Informasi Penyakit Jantung Bertebaran, Simak 5 Fakta Menurut Ahli
TEMPO.CO | 22/02/2020 07:30
Ilustrasi Serangan Jantung. thestar.com.my
Ilustrasi Serangan Jantung. thestar.com.my

TEMPO.CO, Jakarta - Informasi tentang kesehatan jantung berseliweran di antara masyarakat. Keterangan itu bisa Anda terima dari teman, keluarga jauh, hingga media sosial. Tidak jarang beberapa informasi itu ternyata hoax dan tidak tepat.

Konsultan Kardiologi Intervensi Rumah Sakit Awal Bros, Dasdo Antonius Sinaga mengingatkan penyakit jantung bisa menyerang siapa saja, berapapun umurnya, bahkan pada orang yang sudah menjaga pola konsumsi makanan, termasuk vegetarian. Dari sekian banyak informasi tentang penyakit jantung, simak 5 penjelasan Dasdo tentang penyakit jantung dalam keterangan pers yang diterima Tempo pada pada 19 Februari 2020.

1. Ada garis keturunan penyakit jantung pada keluarga saya, pasti saya akan terkena penyakit jantung.
Walaupun ada faktor risiko keluarga yang menderita penyakit jantung (faktor genetika atau faktor keturunan), ada beberapa hal yang bisa diupayakan untuk menurunkan risiko penyakit jantung secara signifikan. Beberapa caranya adalah dengan memiliki kebiasaan olah fisik yang aktif, banyak bergerak dan berolahraga.

Anda pun diminta untuk mengontrol kadar kolesterol dengan target LDL atau kolesterol jahat di bawah 70 mg/dL. Lalu bentuk pencegahan lain adalah dengan mengontrol pola makan dan menghindari makanan dengan kadar lemak tinggi. Selain itu, Anda pun diminta mengurangi konsumsi gula, mengontrol tekanan darah, serta menjaga berat tubuh ideal. Dua hal terakhir yang bisa Anda upayakan adalah mengontrol gula darah dan tentu saja tidak merokok.

2. Saya tidak perlu memeriksa kadar kolesterol sebelum usia 40-50 tahun.
The American Heart Association (asosiasi dokter jantung di Amerika) merekomendasikan setiap orang melakukan pengecekan kadar kolesterol per 5 tahun sejak usia 20 tahun, terutama jika ada faktor risiko penyakit jantung yang kuat pada keluarga seperti faktor keturunan.

Anak-anak dengan faktor genetik jantung, memiliki risiko yang lebih tinggi terjadi penyakit jantung di usia yang lebih lanjut. Jika mengetahui kadar kolesterol yang tinggi sejak awal, bisa dilakukan antisipasi dengan diet sehat rendah lemak dan rendah gula, dan berolahraga secara rutin dengan durasi 30-40 menit setiap kali berolahraga serta frekuensi 3 hingga 4 kali per pekan.

3. Minum kopi adalah kebiasaan yang buruk dan menyebabkan penyakit jantung.
Faktanya adalah kopi jika dikonsumsi dalam jumlah terbatas kurang dari 4 gelas per hari tidak memperburuk kesehatan, bahkan bisa berefek positif pada kesehatan. Yang berdampak buruk bagi tubuh adalah gula dan susu tinggi lemak yang dikonsumsi bersamaan dengan kopi. Akibatnya bisa meningkatkan kadar gula darah.

Selain itu, karena bersifat asam, kopi bisa menyebabkan masalah pada lambung, terutama pada orang-orang yang sensitif. Meningkatnya asam lambung bisa menyebabkan terjadinya nyeri ulu hati, sesak nafas hingga berdebar-debar yang gejalanya bisa menyerupai orang yang mengalami serangan jantung. Kopi tanpa gula (kopi pahit) yang diminum dalam porsi terbatas, yaitu 1-2 gelas per hari, tidak menyebabkan serangan jantung.

4. Penyempitan pembuluh darah hanya berakibat pada serangan jantung atau stroke
Jantung memompa darah ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah. Pembuluh darah ini tersebar dimulai dari pembuluh darah besar yaitu aorta hingga pembuluh darah yang lebih kecil menuju otak, pembuluh di tangan dan kaki. Pembuluh darah pada kaki juga bisa mengalami penyempitan. Gejalanya adalah nyeri atau pegal pada otot kaki saat berjalan.

Jika penyempitannya parah nyeri atau pegal kaki ini bahkan bisa terjadi pada saat istirahat. Kondisi ini disebut sebagai penyempitan pembuluh darah perifer (urat darah tepi) / peripheral arterial disease (PAD). Pasien diabetes dan hipertensi yang berisiko stroke dan serangan jantung, juga berisiko tinggi terjadi penyempitan pembuluh darah tepi.

5. Orang yang sudah terkena serangan jantung atau stroke dilarang berolahraga dan hanya boleh istirahat.
Ini adalah pandangan yang salah. Setelah mengalami serangan jantung, pasien jantung justru akan diminta segera mulai bergerak atau berolah fisik. Lakukan aktivitas fisik yang dianjurkan oleh dokter. Mulai dengan berjalan lambat hingga jalan cepat. Durasinya adalah selama 30-40 menit, 3-4 kali per pekan.

Jika fisik sudah lebih kuat, bisa berjalan cepat hingga berlari kecil. Olahraga lain yang dianjurkan adalah bersepeda, baik sepeda statis ataupun sepeda di jalanan. Penelitian membuktikan bahwa paska serangan jantung, penderita yang rajin berolahraga atau gerak tubuhnya aktif, bisa memperpanjang usia hidup. Pada saat berolahraga, jantung akan berdetak lebih cepat, sehingga bisa memompa darah lebih efisien, dan kesehatan pembuluh arteri juga lebih baik.

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT