap tenang, mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat, dan tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi.

Bagi penduduk yang rumahnya mengalami kerusakan agar mengungsi ke tempat aman.

Bangunan di Kabupaten Tapanuli Utara dan sekitarnya harus dibangun menggunakan konstruksi bangunan tahan gempabumi guna menghindari dari risiko kerusakan. Selain itu juga harus dilengkapi dengan jalur dan tempat evakuasi

Oleh karena wilayah Kabupaten Tapanuli Utara tergolong rawan gempabumi, maka harus ditingkatkan upaya mitigasi gempa bumi.


Kejadian gempa bumi ini diperkirakan berpotensi mengakibatkan terjadinya bahaya ikutan (collateral hazard) berupa retakan tanah, penurunan tanah, gerakan tanah dan likuefaksi. Bahaya ikutan tersebut diperkirakan dalam dimensi kecil.

 

**


BERITA TERKAIT