Basilika Santo Markus Rugi US$5,5 Juta Usai Banjir Venesia
TEMPO.CO | 29/12/2019 22:18
Seorang ibu menggendong anaknya melewati genangan banjir di alun-alun Gereja Basilika Santo Markus di Venesia, Italia, 13 November 2019. Banjir kali ini merupakan yang terparah sejak 1996, ketika sebagian besar kota itu terendam air hingga ketinggian 194
Seorang ibu menggendong anaknya melewati genangan banjir di alun-alun Gereja Basilika Santo Markus di Venesia, Italia, 13 November 2019. Banjir kali ini merupakan yang terparah sejak 1996, ketika sebagian besar kota itu terendam air hingga ketinggian 194 sentimeter. REUTERS/Manuel Silvestri

TEMPO.CO, Jakarta - Setelah banjir besar-besaran merendam Venesia dan merusak struktur bagian bawah Basilika Santo Markus, pemerintah kota Venesia menaksir kerusakan yang diderita gereja tersebut mencapai US$ 5,5 juta atau setara Rp76,6 miliar.

Meskipun menurut The Associated Press, sebagian besar sudah diperbaiki sehingga wisatawan yang datang untuk melihat air yang tinggi atau "acqua alta" setelahnya, juga dapat melihat kota seperti biasa.

Basilika berusia 923 tahun dilanda banjir pada pertengahan November, saat Venesia dilanda banjir terburuk dalam sejarah kota itu. Setelah banjir besar itu, Basilika ditutup selama sekitar satu minggu untuk mencuci dan memperbaiki kerusakan kecil. Meskipun pengunjung kemungkinan tidak akan melihat perbedaan, namun kerusakan tengah menjalar pada gedung bersejarah itu.

"Seseorang yang datang ke Venesia untuk melihat air yang tinggi, dan yang pergi ke St. Mark's Square pada hari berikutnya, melihat meja di alun-alun, berkata, 'Hei, lihat, orkestra sedang bermain. Tidak ada yang salah di sini," ujar Penjaga Basilika, Carlo Alberto Tesserin. "Sementara, pada kenyataannya, apa yang disembunyikan, adalah segala yang kami verifikasi hari ini."

Ruang bawah tanah Gereja Basilika Santo Markus yang digenangi banjir di Venesia, Italia, 13 November 2019. Banjir yang merendam Gereja Basilika Santo Markus membuat banyak pihak mengkhawatirkan kemungkinan rusaknya mosaik-mosaik dan karya-karya seni yang ada di sana. REUTERS/Manuel Silvestri

Menurut Giuseppe Maneschi, Direktur Teknis Basilika mengatakan dengan teknologi baru, pihaknya menemukan kerusakan-kerusakan mikro tak kasat mata. Banjir merusak ruang bawah tanah Basilika ketika merendam gedung tersebut selama 24 jam. Ubin di kubah Basilika rusak oleh angina kencang dan untuk pertama kalinya dalam sejarah Basilika, banjir melewati jendela-jendela.

Padahal pada abad pertengahan, Basilika Santo Markus dibangun di daerah yang dianggap tak akan diterjang banjir tahunan di Venesia. Tapi banjir tahun ini membuktikan bahwa tidak ada tempat di Venesia yang aman dari pasang naik.

Sejatinya bukan banjir yang berbahaya bagi Basilika, namun garam dari laguna.  Ketika air asin merayap ke dalam Bbasilika, garam merembes ke tiang marmer gereja. Ada lebih dari 130 jenis marmer dalam Basilika, beberapa di antaranya tidak ada lagi. Garam juga menggerogoti mosaik dan pondasi batu, bata, dan mortar gereja.

Ruang bawah tanah Gereja Basilika Santo Markus yang digenangi banjir di Venesia, Italia, 13 November 2019. Basilika Santo Markus adalah gereja di Venesia paling terkenal dan salah satu contoh yang paling terkenal dari arsitektur Bizantium. REUTERS/Manuel Silvestri

"Bahkan pada ketinggian 12 meter (hampir 40 kaki), kami memiliki garam yang keluar dari dinding, yang mengkristal," tambah Maneschi.

Menyusul banjir bersejarah, ribuan warga Venesia berkumpul di jalan-jalan untuk memprotes kedatangan kapal pesiar massal, yang menurut mereka memburuknya banjir di kota itu.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT