Banjir Besar Padang 1907, Latar Belanda Menggagas Pembuatan Banda Bakali
LANGGAM.ID | 01/10/2022 11:41
Banjir Besar Padang 1907, Latar Belanda Menggagas Pembuatan Banda Bakali

Langgam.id – Pada akhir September 1907 Kota Padang dilanda banjir besar. Sebuah sumber menyebut, banjir terjadi pada 28 dan 29 September. Sumber lain menyebut banjir sudah terjadi sejak 27 September 1907. Peristiwa ini terjadi sekitar 115 tahun yang lalu dari waktu ini, Selasa (29/9/2022).

Mengutip Algemeen Handelsblad (26-10-1907), Akademisi Universitas Indonesia Akhir Matua Harahap dalam blognya menulis, banjir itu terjadi pada 28 dan 29 September 1907. Banjir ini mengakibatkan satu orang tewas dan banyak ternak tenggelam. Kerugian ditaksir sebesar 2 ton emas.

Verslag over de Burgerlijke Openbare Werken in Nederlandsch-Indie (Laporan Dinas Pekerjaan Umum di Hindia Belanda) Volume 1-4 (1914) menyebut, banjir itu terjadi pada 27 September 1907. Banjir tersebut, menurut sumber ini menimbulkan kerugian sekitar 200 ribu gulden.

Terlepas dari perbedaan versi hari, banjir besar tersebut mendorong pemerintah kolonial Belanda berpikir keras untuk mengatasi agar tidak berulang. Sebelumnya, pada 5 dan 6 Desember 1898 serta 25 Maret 1904 juga ada banjir di Padang. Namun tak sebesar banjir pada 1907 ini.

Burgerlijke Openbare Werken (BOW) atau Dinas Pekerjaan Umum kemudian mendesain mendesain tata kota berbasis pengendalian banjir. Dalam laporan BOW, selama tahun 1911 sampai 1913, untuk mengatasi banjir, maka mesti melakukan tiga hal yakni; menggali saluran drainase, mendorong air di Batang Arau agar masuk ke saluran drainase, dan memanfaatkan drainase tersebut untuk jalan atau lalu lintas.

Pemerintah Hindia Belanda pun merancang pembuatan kanal yang akan mengendalikan banjir. Kanal yang kemudian dikenal sebagai “Banda Bakali” itu atau dalam bahasa Indonesia berarti sungai yang digali. Rusli Amran dalam Buku “Padang Riwayatmu Dulu” (1988) menulis, upacara awal penggalian kanal tersebut dipestakan di Welkom Lubuk Begalung pada 29 Oktober 1911.

Prosesnya pun dimulai. Sebagaimana ditulis di Indisch Bouwkundig Tijdschrift, 28 Februari 1917, pada mulut kanal dikunci, diikuti dengan pembangunan pintu air untuk kebutuhan sawah dan usaha di Alai. Saat bersamaan, saluran drainase (kanal) juga dibangun antara Lubuk Begalung dengan Purus. Kanal besar juga dibangun, namun dalam penggaliannya mengalami kesulitan karena persoalan tanah dan air hujan.

Kanal awalnya dibangun antara Alai dengan ujung Belantung (maksudnya jalan Rasuna Said saat ini). Selanjutnya diteruskan ke Purus, mulut muara.

“Di sisi lain, lokasi di mana air dari kanal turun mengalir ke mulut Purus, sering tidak lancar setahun awal karena ada semacam gundukan tanah (gosong) di mulut muara, sehingga air kadang tertambat,” demikian penjelasan dari pihak pelaksana proyek saat itu.

Agar saluran drainase tetap memiliki kapasitas yang memadai di mulut saluran, maka diputuskan untuk mengangkut kapal pengeruk yang ditempatkan di mulut Batang Arau, melalui pelabuhan layanan pelabuhan ke Purus.

“Sampai dua kali, ia berusaha menarik kapal pengeruk ini ke arah laut yang tinggi melintasi bukit pasir, namun saat tiba di sana selalu ganjalan,” tulis Indisch Bouwkundig Tijdschrift.

Tantangan lain dalam pembebasan Padang dari banjir bukan saja pengerjaan drainase hingga kanal yang sulit, melainkan juga infrastruktur yang sudah ada atau melintas di koridor drainase dan kanal.

Infrastruktur yang menjadi kendala tentu saja rel kereta api. Tahun 1914, moda transportasi kereta api menjadi vital karena satu-satunya angkutan masal. Sehingga selalu sibuk lalu lalang membawa penumpang.

Ketika kanal melewati Alai, persis beririsan dengan rel kereta api dan saluran air. Untuk melancarkan pengerjaan kala, maka jembatan yang membentang diatasnya serta saluran air mau tak mau harus dibuka.

Akhirnya, ada banyak tantangan dari mereka yang memanfaatkan air tersebut seperti dari pemilik penumbuk padi, Setelah bertahun-tahun bernegosiasi dengan pemiliknya, namun tidak membuahkan hasil. Hingga akhirnya, sempat dilakukan penghentian penggalian.

Selanjutnya, ketika banjir kanal semakin terbuka karena penggalian yang menyambungkan dari aliran Batang Arau ke Purus, semakin mendekati kenyataan, jembatan penghubung antar konsentrasi penduduk pun dibangun. Ada lima jembatan yang dibangun yakni di Marapalam, Andalas, Jati, Ujung Belantung (jalan Rasuna Said), dan Purus.

Sejak ada banjir kanal ini, menurut Rusli Amran, bahaya banjir di Padang pada zaman Hindia Belanda jauh berkurang.

 

**


BERITA TERKAIT