Mengenal Jauh soal Crossfit, Olahraga Pilihan Ashraf Sinclair
TEMPO.CO | 19/02/2020 08:16
Sejumlah wanita melakukan pemanasan jelang berlatih dalam angkat berat di tempat latihan CrossFitdi San Anselmo, California, (14/3). (Photo by Justin Sullivan/Getty Images)
Sejumlah wanita melakukan pemanasan jelang berlatih dalam angkat berat di tempat latihan CrossFitdi San Anselmo, California, (14/3). (Photo by Justin Sullivan/Getty Images)

TEMPO.CO, Jakarta - Aktor dan model Ashraf Sinclair wafat pada Selasa, 18 Februari 2020, dini hari karena serangan jantung. Padahal, Ashraf tak memiliki riwayat penyakit jantung. Suami penyanyi dan aktris Bunga Citra Lestari (BCL), itu sebelumnya masih melakukan rutinitas sehari-hari sebelum meninggal.

"Enggak ada (riwayat penyakit), dia sehat banget. Di antara kita semua, dia paling sehat," kata manajer BCL, Doddy.

Ashraf meninggal pada usia 40 tahun dan dikenal sebagai sosok yang menjaga pola makan serta kebugaran tubuh dengan olahraga Crossfit. Beberapa jam sebelum meninggal, Ashraf dikabarkan melakukan Crossfit di pusat kebugaran di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan.

Dikutip dari laman Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia (APKI), Crossfit adalah olahraga yang dipilih mereka yang berambisi memiliki tubuh atletis maupun kalangan pegiat olahraga kebugaran. Banyak pihak yang menganggap metode latihan ini adalah metode terbaik dan paling berhasil jika ingin memperoleh bentuk tubuh atletis dalam waktu yang singkat.

Bagaimana metode Crossfit?
Crossfit adalah program latihan yang menggabungkan dua unsur sistem aerobik dan anaerobik serta menekankan perpaduan latihan interval intensitas tinggi, angkat beban, senam dan disiplin lain dalam format serupa latihan sirkuit.

Latihan ini terkenal dengan pola yang keras dan ketat, contohnya dalam satu sesi latihan Anda akan diminta melakukan 100 push-up, 100 pull-up, 100 sit-up, dan 100 squat. Setiap hari, latihan yang akan dilakukan berbeda-beda, peralatan yang digunakan dalam metode latihan ini pun bersifat beraneka ragam, mulai dari peralatan kebugaran hingga ada yang menggunakan beban berat tubuh sendiri, tali tambang, bahkan ban mobil.

Setiap orang diberikan beban yang sama saat menajalankan latihan Crossfit, sistem ini lebih dikenal dengan one size fit all sehingga tidak ada perbedaan atau porsi latihan khusus bagi siapa pun yang menjalankan, baik pemula atau orang yang sudah berpengalaman.

Dalam metode Crossfit sendiri, jenis gerakan-gerakan yang dilakukan biasanya bersifat fungsional dan dilakukan dengan intensitas tinggi. Tujuannya adalah meningkatkan kekuatan otot, ketahanan jantung, dan fkelsibilitas tubuh.

Karena intensitasnya yang tinggi dan jadwal latihan yang ketat, hasil dari latihan dengan metode Crossfit lebih terlihat jelas sehingga sering dianggap metode yang paling berhasil. Namun, untuk dua alasan tersebut juga metode Crossfit diketahui merupakan metode latihan yang sangat rentan cedera.

Berikut beberapa hal yang perlu diketahui mengenai pola latihan Crossfit:

Melatih kekuatan otot dan stamina
Berbagai jenis gerakan dan variasi latihan yang dilakukan Crossfit membuat kontraksi terjadi pada semua bagian otot sehingga kekuatan otot tentunya akan meningkat dan bentuk otot akan terlihat semakin jelas. Intensitasnya yang tinggi juga melatih stamina tubuh. Misalkan, Anda yang sebelumnya hanya bisa melakukan push-up sebanyak 25 kali dalam satu menit, dua bulan selanjutnya bisa menyelesaikan 30 pus-up dalam waktu sama.

Bersemangat dan termotivasi
Pola latihan Crossfit biasanya dilakukan dengan membentuk suatu kelompok. Biasanya juga akan ada tantangan-tantangan yang diberikan pelatih kepada setiap peserta sehingga di antara mereka akan terjadi kompetisi. Kompetisi ini tentunya membuat latihan Crossfit yang sangat berat terasa lebih ringan dan menyenangkan. Dengan adanya kompetisi dan kerjasama antartim, para peserta akan lebih bersemangat dalam menjalankan latihan dan lebih termotivasi untuk mencapai tujuan.

Kedekatan emosional antar sesama grup
Seperti yang telah disebutkan diatas, pola latihan crossfit biasanya dilakukan dengan membentuk grup atau kelompok. Terbiasa bersama saat melakukan latihan biasanya membangun kedekatan emosional antar sesama anggota kelompok. Kedekatan ini tentunya akan sangat bermanfaat. Antar sesama anggota yang sedang berjuang untuk mencapai tujuan akan akan saling mengingatkan, saling menyemangati, dan memotivasi.

Tingkat cedera
Isu mengenai tingkat cedera yang tinggi pada pola latihan Crossfit sudah menjadi rahasia umum. Jenis latihan kebugaran yang cukup keras ini dianggap rentan menyebabkan cedera, terutama muskuloskeletal dan risiko rhabdomyolisis.

Tempo latihan yang cepat dan tekanan yang tinggi sering membuat para peserta terus memaksakan diri meskipun sebenarnya sudah kelelahan sehingga menyebabkan kerusakan otot akibat olahraga intensitas tinggi yang terlalu lama. Hal ini biasanya ditandai dengan air seni yang berwarna merah. Namun, hingga saat ini belum ada literatur yang membahas lebih lanjut mengenai hal tersebut.

Dari jurnal yang diterbitkan oleh National Strenght and Conditioning Association, dilakukan sebuah penelitian untuk mengetahui tingkat kejadian cedera pada pelaku Crossfit. Hasil pengumpulan data dari penelitian tersebut diketahui bahwa sebanyak 73,5 persen sampel menyatakan mengalami cedera saat melakukan latihan Crossfit.

Sementara itu, untuk cedera muskuloskeletal yang mendominasi adalah cedera pada bahu dan tulang belakang. Sedangkan untuk kejadian rhabdomyolisis, tidak ditemukan laporan pada penelitian ini. Disarankan bagi para pegiat olahraga kebugaran yang mengikuti pola latihan Crossfit untuk lebih memperhatikan kondisi tubuh agar terhindar dari cedera.

Pada tahapan awal sebelum memulai latihan, biasanya pelatih akan memberikan materi mengenai cara melakukan gerakan-gerakan dengan benar agar para peserta terhindar dari cedera. Sebaiknya, penjelasan tersebut dipahami dengan baik. Kemudian, saat tubuh sudah merasa sangat lelah, ada baiknya untuk tidak memaksakan diri untuk terus melanjutkan latihan.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT