Kisah Desa Wisata Gamol yang Sukses Tanpa Sumber Daya
TEMPO.CO | 01/05/2019 06:20
Desa Wisata Gamol Sleman, Yogyakarta. TEMPO | Pribadi Wicaksono
Desa Wisata Gamol Sleman, Yogyakarta. TEMPO | Pribadi Wicaksono

TEMPO.CO, Yogyakarta - Sebuah desa biasanya menjadi desa wisata jika memiliki kekayaan alam, budaya, atau karakteristik tertentu yang bisa dijadikan daya tarik wisata. Misal, wisata alam Tebing Breksi di Desa Sambirejo, Kabupaten Sleman, Yogyakarta yang sebelumnya adalah area pertambangan.

Baca: Akhir Pekan, Ajak Anak Bertani dan Beternak di Desa Wisata Gamol

Ada pula Desa Madobak di Mentawai yang menjadi desa adat terbaik karena memiliki budaya tato yang diyakini sebagai budaya tato tertua dunia. Bisa juga menjadi desa wisata karena dikenal dengan aktivitas penduduk yang sudah dilakukan secara turun-temurun seperti di Desa Kasongan, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Desa wisata ini memiliki ciri khas karena menjadi sentra gerabah dan aktivitas membuat kerajinan, seperti kuali dan kendi, itu diperkirakan sudah ada sejak abad ke-17.

Lantas bagaimana Dusun Gamol, Balecatur, Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, akhirnya mampu menjadi desa wisata yang sukses? Padahal hanya perlu waktu 20 menit untuk mencapai desa yang terletak di sebelah barat dari pusat wisata Yogyakarta, Malioboro, itu.

Kepala Dukuh Gamol, Tamtama menceritakan sebelumnya Dusun Gamol hanya berupa lahan kosong yang penuh alang-alang. “Sebelum menjadi desa wisata, di tempat ini banyak sekali lahan menganggur. Pendapatan desa begitu minim karena tak ada objek wisata yang bisa diolah seperti di desa-desa lain,” ujar Tamtama, Jumat 26 April 2019.

Desa Wisata Gamol, Sleman, Yogyakarta menjadi salah alternatif objek wisata yang terkenal dengan peternakan kambing Etawa. TEMPO | Pribadi Wicaksono

Kemudian pada 2009, warga Dusun Gamol sepakat berbenah. Tujuannya: membuat desa mereka tampak elok dan hidup serta memberi kesejahteraan penduduknya. "Kami berpikir mau jadi desa wisata yang seperti apa? Jangan sama seperti desa-desa lain yang menyediakan fasilitas outbond, tempat bermain, atau sekedar bersenang-senang. Kami ingin membuat desa wisata yang mendidik," ucap Tamtama.

Berangkat dari desa wisata yang mendidik, kelompok masyarakat, seperti karang taruna, petani, peternak, perajin, juga ibu PKK berkumpul untuk membahas penataan desa sesuai kemampuan masing-masing. Dari situ tercetus gagasan Desa Wisata Budaya Gamol yang menawarkan program wisata edukasi budaya.

Baca juga: Travelling ke Desa di NTB, Wisatawan Bisa Ikut Mengajar Siswa SD

Konsep disepakati, lantas masyarakat menentukan dan mulai membangun atraksi wisata edukasi budaya apa saja yang ingin dikenalkan kepada pengunjung. Pada 2010, Desa Wisata Busaya Gamol berani membuka diri untuk kunjungan wisatawan. Pelancong yang datang ke sana bukan sekadar berpindah tempat untuk melakukan kegiatannya sendiri bersama rombongan. Mereka bisa mengenal desa secara utuh melalui kegiatan masyarakatnya.

“Dengan udara desa yang sejuk dan tempat bersih, kami mengajak wisatawan berkeliling, melihat dan melakukan kegiatan seperti yang dilakukan penduduk sehari-hari,” ujar Tamtama. Rute untuk wisatawan yang menyambangi Desa Gamol dikemas dalam paket wisata murah meriah. Dengan harga tiket Rp 15 ribu per orang, pengunjung mendapatkan satu paket belajar, melihat dan mempraktikkan cara bercocok tanam, budidaya ikan, sampai memerah dan mengolah susu kambing.

Paket itu sudah termasuk melihat dan belajar di sentra budidaya jamur serta pengolahan limbah sampah plastik dalam berbagai produk. Wisatawan juga bisa melihat bagaimana anak-anak Desa Gamol berlatih dan menampilkan atraksi bergada ala prajurit Keraton dengan keliling desa. Anak laki-laki berperan sebagai bergada atau prajurit keraton yang membawa replika tombak dan memainkan drumband, sedangkan anak perempuan menyandang jemparing atau panah tradisional Jawa bak pasukan wanita.

Anak-anak di Desa Wisata Gamol, Sleman, Yogyakarta meggelar tradisi keprajuritan ala keraton atau Bergada. TEMPO | Pribadi Wicaksono

Para prajutit cilik itu terkadang ikut mengantarkan wisatawan menuju titik demi titik rute wisata yang dibuat. Salah satu yang menonjol di desa Gamol adalah rumah pengelolaan sampah yang sudah terorganisir. Rumah ini menjadi sentra ‘sedekah’ dan daur ulang sampah. Siklus pengelolaan sampah dimulai dengan memisahkan sampah organik dan non-organik.

Artikel lainnya: Libur Akhir Tahun, di Tengah Alam Desa Wisata Malasari Bogor

Sampah non-organik, seperti kemasan plastik disetorkan ke posko bank sampah. Setiap pekan, masyarakat sekitar mendatangi sentra daur ulang itu untuk mengolah berbagai sisa kemasan makanan menjadi tas, topi, mainan, dan cenderamata unik. Sejak 2017, bank sampah Gamol telah mengumpulkan hampir 3 ton sampah dengan nilai ekonomis mencapai sekitar Rp 5 juta. Limbah sampah yang masih layak juga dibuat menjadi dekorasi di sejumlah sudut kebun. Salah satu titik dekorasi hasil daur ulang yang cocok untuk selfie ada di ornamen wayang raksasa.

Lokasi bank sampah Desa Wisata Gamol sebagai tempat mengumpulkan sampah plastik sebelum diolah di rumah daur ulang. TEMPO | Pribadi Wicaksono.

Kreativitas warga Desa Wisaya Budaya Gamol tak berhenti di situ. Sembari menikmati suasana desa, wisatawan yang haus dapat menikmati minuman segar dan menyehatkan yang dioleh penduduk setempat. Minuman yang mereka tawarkan misalnya wedang secang dan sirup nata lidah buaya.

Tak perlu khawatir pula jika merasa lapar di tengah perjalanan keliling desa. Ibu-ibu Desa Gamol menyediakan sate dan bakso tusuk yang empuk dan kaya bumbu yang diolah dari jamur budidaya desa itu. Kuliner ini merupakan hasil dari Kumbung Jamur, unit budidaya jamur di Desa Gamol.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT