Jaga Higienitas Fasilitas di Rumah Sakit dengan 6 Cara Ini
TEMPO.CO | 07/03/2020 15:50
Pekerja medis bertugas di ruang isolasi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kardinah di Tegal, Jawa Tengah, Selasa 3 Maret 2020. RSUD Kardinah merupakan salah satu rumah sakit rujukan bagi perawatan pasien terinfeksi virus Corona (Covid 19) di Provinsi Jawa Te
Pekerja medis bertugas di ruang isolasi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kardinah di Tegal, Jawa Tengah, Selasa 3 Maret 2020. RSUD Kardinah merupakan salah satu rumah sakit rujukan bagi perawatan pasien terinfeksi virus Corona (Covid 19) di Provinsi Jawa Tengah dengan menyediakan tiga ruang isolasi, tenaga medis dan peralatan khusus. ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah

TEMPO.CO, Jakarta - Merebaknya wabah virus corona sejak awal 2020 membuat situasi global terganggu. Kini, virus yang awalnya berasal dari Wuhan, Cina, sudah menyebar ke puluhan negara, termasuk Indonesia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan penyebaran SARS-CoV-2 atau virus yang menyebabkan COVID-19 terjadi dari orang ke orang melalui tetesan pernapasan yang disebabkan oleh batuk atau bersin dan kontak jarak dekat, atau dengan menyentuh permukaan yang terinfeksi lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut.

Permukaan ini diperkirakan dapat tetap terkontaminasi hingga beberapa hari bergantung pada tekstur permukaan, suhu udara, dan tingkat kelembaban dari lingkungan di sekitar sehingga prosedur pembersihan dan disinfeksi lingkungan harus dilakukan secara konsisten dan tepat.

Kesiapan rumah sakit dan tenaga medis menjadi tonggak utama dalam mengobati dan merawat pasien positif maupun terduga corona. Tidak hanya itu, rumah sakit juga memiliki peran sangat penting dalam mencegah risiko penyebaran virus corona di lingkungan rumah sakit.

Pencegahan penularan penyakit menular seperti virus corona adalah aspek penting bagi lembaga kesehatan seperti rumah sakit dalam memberikan pelayanan kesehatan yang aman mengingat tingkat kerentanan yang tinggi penularan terjadi antara anggota keluarga atau antara pasien dan pekerja rumah sakit.

Sebagaimana panduan yang diberikan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), petugas kesehatan harus segera mengisolasi pasien dengan gejala COVID-19 atau infeksi pernapasan lain. Pasien harus diberikan masker bedah sampai ditempatkan di Ruang Isolasi Infeksi (Airborne Infection Isolation Room atau AIIR).

Ruang isolasi infeksi dirancang dan dioperasikan untuk memastikan tekanan ruangan dijaga pada tekanan negatif untuk melindungi staf klinis, pasien lain dan pengunjung rumah sakit dari paparan patogen seperti COVID-19 melalui jalur udara. Oleh karena itu, sangat penting bagi manajemen untuk menerapkan prosedur yang ketat dalam memastikan higienitas fasilitas kesehatannya dan memanfaatkan teknologi untuk mengantisipasi kelalaian manusia yang berisiko terhadap kesehatan banyak orang.

Schneider Electric membagi tips menjaga higienitas lingkungan rumah sakit untuk mencegah risiko penyebaran wabah virus corona yang belakangan ini menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat global. Pihak manajemen rumah sakit dapat menerapkan enam langkah ini untuk memastikan higienitas fasilitas kesehatan.

Menjaga sirkulasi udara berjalan dengan baik
Meskipun virus ini sebagian besar dianggap ditularkan melalui tetesan (pernapasan), masih belum jelas tentang berapa lama COVID-19 dapat bertahan di udara atau di permukaan yang terkontaminasi. Menurut The American Society of Heating, Refrigerating and Air-Conditioning Engineers (ASHRAE), tindakan pencegahan harus dilakukan untuk memastikan volume yang tinggi dari laju aliran udara dapat tetap dipertahankan.

Saat tetesan dari batuk atau bersin menguap dan mengering, mereka memiliki potensi untuk tetap berada di udara dan akan diangkut melalui sirkulasi udara. Peningkatan sirkulasi udara bersih akan membantu mengurangi infeksi silang dari partikel-partikel ini.

Sangat penting bahwa laju sirkulasi udara ini dikontrol secara reguler. Tidak hanya laju sirkulasi udara di Ruang Isolasi Infeksi, ruang rawat inap umum dan ruang rawat jalan juga perlu untuk dipastikan sistem sirkulasi udaranya untuk memastikan tersedianya udara bersih. Pemanfaatan teknologi seperti EcoStruxure Building Operation dalam pengoperasian sistem ventilasi yang benar dengan sistem otomasi dapat membantu mencapai perubahan udara dan tekanan yang dibutuhkan.

Pertahankan tekanan ruangan dalam skala negatif
Sangat penting untuk memastikan aliran udara dalam vektor yang benar. Ruang Isolasi Infeksi harus dipertahankan pada tekanan negatif terhadap area sekitarnya dan perlu dilakukan pemantauan dan pencatatan secara intensif. Beberapa kasus infeksi telah terjadi ketika tekanan ruangan menjadi terbalik akibat dari durasi dan frekuensi terbukanya pintu ruangan.

Pedoman The American Institute of Architects merekomendasikan tekanan negatif minimal 2,5 Pa. Di Inggris, tekanan koridor luar berada pada tekanan positif 10 Pa.

Mengawasi dan memperketat akses ke Ruang Isolasi Infeksi
Akses kontrol pintu juga perlu dikelola dan dikendalikan untuk:
*Mencatat siapa yang telah memiliki akses ke ruangan, biasanya untuk dokter dan staf perawat (HCP) yang ditugaskan untuk pasien, untuk membatasi jumlah staf yang melakukan kontak dengan pasien.
*Untuk memberikan ruang penyangga udara (airlock) menjalankan fungsinya untuk mempertahankan tekanan.

Kontrol lalu lintas ke Ruang Isolasi Infeksi dapat dilakukan dengan menerapkan sistem akses kontrol pintu yang lebih tinggi atau ketat, seperti dengan pemanfaatan EcoStruxure Security Expert. Dengan sistem akses kontrol pintu, maka hanya perawat khusus yang berwenang yang dapat mengakses Ruang Isolasi Infeksi sehingga dapat membantu membatasi jumlah petugas kesehatan yang terpapar.

Sistem akses kontrol pintu juga perlu ditunjang dengan sistem lokasi real-time, sehingga rekam jejak petugas kesehatan yang memasuki ruangan dan di mana mereka kemudian bepergian akan sangat terlacak secara detil. Airlock juga penting untuk menyediakan ruang bersih dalam (ante room), di mana petugas kesehatan dapat mengenakan alat pelindung diri (APD) mereka. Petugas kesehatan juga harus memastikan kedua pintu tersebut tidak terbuka pada saat yang bersamaan, maka tekanan ruangan tidak akan terpengaruh.

Memantau suhu udara dan kelembaban ruangan
Fungsi HVAC (heating, ventilation, dan air-conditioning) atau sering dikenal dengan istilah sistem tata udara adalah untuk menyediakan kondisi yang nyaman bagi pasien, namun hal ini juga berdampak pada pertumbuhan dan kelangsungan hidup bakteri dan virus.

Saat ini memang belum dapat dipastikan dalam suhu udara dan kelembaban seperti apa COVID-19 ini bertransmisi atau hilang. Namun, sebagai contoh Memarzadeh's (2011) "Engineering Perspective on The Envrioment of Care and Health Care-Associated Infections" untuk ASHE menyimpulkan bahwa suhu dan kelembaban relatif mempengaruhi transmisi.

Penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kelembaban relatif rata-rata dari 35 persen menjadi 50 persen dapat mempercepat penghapusan virus influenza A yang menular dan membantu mencegah atau mengurangi infeksi. Ruang Isolasi Infeksi harus dilengkapi dengan pemantauan suhu dan kelembaban relatif.

Pemanfaatan sensor Internet of Things (IoT) seperti EcoStruxure Building Advisor dapat menyediakan pemantauan ruangan dari parameter ini dan memberikan analisis yang lebih rinci untuk tim fasilitas dan pengendalian infeksi untuk mengidentifikasi area di mana kelembaban mungkin berdampak pada bertumbuhnya bakteri (kelembaban tinggi) atau virus (kelembaban rendah).

Memastikan sistem filtrasi udara berjalan dengan baik dan status udara bersih
Seperti disebutkan, ukuran partikel virus ini sangat kecil dan filtrasi yang sesuai diperlukan untuk memastikan mereka tidak hanya dipindahkan dari satu area ke area lain. Udara dari Ruang Isolasi Infeksi seharusnya tidak disirkulasi ulang tetapi langsung dikeluarkan dan disaring di luar ruangan.

Filter High-Efficiency Particle Air (HEPA) diperlukan untuk menghilangkan partikel yang sangat kecil. Untuk layanan kesehatan, mereka perlu mengeluarkan 0,3 μm atau lebih besar dan dimonitor serta dipelihara. Tim fasilitas harus memastikan mereka mengganti filter ini sesuai kebutuhan berdasarkan status kotor dari sensor yang memantau penurunan tekanan pada filter. ASHRAE juga menyediakan panduan untuk menerapkan prosedur keselamatan personel saat mengganti filter, tergantung pada jenis organisme dan kontaminan lain yang dikumpulkan pada media yang digunakan, penilaian risiko harus dilakukan.

Memastikan ketersediaan suplai listrik 24 jam selama 7 hari
Memastikan peralatan kesehatan bekerja terus menerus sangat penting untuk keselamatan pasien dan staf. Pemanfaatan teknologi dalam memastikan keandalan listrik di rumah sakit sangat krusial karena berdampak langsung terhadap keselamatan pasien. Teknologi analitik seperti EcoStruxure Power dapat membantu memprediksi adanya anomali sebelum terjadinya gangguan fungsi peralatan listrik sehingga rumah sakit dapat beroperasi secara optimal.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT