Indonesia Perlu Belajar Budaya Nonton Film dari India
TEMPO.CO | 17/10/2018 20:05
Suasana disalah satu ruangan sebelum pemutaran film terakhir di Bioskop Regal di New Delhi, India, 28 Maret 2017. Pada malam terakhir, bioskop yang dibangun pada era kolonial ini memutar film Bollywood klasik pada 1964 berjudul Sangam yang disaksikan seki
Suasana disalah satu ruangan sebelum pemutaran film terakhir di Bioskop Regal di New Delhi, India, 28 Maret 2017. Pada malam terakhir, bioskop yang dibangun pada era kolonial ini memutar film Bollywood klasik pada 1964 berjudul Sangam yang disaksikan sekitar 600 penonton. AP Photo/Manish Swarup

TEMPO.CO, Jakarta - Badan Perfilman Indonesia (BPI) menekankan pentingnya para pemangku kepentingan bidang perfilman di Indonesia untuk membangun budaya menonton film di masyarakat. Ketua Bidang Festival Internasional dan Hubungan Luar Negeri BPI Dimas Jayasrana mengatakan dalam salah satu kesempatan di New Delhi, Rabu 17 Oktober 2018, Indonesia saat ini belum memiliki dan belum membangun kultur yang baik di masyarakat untuk menonton film.

Baca: Halloween 2018, Michael Myers Kembali Menebar Teror

Budaya menonton film tersebut tentu saja tidak bisa serta merta dihasilkan, melainkan dibentuk melalui berbagai kebijakan yang bisa menarik masyarakat lebih banyak untuk datang ke bioskop. "Sudah selayaknya, penonton pun mendapatkan fasilitas tertentu dari industri dalam berbagai bentuk," kata Dimas.

Dimas mengambil contoh industri perfilman di Eropa seperti Prancis dan Belanda yang mewajibkan asosiasi bioskop untuk membuat rentang harga tiket yang berbeda bagi pelajar atau mahasiswa. Pelajar atau mahasiswa bisa diberikan harga khusus, misalnya dengan kartu berlangganan menonton film selama periode enam bulan atau satu tahun yang harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan harga tiket secara reguler.

Dia mengatakan hal seperti itu salah satu upaya membangun budaya menonton di masyarakat agar datang ke bioskop dan menonton film. Di lain hal, juga menjadi suatu fasilitas khusus yang diberikan kepada penonton untuk kemudian menjaring penonton di film-film berikutnya. Menurut Dimas, pemerintah Indonesia bersama asosiasi harus bekerja sama untuk menelurkan kebijakan yang dapat membangun kultur menonton film masyarakat. "Pemerintah meminta asosisasi membuat formula yang baik atas perintah tersebut. Intinya jangan sampai mereka gabisa nonton film di bioskop," kata Dimas.

Dimas menyebutkan alasan negara seperti India bisa terkenal di seluruh dunia dalam industri perfilmannya yaitu Bollywood, karena negara yang memiliki keterikatan dengan Indonesia ini telah memiliki budaya menonton film di masyarakatnya. "Membentuk budaya menonton film, itu yang India punya. Film domestik India itu menguasai mungkin 90 persen 'market share' nasional mereka. 'Film part of their religion', bintang film itu bisa jadi pahlawan nasional seperti Amitabh Bachchan," kata dia.

Baca: Belum Sepekan, Film Asih Sukses Meneror Sejuta Pononton

Namun Dimas menekankan bahwa hal seperti itu yang ada di India tidak hadir begitu saja, melainkan muncul karena membujuk publiknya untuk menonton film.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT