Harimau Sumatra Mati di Pasaman, BKSDA Menduga Dehidrasi Berat
LANGGAM.ID | 15/08/2021 18:45
Harimau Sumatra Mati di Pasaman, BKSDA Menduga Dehidrasi Berat
Harimau Sumatera Sipogu Dilepas Liar di Panti Batang Gadis

Langgam.id – Seekor harimau Sumatra mati di Kenagarian Sontang Cubadak, Kecamatan Padang Gelugur, Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat (Sumbar), Sabtu (14/8/2021). Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar menduga, hewan dilindungi tersebut mati akibat dehidrasi berat.

Kepala BKSDA Sumbar Ardi Andono dalam siaran persnya mengatakan, pihaknya pada Sabtu pagi sekitar pukul 9.00 WIB menerima laporan dari salah seorang anggota DPRD Kabupaten Pasaman. Ia mengatakan, dapat laporan dari warga yang melihat harimau sakit dan tertidur di dekat Bendungan Sontang, di Kenagarian Sontang Cubadak.

Ia mengirimkan video harimau yang masih hidup dengan kondisi lemas kepada BKSDA. Hasil analisa video tersebut, dokter hewan di BKSDA menduga, harimau tersebut mengalami dehidrasi berat. BKSDA kemudian berkoordinasi dengan Polsek Panti dan Koramil Rao untuk mengamankan harimau yang sakit.

BKSDA juga berkoordinasi dengan kepala dinas kehutanan provinsi selaku wakil ketua tim koordinasi penanganan konflik satwa di Sumbar untuk mendapatkan tenaga medis. Juga dengan Pemerintah Kabupaten Pasaman dan Kapolres Pasaman untuk meminta dukungan personil guna mengamankan harimau itu.

“Tim BKSDA meluncur ke lokasi dengan membawa kandang dan juga mempersiapkan dokter hewan dari Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan Bukittinggi,” kata Ardi, yang juga dihubungi langgam.id via telepon.

Sesampai di lokasi, harimau Sumatra sempat mendapatkan perawatan oleh petugas medis dari Puskeswan Dua Koto. “Kondisi suhu badan yang tinggi kotoran berwarna hitam. Selanjutnya diberikan obat dan vitamin, namun pukul 11.00 WIB Harimau tersebut dinyatakan mati,” ujarnya.

Menurutnya, pada saat bersamaan, telah banyak massa berkumpul di lokasi dan meminta agar harimau tersebut dikubur di kampung tersebut sesuai kearifan lokal setempat.

“Upaya negoisasi membawa harimau ke Padang untuk nekropsi antara petugas BKSDA Sumbar, Kasat Reskrim dan Kasat Intel Polres Pasaman dengan Ninik Mamak berlangsung alot,” tuturnya.

Meskipun telah mendapatkan jaminan dari petugas atau pun dokter hewan datang untuk pengambilan sampel di lokasi, namun masih buntu. “Masyarakat memaksa harimau tersebut untuk dikuburkan di depan rumah sdr Alinurdin selaku ninik mamak,” kata Ardi.

Nekropsi
Ia mengatakan, proses nekropsi sangat penting untuk mengetahui penyebab kematian apakah penyakit yang membahayakan dan menular atau karena racun. “Secara medis sangatlah berbahaya menguburkan bangkai satwa di sekitar pemukiman jika ternyata satwa tersebut membawa penyakit yang bersifat zoonosis (menular dari hewan ke manusia),” tuturnya.

Untuk menghindari pencurian jasad harimau, menurutnya, masyarakat mengecor makam tersebut dan menggelar upacara adat selama beberapa hari.

BKSDA memperkirakan harimau Sumatra yang mati berumur 7-8 tahun. Jenis kelaminnya jantan, panjang badan kurang lebih 170 cm dan ekor sepanjang 60 cm. Petugas menemukannya lebih 4 km dari hutan lindung di bawah pengelolaan Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung Pasaman Raya yang membentang membentuk koridor hutan Panti-Batang Gadis.

“Kearifan lokal masyarakat sangat kami hargai. Namun semestinya dapat di-nekropsi terlebih dahulu. Dengan adanya nekropsi dapat tahu penyebab kematian. Apabila itu merupakan penyakit menular dan berbahaya bagi satwa lainnya maka perlu upaya pencegahan dan sosialisasi lebih lanjut kepada masyarakat.” kata drh. Indra Exploitasia, M.Si, direktur konservasi keanekaragaman hayati, Direktorat Jenderak KSDAE, Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup.

Apalagi, menurutnya, dalam masa pandemi covid 19 saat ini. “Perlu kehati-hatian dalam segala tindakan penanganan pasca kematian terutama terhadap bangkai harimau. Covid 19 merupakan penyakit baru, pengetahuan medis masih terbatas dalam hal penyebarannya dari manusia ke satwa liar atau sebaliknya serta dampak yang bisa timbul juga masih dalam tahap pembelajaran kasus per kasus.”

BKSDA berharap bisa mengambil pelajaran dari kasus kematian Harimau Sumatra ini. “Kita ambil pembelajaran untuk pengambilan tindakan-tindakan terkait sisi medis agar kasus serupa tidak terjadi lagi di masa yang akan datang.”

Menurut Ardi, petugas akan melakukan pengambilan data di lapangan baik jejak, kotoran, sumber air, keberadaan pakan satwa serta memasang kamera trap dan sosialisasi penanganan konflik satwa kepada masyarakat. “Hal ini penting sebagai bentuk upaya pencegahan konflik di kemudian hari,” ujarnya.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk menjaga harimau Sumatra. “Mari kita jaga harimau Sumatra sebagai bagian dari jati diri budaya, dengan melapor dan memudahkan petugas dalam mengambil tindakan. Sehingga upaya penyelamatan satwa dapat berjalan dengan baik,” katanya.


BERITA TERKAIT