Sarang Nyamuk DBD yang Sering Lupa Diberantas
TEMPO.CO | 04/02/2019 05:35
Petugas Fogging Kecamatan Palmerah melakukan pengasapan di SDN Kota Bambu 07 Pagi, Palmerah, Jakarta Barat, Jumat, 25 Januari 2019. Pemerintah DKI Jakarta menginstruksikan seluruh sekolah di Ibu Kota untuk mengantisipasi merebaknya kasus demam berdarah de
Petugas Fogging Kecamatan Palmerah melakukan pengasapan di SDN Kota Bambu 07 Pagi, Palmerah, Jakarta Barat, Jumat, 25 Januari 2019. Pemerintah DKI Jakarta menginstruksikan seluruh sekolah di Ibu Kota untuk mengantisipasi merebaknya kasus demam berdarah dengue atau DBD. ANTARA/Sigid Kurniawan

TEMPO.CO, Jakarta - Penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang kasusnya semakin meningkat seiring curah hujan tinggi menjadi ancaman bagi masyarakat di seluruh Indonesia. Hingga saat ini jumlah korban meninggal dunia paling banyak karena kasus DBD ini berasal dari Provinsi Jawa Timur. Sudah ada 52 orang yang meninggal dunia dari 3.074 kasus DBD di daerah itu.

Baca: Wabah DBD, Jusuf Kalla: Cucu Saya Juga Kena

Kasus terbanyak kedua, ialah Jawa Barat dengan 2.204 kejadian di mana 14 meninggal dunia. Dilanjutkan dengan Nusa Tenggara Timur dengan 1.092 kejadian di mana 13 meninggal dunia, dan Sumatera Utara 1.071 dengan 13 orang korban meninggal dunia. Pada tahun-tahun sebelumnya, Kementerian Kesehatan mencatat terjadi 53.075 kasus DBD pada 2018, 68.407 kasus pada 2017, dan 204.171 kasus pada 2016.

Penyakit DBD masih dikategorikan sebagai endemis di seluruh wilayah Indonesia, tanpa terkecuali. Hal itu dikarenakan tempat bersarang dan berkembangbiaknya nyamuk pembawa virus dengue, yaitu nyamuk aedes aegypti berada di lingkungan sekitar tempat manusia hidup.

Nyamuk aedes berbeda dengan nyamuk anopheles, si pembawa virus malaria yang memilih genangan air yang kotor untuk menelurkan jentik-jentik nyamuk. Sementara nyamuk penular penyakit DBD menyukai genangan air yang bersih untuk berkembang biak. Tidak heran kalau nyamuk aedes aegypti bisa hidup di sekitar pemukiman manusia.

Seorang petugas melakukan pengasapan (fogging) untuk membasmi nyamuk penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD) di kawasan Tegal Alur, Jakarta, 9 Oktober 2016. Pengasapan tersebut dilakukan guna mencegah wabah penyakit demam berdarah yang sering muncul pada musim hujan. TEMPO/Fajar Januarta

Penyakit menular demam berdarah dengue hanya bisa ditularkan oleh nyamuk aedes aegypti. Oleh karena itulah pencegahan manusia agar tidak terkena penyakit DBD dengan mengendalikan si nyamuk supaya tidak banyak berkembang penting dilakukan.

Direktur Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi menekankan bahwa prinsip utama pencegahan dan pengendalian penyakit demam berdarah dengue ialah dengan menurunkan populasi nyamuk. Tentu saja dalam upaya menurunkan populasi nyamuk tidak bisa dilakukan oleh pemerintah sendirian, namun amat sangat membutuhkan peran masyarakat dalam menjaga lingkungan agar tetap bersih.

Program yang dikampanyekan oleh Kementerian Kesehatan ialah upaya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) agar nyamuk aedes tidak bisa berkembang dan menularkan penyakit. Banyak hal yang bisa dilakukan masyarakat untuk membersihkan lingkungan dengan 3M Plus, yaitu menutup semua tampungan air atau sumber air, menguras bak mandi, dan mendaur ulang barang bekas.

Nyamuk aedes menjadikan genangan air yang bersih untuk berkembang biak, oleh karena itu tampungan air di ember atau bak kamar mandi jangan terlalu lama didiamkan. Menguras bak mandi secara rutin sangat membantu dalam mencegah adanya jentik nyamuk yang hidup di dasar kolam. Jika ada kolam di taman sebaiknya ditaruh ikan pemakan jentik seperti ikan mujair atau cupang.

Perhatikan pula berbagai barang bekas, seperti ember, kaleng, atau ban yang bisa saja menampung air ketika hujan datang. Segera buang air tersebut agar tidak menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.

Jika, di rumah ada tanaman hias yang ditaruh dalam vas berisi air juga harus diperhatikan agar tidak menjadi sarang nyamuk. Tumbuhan lain yang memiliki sela atau rongga seperti pisang kipas juga bisa menampung air di antara batang dan dahan.

Sejumlah siswa belajar mengetahui jenis nyamuk Aedes Aegypti dalam rangka gerakan 1 rumah 1 jumantik untuk memperingati Asean Dengue Day (Demam Berdarah), di Sekolah Dasar Negeri Baru 07 Pagi Cijantung, Jakarta, 2 Agustus 2017. Menteri Kesehatan Nila Moeloek meminta masyarakat untuk mulai menjalani pola hidup bersih dan sehat dengan menjaga kebersihan lingkungan dalam mencegah DBD dan berpesan kepada akademisi dan pakar untuk menyelesaikan vaksin demam berdarah dengue (DBD) yang cocok untuk wilayah Indonesia. TEMPO/Imam Sukamto

Menteri Kesehatan Nila Moeloek memberikan perhatian serius terhadap kebersihan lingkungan di sekolah. Mengingat penderita kasus penyakit DBD kebanyakan anak usia 9-14 tahun, Nila meminta agar air di ember atau bak kamar mandi sekolah harus dikuras.

Terlebih ketika sekolah sedang libur akhir pekan atau libur panjang, air di kamar mandi sekolah yang tak digunakan bisa menjadi sarang nyamuk dan mengancam siswa-siswi saat bersekolah.

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan memberikan obat pembunuh jentik nyamuk atau larvasida yang disalurkan pada dinas-dinas kesehatan daerah. Selain itu juga ada pengasapan atau fogging yang mengandung insektisida untuk membunuh nyamuk. Namun, upaya tersebut juga harus didukung dengan kebersihan lingkungan sekitar rumah.

Baca: 4 Tips Mencegah Demam Berdarah di Musim Hujan

Masyarakat harus waspada jangan sampai tergigit oleh nyamuk aedes aegypti. Oleh karena itu, hindari gigitan nyamuk dengan memberantas nyamuk yang ada di rumah. Jangan biarkan pakaian atau barang-barang menumpuk yang bisa jadi tempat bersembunyi nyamuk.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT